JURNALPOSMEDIA.COM – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi fenomena fenomena pemanasan suhu permukaan air laut diatas batas normal atau El Nino 2026 telah mencapai kategori kuat. Fenomena ini berpotensi meningkat menjadi sangat kuat, sehingga memicu musim kemarau yang lebih kering dan panjang di sejumlah wilayah Indonesia.
Melansir dari Antara, Kepala BMKG, Teuku Faisal menyebutkan Indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) berada pada posisi plus 1,59. Kondisi ini menyebabkan curah hujan rendah hingga sangat rendah di sebagian besar wilayah Indonesia. Terutama pada puncak musim kemarau di bulan Agustus dan September 2026.
Dampak anomali iklim global ini tidak hanya terbatas pada sektor meteorologi. Sektor vital seperti pertanian, energi, kesehatan hingga aktivitas ekonomi masyatas dapat terpengaruh. Penyediaan air bersih, pengelolaan waduk dan irigasi juga dapat terdampak.
“Sektor pertanian terancam mengalami penurunan produksi akibat gangguan kalender tanam,” ujar Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani.
Sektor energi juga menghadapi risiko berkurangnya pasokan listrik. Debit air pada bendungan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) menurun akibat curah hujan rendah. Kondisi ini dapat mengganggu operasional pembangkit listrik di sejumlah daerah.
“Suhu udara di Indonesia terasa lebih panas dari biasanya,” kata Teuku Faisal. Anomali iklim ini diprediksi berlangsung hingga tahun 2027.
Sementara itu, wilayah Kabupaten Bandung juga mulai bersiap menghadapi ancaman kekeringan. Kepala bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Diki Sudrajat, mengatakan 19 kecamatan masuk kategori rawan.
“Potensi kekeringan sebenarnya ada di seluruh 31 kecamatan,” ujar Diki Sudrajat.
Dilansir dari DetikJabar Diki Sudrajat mengaku telah menyiapkan distribusi air bersih ke tiap kecamatan. BPDB Kabupaten Bandung juga berkoordinasi dengan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung untuk mitigasi.
Meskipun kemarau meluas, BMKG mencatat potensi hujan lokal di beberapa daerah. Hujan lokal tersebut dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang pada periode 7-13 Agustus 2026.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tidak berteduh di bawah pohon saat cuaca buruk. Pihaknya juga meminta seluruh pihak tetap waspada terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan.
















