JURNALPOSMEDIA.COM – Sepanjang Agustus 2026, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan terus meluas hingga saat ini. Kabut asap yang semakin tebal mengganggu aktivitas warga hingga sekolah diliburkan, bahkan berimbas pada negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Peristiwa ini kembali menimbulkan pertanyaan tentang mengapa karhutla terus berulang setiap tahunnya.
Kebakaran tersebut juga mengancam kehidupan satwa liar dan mengganggu sumber makanan mereka. Beberapa orangutan Kalimantan ditemukan di perkebunan warga di Kalimantan Timur dan Tengah. Sementara itu, satwa lainnya ditemukan dalam kondisi mati terpanggang, seperti trenggiling dan ular yang menjadi salah satu jenis satwa yang paling sering ditemukan mati akibat kebakaran.
Berdasarkan penelitian Center for International Forestry Research atau Pusat Penelitian Kehutanan Internasional (Cifor), hutan Kalimantan Barat menjadi habitat penting bagi spesies kunci, seperti orangutan Kalimantan, bekantan, beruang madu, dan predator langka, seperti macan dahan borneo.
Hal ini menunjukkan bahwa wilayah ini sangat penting untuk keberlangsungan hidup mereka. Sebagian besar apa yang terdapat di dalamnya merupakan kebutuhan dasar mereka untuk bertahan hidup, seperti sumber makanan, tempat berlindung, serta jalur jelajah satwa.
Dilansir dari Kompas.com, karhutla juga terjadi di kawasan Taman Nasional Way Kambas di Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, yang masih belum sepenuhnya padam sejak Jumat (21/08/2026) siang hingga Sabtu. Area yang terbakar diperkirakan mencapai 673,4 hektare lahan. Malamnya, api berhasil dipadamkan dengan 250 personel gabungan dan masih menyisiri area untuk pembasahan.
Meski menghanguskan ratusan hektare kawasan konservasi, karhutla ini tidak berdampak secara langsung pada satwa liar seperti gajah dan badak Sumatra. Namun, dampaknya dapat mengancam potensi kerusakan rantai makanan dan habitat yang dilindungi serta satwa juga berpotensi keluar kawasan jika kebakaran terus berulang.
Dari peristiwa karhutla yang terus berulang, musim kemarau memang merupakan salah satu faktor yang menjadikan hutan dan lahan lebih mudah terbakar karena membuat vegetasi kering dan tanah lembab menurun drastis, tetapi hal tersebut bukan satu-satunya faktor penyebab kebakaran terus terjadi.
Tata kelola perizinan yang membuat hutan dan lahan gambut dapat dengan mudah dialihfungsikan tanpa aturan yang jelas juga merupakan salah satu penyebab lainnya yang saling memperparah satu sama lain. Tidak cukup hanya dengan melakukan modifikasi cuaca sesaat, tetapi pemerintah juga harus melakukan pengawasan ketat terhadap tata kelola perizinan hutan agar tidak ada pihak yang memanfaatkannya untuk kepentingan lain.
Pemerintah harus berani mengevaluasi izin konsesi dan menuntut korporasi terkait untuk bertanggung jawab memulihkan ekosistem yang rusak. Jadi, dengan modifikasi cuaca (mitigasi bencana), pengawasan dan penegakan aturan pembukaan lahan jika dilakukan secara efektif dapat mencegah risiko terjadinya karhutla.
Jika pemadaman membutuhkan ratusan orang dan sumber daya yang besar, bukankah pencegahan juga seharusnya mendapat perhatian yang sama besarnya? Maka dari itu, pemerintah perlu menyadari bahwa dampak yang ditimbulkan bukan hanya penurunan kualitas udara, melainkan juga rusaknya ekosistem dan musnahnya flora dan fauna yang hidup di hutan, serta berdampak pada ruang hidup dan kesehatan masyarakat.
















