Sat, 24 February 2024

Jadi Aktivis atau Dapat IPK Tinggi?

Reporter: Riska Yunisyah Imilda | Redaktur: Maulida Madini | Dibaca 196 kali

Mon, 7 November 2016
Foto : Ilustrasi
Foto : Ilustrasi

Jurnalposmedia.com – What’s wrong? Mahasiswa yang bagus akademik tapi tidak bisa turun ke lapangan atau mahasiswa bagus di lapangan tapi nyatanya kehidupan akademiknya lambat. Pernyataan tersebut sebagai fakta bahwa mahasiswa memang dituntut untuk menentukan pilihannya. Sebuah pilihan yang harus ditentukan dengan pemikiran logis. Bagaimanapun mahasiwa tetaplah yang paling Maha dari sebuah pendidikan. Mengapa demikian? Karena mereka merupakan kaki tangan rakyat, rakyat bersuara melalui lidah mereka, dan tentunya bangsa sangat bergantung kepada mereka.

Mahasiswa memang beragam, ada yang menyukai hal-hal berbau kritis seperti menentang kebijakan-kebijakan yang tak sepaham dengan masyarakat dan melahirkan aktivis-aktivis muda. Tak jarang dari mereka yang lebih menyukai duduk diam di perpustakaan, memperhatikan dosen dan selalu on time terhadap tugas. Diluar dari semua itu mereka juga memiliki hak untuk memenuhi kehidupan pribadi mereka, bukankah mereka kuliah untuk mendapatkan hal yang paling layak dalam pekerjaan pada masa yang akan datang.

Ada sekian persen mahasiswa yang mencintai dunia aktivis. Aktivis muda sebagai julukannya. Peran inilah yang sering disebut dengan pahlawan masa kini. Dimana dia menyuarakan ungkapan dan aspirasi semua orang yang tidak mampu untuk meyuarakan hak mereka. Kebanyakan dari aktivis sibuk dengan kegiatan di lapangan dan kurang fokus terhadap pembelajaran di bangku kuliah. Sehingga, lebih banyak bertugas di luar kampus dibanding dengan di area kampus. Berbagai gerakan-gerakan yang mereka turunkan demi mencapai satu tujuan yaitu tuntutan mereka terpenuhi.

Berlainan arah, tuntutan untuk menjadi mahasiswa yang tetap menjalankan tugasnya di dalam kelas, menerima materi atas teori-teori dari dosen, serta memfokuskan untuk meraih gelar sarjana. Gelar berdasarkan jurusan masing-masing mahasiswa menjadi modal setiap individu sebagai peralihan ke dunia kerja. Tetapi, bukan berarti dengan gelar sarjana menjamin seorang mahasiswa cepat dan tepat dalam memilih profesi serta berkecimpung di tempat yang layak. Sebuah kualitas dan ketrampilan menjadi jaminannya, tanpa syarat tersebut susah untuk mendapatkan pekerjaan karena gelar saja tidak cukup.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments