Fri, 28 August 2026

Dari Sampah Menjadi Paving Block: KKN Orda Mitra Pemda Garut Inisiasi Pemanfaatan Limbah Plastik di Desa Barusari

Reporter: Hanung Wahyuningsih (Kontributor) | Redaktur: Sahara Putri Amiliana | Dibaca 18 kali

Sumber foto: Hanung Wahyuningsih (Kontributor)

JURNALPOSMEDIA.COM – Mahasiswa KKN Kelompok 02 Orda Mitra Pemda Garut bersama Kelompok Muda Berkarya Desa Barusari menginisiasi pemanfaatan sampah plastik menjadi paving block di RW 05 Kampung Kiarapayung, Desa Barusari, Kabupaten Garut. Program ini hadir sebagai solusi dari persoalan pengolahan limbah sampah plastik.

Berawal dari Keresahan dan Aspirasi Warga Kiarapayung

Sampah merupakan salah satu persoalan lingkungan yang hingga kini masih membutuhkan perhatian dan pengelolaan secara berkelanjutan. Keberadaannya yang terus bertambah membuat masyarakat perlu mencari cara agar sampah tidak hanya berakhir sebagai limbah, tetapi juga dapat dimanfaatkan kembali.

Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Akmal Fauzan, menjelaskan bahwa pada awalnya kelompok 02 memiliki gagasan untuk melakukan pembakaran sampah. Namun, setelah berdiskusi lebih lanjut bersama warga RW 03 Kampung Kiarapayung dan khususnya dengan Ketua Muda Berkarya Desa Barusari, Hasanuddin, muncul gagasan untuk mengolah sampah plastik menjadi paving block.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui inisiatif pengolahan sampah menjadi paving block. Langkah ini menjadi salah satu bentuk upaya untuk mendorong masyarakat agar lebih sadar terhadap pengelolaan sampah sekaligus melihat kemungkinan pemanfaatannya kembali.

Menurutnya, pemanfaatan sampah menjadi barang bernilai yang diharapkan dapat membuka kesadaran masyarakat bahwa limbah juga dapat memberikan manfaat ekonomi.

Mengubah Cara Pandang terhadap Sampah

Sampah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki manfaat kemudian diarahkan untuk dapat menjadi sesuatu yang lebih berguna. Proses tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi ruang untuk menghadirkan gagasan dan inovasi di tingkat masyarakat.

Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat tidak hanya membawa program, tetapi juga membuka ruang untuk bersama-sama mencari cara menghadapi persoalan yang ada di lingkungan sekitar.

Bagi masyarakat, pengelolaan sampah membutuhkan kebiasaan dan keterlibatan bersama. Karena itu, pemanfaatan sampah menjadi paving block diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif yang memperkenalkan cara pandang baru terhadap limbah.

Proses Pengolahan Sampah Plastik Menjadi Paving Block

Ketua Pelaksana Program, Muhammad Akmal Fauzan menjelaskan bahwa proses pembuatan paving block ini dimulai dari pengumpulan sampah plastik, baik bekas kemasan minuman gelas plastik maupun bungkus jajanan. Selain sampah plastik, tim juga mengumpulkan oli bekas yang berfungsi sebagai bahan perekat sekaligus pelarut dalam campuran.

Tahap berikutnya adalah pembakaran sampah plastik di dalam tong, dengan takaran sekitar dua kilogram sampah untuk setiap kali proses, kemudian dicampur dengan oli bekas sebanyak kurang lebih 250 mililiter. Campuran tersebut diaduk secara terus-menerus hingga teksturnya menyerupai aspal cair.

Setelah tekstur yang diinginkan tercapai, pasir halus ditambahkan untuk memadatkan campuran. Adonan kemudian dituangkan ke dalam cetakan yang sebelumnya sudah dilumuri oli agar hasil cetakan tidak lengket dan mudah dilepaskan. Cetakan tersebut selanjutnya ditekan dan didiamkan selama tiga menit, sebelum direndam dalam air selama tiga menit berikutnya untuk mempercepat proses pendinginan.

Setelah dingin, paving block dikeluarkan dari cetakan dan dibiarkan mengering secara alami hingga benar-benar siap digunakan. Seluruh proses ini dilakukan secara sederhana dan memanfaatkan alat-alat yang mudah ditemukan di lingkungan warga.

Uji Coba dan Potensi Ekonomi Paving Block

Untuk memastikan kualitas produk, tim pelaksana melakukan beberapa kali uji coba terhadap kekuatan paving block, termasuk dengan cara melemparkannya ke lantai. Hasilnya, paving block yang dihasilkan terbukti cukup kuat dan tidak mudah pecah meski tanpa menggunakan campuran semen seperti paving block pada umumnya.

Menurut Akmal, temuan ini menjadi salah satu keunggulan tersendiri karena bahan baku utamanya berasal dari limbah yang selama ini kurang dimanfaatkan.

Selain untuk kebutuhan penggunaan di lingkungan kampung, paving block berbahan dasar sampah plastik ini juga dinilai memiliki potensi untuk dijual. Dengan proses produksi yang relatif murah karena mengandalkan bahan bekas, produk ini dipandang dapat menjadi sumber pemasukan tambahan bagi warga apabila dikelola secara berkelanjutan.

Harapan Keberlanjutan Usaha Paving Block Kampung Kiarapayung

Inisiatif ini sendiri lahir dari hasil diskusi antara Anggota Kelompok 02 KKN Orda Mitra Pemda Garut dan Ketua Muda Berkarya Desa Barusari, Hasanuddin, yang mengusulkan alternatif pengolahan sampah selain pembakaran. Kolaborasi antara mahasiswa dan pemuda desa ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam merealisasikan gagasan pemanfaatan limbah plastik tersebut.

Ke depannya, Akmal berharap produksi paving block dari sampah plastik ini dapat terus berjalan dan berkembang menjadi usaha milik warga Kampung Kiarapayung. Ia menekankan bahwa metode ini berbeda dari kebiasaan umum, di mana paving block biasanya dibuat dari campuran pasir dan semen yang dicor.

“Harapan dari kelompok kami, paving block itu produksinya berjalan terus. Dan mudah-mudahan menjadi usaha milik kampung ini, yang memang tidak biasa. Mudah-mudahan harapan saya bisa lebih sukses lagi dalam mengelola paving block ini,” ujar Akmal pada Kamis (23/8/2026).

Dengan pendekatan yang lebih ramah lingkungan dan memanfaatkan limbah, harapannya usaha ini dapat semakin dikenal dan dikelola secara lebih baik oleh masyarakat setempat, sekaligus menjadi contoh nyata pengelolaan sampah yang produktif di tingkat kampung.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama