JURNALPOSMEDIA.COM – Kampung Cibolang Kaler, Desa Mulyasari, Kecamatan Mande, memiliki potensi ekonomi melalui produksi kicimpring. Hampir setiap RT di kampung tersebut memiliki produsen kicimpring yang telah bertahan selama puluhan tahun.
Melimpahnya pasokan singkong mendorong masyarakat mengolahnya menjadi berbagai makanan lokal. Salah satunya adalah kicimpring yang menjadi produk khas Kampung Cibolang Kaler.
Produk kicimpring dari Cibolang Kaler bahkan telah didistribusikan hingga ke luar kota, seperti Karawang. Penjualannya relatif tidak pernah sepi karena menjadi makanan khas lokal yang terus diminati.
Kicimpring Jadi Andalan Ekonomi Perempuan
Sebagian besar kegiatan produksi kicimpring dilakukan oleh perempuan, terutama ibu-ibu setempat. Bagi mereka yang tidak bekerja sebagai petani atau buruh pabrik, produksi kicimpring menjadi pilihan memperoleh penghasilan.
Keterlibatan perempuan dalam usaha tersebut dilatarbelakangi kondisi ekonomi keluarga yang beragam. Sebagian bekerja karena suami tidak memiliki pekerjaan, sedangkan lainnya mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Produksi kicimpring juga dilakukan sebagai usaha keluarga. Beberapa produsen melibatkan anggota keluarga dalam proses produksi hingga distribusi kepada pembeli.
Salah seorang produsen kicimpring, Imas, memiliki usaha produksi yang dikelola bersama keluarganya. Usaha tersebut menjadi salah satu sumber penghasilan bagi keluarganya.
“Keuntungan dari penjualan per harinya misal modal Rp200 ribu dan kembalinya bisa Rp250 ribu,” ujar Imas saat diwawancarai di rumah produksinya.
Harga kicimpring di Kampung Cibolang Kaler juga relatif stabil. Menurut Imas, harga tersebut tidak mengalami perubahan sejak usaha tersebut berjalan.
“Harganya dari 2014 tetap sama, Rp2.500 per ikat isi 10 keping,” lanjut Imas.
Perempuan Bekerja, Beban Rumah Tangga Tetap Berjalan
Aktivitas ekonomi perempuan di Kampung Cibolang Kaler berjalan bersamaan dengan kewajiban mengurus rumah dan keluarga. Sebagian ibu tetap mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan rumah setelah menyelesaikan aktivitas produksi.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya beban ganda ketika perempuan menjalankan banyak peran sekaligus. Beban tersebut meliputi bekerja, mengurus rumah, mengasuh anak, memasak, dan mendampingi anak belajar.
Realitas pembagian peran dalam keluarga juga menjadi perhatian warga Kampung Cibolang Kaler. Salah seorang warga menggambarkan kondisi ketika perempuan bekerja, sementara pengasuhan anak diserahkan kepada anggota keluarga lain.
“Di sini mah, Neng, kebanyakan dunia terbalik. Istri kerja, anak dititipin ke neneknya, suaminya gitu weh nongkrong,” ujar salah seorang warga Kampung Cibolang Kaler.
Pernyataan tersebut menggambarkan persoalan pembagian peran dalam sebagian keluarga. Perempuan yang bekerja tetap menghadapi pekerjaan rumah dan pengasuhan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Beban perempuan tidak hanya berasal dari pekerjaan yang terlihat. Mereka juga menghadapi mental load, yaitu beban mengingat berbagai kebutuhan keluarga setiap hari.
Kebutuhan tersebut dapat berupa jadwal imunisasi, perlengkapan sekolah, bekal, obat, hingga pekerjaan rumah. Ketika berbagai tanggung jawab dipikul sendiri, perempuan dapat mengalami kelelahan dan kekurangan waktu beristirahat.
Menjaga Ekonomi dan Membangun Keluarga yang Setara
Potensi kicimpring menunjukkan bahwa perempuan memiliki peran penting dalam perekonomian keluarga. Usaha tersebut memberikan kesempatan bagi ibu-ibu memperoleh penghasilan dari lingkungan tempat tinggalnya.
Namun, aktivitas ekonomi perlu berjalan beriringan dengan pembagian peran dalam keluarga. Perempuan tetap membutuhkan dukungan agar dapat bekerja tanpa menanggung seluruh pekerjaan rumah dan pengasuhan seorang diri.
Pembagian peran yang lebih seimbang dapat memberikan ruang bagi perempuan untuk beristirahat dan berkembang. Materi edukasi menegaskan bahwa perempuan juga memiliki ruang untuk belajar, bekerja, berorganisasi, beristirahat, dan mengembangkan potensi.
Langkah tersebut dapat dimulai dari pembagian tugas dan pengambilan keputusan bersama. Ayah dan ibu juga perlu saling menghargai pekerjaan serta memberikan waktu istirahat bagi pasangan.
KKN Kelompok 07 DRPPAD UIN Bandung Menekan Upaya dalam Mengurangi Beban Ganda Seorang Perempuan
Dalam hal ini, persoalan beban ganda perempuan menjadi perhatian. KKN Kelompok 07 Desa Ramah Anak, Peduli Perempuan, dan Disabilitas (DRPPAD) UIN Bandung. Mahasiswa menggelar edukasi parenting guna memahami pembagian peran dalam keluarga, pada Senin, 3 Agustus 2026.
Kegiatan tersebut mengajak orang tua di Kampung Cibolang Kaler. Edukasi bertajuk “Parenting adalah Tanggung Jawab Bersama” menjadi bagian dari program KKN tersebut.
Materi edukasi menekankan bahwa parenting merupakan proses merawat, mendidik, melindungi, dan mendampingi anak. Parenting bukan hanya tentang membesarkan anak, tetapi juga membutuhkan kerja sama ayah dan ibu.
Peserta diajak menonton video The Impossible Dream sebagai pemantik diskusi. Setelahnya, peserta merefleksikan pembagian pekerjaan dalam keluarga dan pihak yang paling banyak menjalankannya.
Ayah juga didorong terlibat langsung dalam pengasuhan anak. Bentuknya dapat berupa menemani belajar, mengantar sekolah, memasak, mencuci piring, bermain, dan merawat anak saat sakit.
Keterlibatan ayah bukan sekadar membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah. Hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab bersama sebagai orang tua.
Melalui edukasi tersebut, KKN Kelompok 07 DRPPAD UIN Bandung mendorong keluarga membangun pola pengasuhan yang lebih setara. Upaya tersebut diharapkan mendukung terwujudnya keluarga yang ramah anak dan peduli terhadap perempuan.
Potensi kicimpring dapat terus berkembang sebagai sumber penghasilan masyarakat. Di saat yang sama, pengasuhan anak perlu menjadi tanggung jawab bersama agar perempuan memiliki ruang untuk bekerja dan berkembang.
Keluarga yang ramah anak bukan hanya memberikan ruang bagi anak untuk tumbuh dan berkembang. Keluarga juga perlu dibangun melalui kerja sama, saling menghargai, saling mendukung, dan berbagi tanggung jawab.















