Sat, 22 August 2026

Banjir Rob Berulang, Ekonomi dan Lingkungan Warga Desa Pantai Sederhana Terdampak

Reporter: Fitriyanti Puspita Dewi | Redaktur: Nida Rasya Kania | Dibaca 15 kali

Sumber foto: Pinterest

JURNALPOSMEDIA.COM- Banjir yang disebabkan genangan air laut yang naik ke daratan (rob) menjadi salah satu persoalan yang terus dihadapi masyarakat pesisir Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Intensitas banjir yang sebelumnya hanya terjadi sekitar satu kali dalam setahun kini dirasakan semakin sering. Pada 2026, warga menyebut banjir rob dapat terjadi dua hingga tiga kali dalam sebulan.

Salah satu warga Desa Pantai Sederhana, Caca (20), mengatakan bahwa frekuensi banjir mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya banjir umumnya terjadi pada akhir tahun, kini rob dapat datang hampir setiap bulan.

“Tahun-tahun sebelumnya hanya satu tahun sekali dan hanya di bulan besar seperti bulan Desember akhir tahun. Tapi 2026 banjir setiap bulan, hampir satu bulan itu dua sampai tiga kali banjir untuk saat ini,” ujar Caca saat diwawancarai mahasiswa KKN Orda Bekasi.

Menurut Caca, waktu terjadinya rob juga sulit diprediksi karena air laut dapat naik secara tiba-tiba. Kondisi tersebut membuat warga harus selalu bersiap menghadapi genangan yang dapat mencapai sekitar 80 sentimeter hingga satu meter dari permukaan tanah.

Banjir rob kemudian berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat. Akses jalan menjadi sulit dilalui, sementara kendaraan warga berisiko mengalami kerusakan akibat terkena air asin. Rumah warga juga tidak luput dari dampak genangan. Keramik dapat mengalami keretakan atau terangkat, sedangkan barang-barang yang terkena air asin dalam waktu lama rentan mengalami karat.

Warga RW 04 Desa Pantai Sederhana, Moh Rizky (19) mengatakan rob juga menghambat aktivitas ekonomi dan pendidikan masyarakat. Kondisi tersebut semakin terasa karena sebagian besar warga menggantungkan mata pencaharian pada tambak.

“Rob cukup mengganggu aktivitas warga. Beberapa pekerjaan warga dapat terhambat, dan biasanya sekolah akan libur beberapa hari,” kata Rizky saat diwawancarai.

Selain mengganggu aktivitas warga, banjir rob juga dapat memengaruhi hasil tambak. Ketika air terlalu tinggi, ikan yang berada di tambak berpotensi terbawa keluar sehingga menyebabkan kerugian bagi pemilik tambak. Kondisi ini menambah tekanan ekonomi masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan atau mengandalkan hasil tambak dan laut.

Persoalan ekonomi tersebut turut dipengaruhi oleh kenaikan harga kebutuhan pokok yang tidak selalu diikuti dengan peningkatan harga jual hasil laut. Ketua RW 04, Devi (38) menjelaskan bahwa masyarakat masih sangat bergantung pada hasil laut sebagai sumber penghasilan. Selain persoalan ekonomi, banjir rob di RW 04 berkaitan dengan kondisi sungai yang semakin dangkal. Menurut Devi, wilayah pesisir menghadapi pasang air laut yang kemudian diperparah oleh pendangkalan sungai sehingga air lebih mudah masuk ke kawasan permukiman.

“Sebenarnya kalau untuk banjir itu memang di daerah pesisir ini dua tahun sekali menghadapi pasang barat sama pasang timur. Berhubung kondisi sungainya sudah dangkal, jadi airnya masuk ke pemukiman,” ujar Devi saat diwawancarai di kediamannya pada Jumat (14/08/2026).

Penanganan banjir rob hingga kini masih menghadapi berbagai kendala. Normalisasi atau pengerukan sungai dan pembangunan tanggul menjadi salah satu upaya yang diharapkan dapat mengurangi dampak genangan. Namun, proses normalisasi sungai juga berpotensi bersinggungan dengan permukiman warga yang berada di sepanjang bantaran sungai.

Di samping itu, masyarakat juga menghadapi persoalan abrasi yang berdampak terhadap lingkungan pesisir dan tambak. Kondisi tersebut membuat perlindungan kawasan pesisir menjadi semakin penting untuk mengurangi kerusakan dan menjaga keberlangsungan mata pencaharian warga.

Bagi warga, banjir rob bukan lagi sekadar persoalan musiman. Genangan yang datang berulang kali telah memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari mobilitas, pendidikan, rumah, kendaraan, hingga mata pencaharian. Warga berharap pemerintah dapat memberikan penanganan yang lebih berkelanjutan melalui pengerukan sungai, pembangunan tanggul, serta perlindungan kawasan pesisir Desa Pantai Sederhana, Muara Gembong.

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama