Sun, 30 August 2026

PBAK dan Sampah yang Tak Ikut Pulang

Reporter: Ine Sintiabela | Redaktur: Itsna Nursofiatun Ni'mah | Dibaca 118 kali

Sumber foto: Aqila Naila Fitri/Jurnalposmedia

JURNALPOSMEDIA.COM– Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) selesai, mahasiswa baru pulang. Namun, sampah masih tertinggal di sejumlah sudut kampus.

Selama PBAK 2026, UIN Bandung mengerahkan lebih dari 40 petugas kebersihan. Pengangkutan sampah yang biasanya dilakukan satu kali sehari meningkat hingga tiga kali karena volume sampah bertambah selama kegiatan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa PBAK bukan hanya menghadirkan ribuan mahasiswa baru dan berbagai aktivitas kampus, tetapi juga menghasilkan konsekuensi lingkungan yang perlu dikelola.

Persoalannya menjadi menarik karena PBAK 2026 mengusung tema “Merawat Harmoni, Melestarikan Jagat, Mewujudkan Peradaban Dunia Berbasis Rahmatan lil ‘Alamin”. Kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu pesan yang dibawa dalam pengenalan mahasiswa baru.

Pesan tersebut semestinya tidak berhenti pada materi atau slogan. Lingkungan tempat PBAK berlangsung juga menjadi ruang pertama bagi mahasiswa baru untuk melihat bagaimana nilai tersebut diterapkan.

Di sisi lain, membebankan seluruh persoalan sampah kepada mahasiswa juga tidak menyelesaikan masalah. Sebagian mahasiswa memang masih meninggalkan sampah, tetapi sebagian lainnya telah membuang sampah pada tempat yang disediakan.

Karena itu, evaluasi PBAK perlu melihat persoalan dari sisi tata kelola. Dalam kegiatan yang melibatkan ribuan orang, pengelolaan sampah seharusnya dirancang sejak awal: bagaimana sampah dikurangi, di mana tempat sampah ditempatkan, bagaimana pemilahan dilakukan, dan bagaimana sampah diangkut setelah kegiatan. Sebab, dari tahun ke tahun, persoalan sampah selama PBAK masih sama.

Kebutuhan itu semakin relevan ketika persoalan sampah di Indonesia masih besar. Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup mencatat hingga akhir 2025 hanya sekitar 25 persen sampah nasional yang terkelola. Sekitar 75 persen lainnya, atau 105.483 ton per hari, belum tertangani secara memadai.

Kampus memang bukan penyebab utama persoalan tersebut. Namun, kampus merupakan ruang pendidikan sekaligus ruang publik. Karena itu, kebiasaan mengelola sampah seharusnya tidak hanya dibicarakan sebagai tanggung jawab petugas kebersihan, tetapi menjadi bagian dari budaya warga kampus.

UIN Bandung sendiri telah membawa isu lingkungan dalam PBAK sebelumnya. Pada 2025, kampus mengangkat tema ekoteologi dan menyebut penggunaan tumbler serta pengolahan limbah sebagai bagian dari praktik kepedulian lingkungan.

Artinya, persoalannya bukan kekurangan pesan tentang kepedulian lingkungan. Yang perlu diperkuat adalah konsistensi antara pesan, perilaku, dan pengelolaan kegiatan.

PBAK dapat menjadi momentum untuk mengukur kembali hal tersebut. Keberhasilan kegiatan tidak cukup dilihat dari jumlah peserta, kelancaran acara, atau kemeriahan rangkaian kegiatan. Cara kegiatan mengelola sampah yang dihasilkannya juga layak menjadi bagian dari evaluasi.

Sebab mahasiswa baru tidak hanya belajar dari apa yang disampaikan di atas panggung. Mereka juga belajar dari apa yang mereka lihat setelah acara berakhir.

PBAK boleh selesai. Mahasiswa boleh pulang. Tetapi sampah yang tertinggal seharusnya menjadi pengingat bahwa membangun budaya peduli lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar tema, ia membutuhkan kebiasaan dan sistem yang berjalan.

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama