Sun, 17 May 2026

Dema FEBI UIN Bandung Gelar Aksi September Hitam: Merawat Ingatan Kelam Pelanggaran HAM

Reporter: DILASTI ALMAIDAH PUTRI & SAHARA PUTRI AMILIANA | Redaktur: ANGGIA ANANDA SAFITRI | Dibaca 946 kali

(Sumber foto: Sahara Putri Amiliana/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM – Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Fakultas Ekonomi Bisnis Islam UIN Bandung menggelar aksi September Hitam. Berkonsep merawat ingatan kelamnya pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), aksi ini diselenggarakan di Kampus II UIN Bandung, pada Kamis (25/9/2025).

Kegiatan aksi September Hitam ini merupakan sebuah sikap menolak lupa sebagai masyarakat, khususnya yang merupakan agent of change dan wakil sosial dari masyarakat untuk tidak mengulang kembali sejarah kelam, yang menghilangkan teman-teman, dibunuh, dan dilindas seperti kasus Affan kemarin.

Aksi September Hitam tidak hanya untuk mahasiswa UIN, melainkan terbuka untuk umum. Gerakan ini dianggap sebagai milik semua orang yang menolak lupa, sehingga semakin luas keterlibatan publik, semakin besar pula tekanan terhadap negara untuk menghentikan budaya impunitas.

Kepala Departemen Kajian dan Aksi Strategi, Muhammad Farhan Gymnastiar menjelaskan, sejumlah korban pelanggaran HAM disebut sebagai simbol perjuangan. Diantaranya Munir, aktivis HAM yang wafat pada 2004, serta Wiji Thukul, penyair yang hingga kini keberadannya masih misterius.

“Untuk mengenang para korban, kita harus tetap melakukan aksi kamisan seperti ini, kita harus tetap melakukan satu kesatuan sebagai warga sipil. Memang kita kecil, tetapi jika kita berhimpun, berkumpul maka akan mengalahkan satu kekuatan yang besar,” ungkapnya pada Kamis (25/9/2025).

Ia menjelaskan, upaya menjaga agar suara keluarga korban tetap terdengar sepanjang tahun dapat dilakukan dengan terus bersuara, tidak hanya saat momentum September. Bentuknya bisa melalui tulisan, diskusi publik, podcast, mural, hingga musik sebagai media penyampaian pesan.

“Strategi edukasi publik soal pelanggaran HAM dan September Hitam dinilai efektif melalui pemanfaatan media sosial seperti Instagram, Facebook, TikTok, maupun WhatsApp. Mahasiswa sebagai generasi muda dapat membuat dan menyebarkan konten berupa video, foto, atau tulisan untuk menyadarkan masyarakat yang belum tergerak. Hal ini penting karena isu-isu semacam itu jarang diberitakan di televisi,” ungkapnya.

Salah seorang peserta aksi, Adi Priana menjelaskan, keikutsertaannya dalam aksi September Hitam dilatarbelakangi rasa empati terhadap aksi-aksi terdahulu yang telah meninggalkan jejak tanpa kabar.

“Justru, ini menjadi dorongan bagi kita semua, bahwasannya negara ini pernah di perjuangkan keadilan tetapi tidak pernah dilibatkan oleh pemerintah dan malah dibungkam. Jadi, saya mendorong kepada teman-teman saya yang di manapun itu untuk segera tergerak hatinya untuk ikut menyuarakan dan mengingat kembali sejarah yang terjadi pada ‘September Hitam’ ini,” ucapnya.

Adi menjelaskan, kondisinya disaat sekarang ini masih belum terealisasi apa yang telah di rancang undang-undangnya. Sehingga September Hitam ini terus terjadi setiap tahun, karena HAM masih belum terealisasi. Jadi, ia harap kepada pejabat-pejabat yang merancang undang-undang tersebut agar merealisasikan, dan kepada para aparat agar menegakkan HAM di negara ini.

“Kepada masyarakat, kita ini hidup di negara Indonesia, hidup di negara demokrasi. Kalau misalnya masyarakat tidak aware kepada HAM ini, justru kita ini menjadi pijakan pemerintah untuk dibodoh-bodohi. Kalau kita tidak bergerak untuk terus menyuarakan HAM ini, maka pemerintah menjadi semakin menggila,” jelasnya.

Adi berharap pemerintah benar-benar mendengar suara rakyat dan merealisasikan apa yang disuarakan, bukan hanya diam ketika hak asasi manusia dirampas, tetapi tetap menegakkannya secara nyata.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama