Sat, 23 May 2026

Perjalanan Endah Parawangsa Menggerakkan Pendidikan dari Kabupaten Bandung

Reporter: Ine Sintiabela | Redaktur: Ravi Ahmad Maulana | Dibaca 44 kali

Sumber foto: Dokumentasi Narasumber

JURNALPOSMEDIA.COM Pengalaman mengajar anak-anak diaspora Indonesia di Malaysia menjadi titik penting bagi Endah Parawangsa dalam memaknai literasi dan pendidikan. Bagi Duta Baca Jawa Barat tersebut, literasi bukan hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan jalan yang membawanya tumbuh sekaligus mengabdi kepada masyarakat.

Ketertarikan Endah pada dunia literasi berawal dari masa kecil. Ia mengaku sering sakit sehingga lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama buku-buku yang diberikan ibunya. 

“Waktu kecil aku sering sakit, jadi nggak boleh terlalu banyak main. Mama akhirnya sering kasih buku buat dibaca dan dicoret-coret. Dari situ jadi suka membaca,” ujarnya saat diwawancarai Jurnalposmedia, Kamis (21/5/2026).

Kedekatannya dengan dunia literasi semakin tumbuh ketika ia bertemu guru-guru inspiratif di sekolah. Sejak TK hingga SMA, Endah aktif mengikuti berbagai lomba seperti membaca puisi, pidato, dan menulis.

Meski tidak selalu menang, pengalaman tersebut membawa Endah bertemu banyak orang yang memiliki minat serupa di dunia literasi dan pendidikan. Menurutnya, proses belajar jauh lebih berharga daripada sekadar hasil perlombaan. 

Kesadarannya terhadap pentingnya pendidikan semakin kuat saat mengikuti Program Pelatihan Lapangan Khidmat Jam’iyyah (serupa KKN) di Garut, Jawa Barat. Dalam program tersebut, ia mengajar anak-anak dan melihat langsung bagaimana pendidikan usia dini sangat berpengaruh terhadap perkembangan seseorang.

“Di sana aku sadar kalau usia 0 sampai 12 tahun itu sangat memengaruhi bagaimana seseorang tumbuh ketika dewasa. Dari situ aku merasa passion aku memang di pendidikan,” katanya.

Perjalanan Endah di dunia pendidikan berlanjut ketika ia menjalani praktik pengalaman lapangan di Sanggar Bimbingan Permai Penang, Malaysia. Di tempat tersebut, ia mengajar anak-anak diaspora Indonesia yang tidak dapat mengakses pendidikan formal karena terkendala dokumen administrasi.

Sebagian besar anak tersebut merupakan anak pekerja migran Indonesia yang lahir dari pernikahan tidak tercatat atau keluarga tanpa dokumen resmi. Kondisi tersebut membuat mereka kesulitan memperoleh hak pendidikan di Malaysia.

“Yang aku pikirkan waktu itu adalah bagaimana mereka tetap bisa membaca dan menulis. Pendidikan itu hak mereka,” ujar Endah.

Pengalaman tersebut membuatnya merasa pengabdian tidak boleh berhenti setelah program selesai. Sepulang dari Malaysia, ia membangun komunitas belajar dengan sistem kakak asuh yang menghubungkan relawan di Indonesia dengan anak-anak diaspora melalui pembelajaran daring menggunakan WhatsApp dan Google Meet.

Menurut Endah, komunitas menjadi ruang penting untuk menghadirkan kebermanfaatan yang berkelanjutan. Ia menilai banyak kegiatan sosial berhenti setelah penyaluran bantuan selesai tanpa tindak lanjut yang jelas.

Selain aktif di komunitas, Endah juga terlibat dalam berbagai kegiatan literasi melalui Duta Baca tingkat Jawa Barat. Baginya, ruang literasi menjadi tempat untuk kembali memberi manfaat kepada lingkungan tempat ia tumbuh.

“Aku merasa apa yang aku dapat dari guru-guru dan lingkungan nggak boleh berhenti di aku saja. Harus diteruskan supaya manfaatnya tetap berjalan,” tuturnya.

Sebagai perempuan muda, Endah juga mengaku pernah merasa lelah mengejar standar kesuksesan yang dilihatnya di lingkungan kampus. Namun, proses belajar dan pertemuannya dengan banyak mentor perempuan membuatnya memahami bahwa setiap perempuan memiliki ruang perjuangan masing-masing.

“Jadi perempuan itu bukan batasan untuk berkembang. Perempuan punya ruang juangnya sendiri,” katanya.

Melalui pengalaman dan aktivitasnya di dunia pendidikan, Endah berharap perempuan muda, khususnya Generasi Z, dapat lebih sadar terhadap potensi diri dan berani mengambil langkah untuk berkembang.

“Yang penting sadar tujuan, sadar potensi, dan berani bergerak,” pungkasnya.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama