Sat, 1 August 2026

Runtutan Kronologi Gencatan Senjata Thailand-Kamboja: Dari Sengketa Kuil hingga Seruan Dunia

Reporter: Malika Shafa Nur Fadiya | Redaktur: Putri Maharani Kristiana | Dibaca 985 kali

(Sumber Foto : Serambinews.com)

JURNALPOSMEDIA.COM – Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja kembali terjadi pada akhir Juli 2025. Bentrokan yang berlangsung selama tiga hari ini menyebabkan banyak korban jiwa dan memaksa ribuan orang meninggalkan rumah mereka.

Setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak, kedua negara akhirnya sepakat melakukan gencatan senjata. Untuk memahami kejadian secara menyeluruh, berikut adalah runtutan kronologi konflik dan upaya damai yang terjadi antara Thailand dan Kamboja.

Sengketa Kuil Preah Vihear: Akar Konflik yang Tak Pernah Reda

Seperti yang dilansir oleh iNews.id, konflik bermula pada 2008 saat kedua negara mengklaim kepemilikan atas situs warisan dunia Kuil Preah Vihear. Meski Mahkamah Internasional memenangkan Kamboja, ketegangan tetap berlangsung, terutama karena keberadaan militer di wilayah perbatasan yang disengketakan.

Ketegangan memuncak kembali pada 24 Juli 2025, ketika pasukan dari kedua negara saling melepaskan tembakan artileri berat di perbatasan darat dan wilayah pesisir Teluk Thailand. Dilansir dari Kompas.com, lebih dari 33 orang tewas dan sekitar 150.000 warga sipil mengungsi.

Pertempuran terjadi tidak hanya di hutan perbatasan, tetapi juga di desa-desa agraris dan area pesisir yang jauh dari garis depan utama.

Campur Tangan Internasional: AS dan PBB Desak Penghentian Kekerasan

Situasi ini menarik perhatian global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menghubungi langsung Perdana Menteri (PM) Kamboja Hun Manet dan PM sementara Thailand Phumtham Wechayachai, dan berhasil mendorong kesepakatan awal menuju gencatan senjata.

Sementara itu, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggelar sidang darurat. Sekjen PBB Antonio Guterres mengecam eskalasi konflik dan mendesak penghentian segera atas kekerasan yang menargetkan warga sipil dan infrastruktur.

“Kekerasan ini menyebabkan penderitaan yang tak perlu, merusak stabilitas kawasan, dan harus segera diakhiri,” ujar Farhan Haq, juru bicara PBB.

Gelombang Pengungsian dan Krisis Kemanusiaan

Dampak konflik terasa luas. Pemerintah Thailand mengevakuasi lebih dari 138.000 orang dari empat provinsi terdekat, sementara Kamboja mencatat sekitar 80.000 orang dari wilayah Preah Vihear, Oddar Meanchey, dan Pursat mengungsi.

Akibatnya, 536 sekolah ditutup di Kamboja dan lebih dari 130.000 siswa terdampak. Pemerintah juga menyiapkan wihara dan bangunan umum sebagai tempat penampungan darurat.

Ketegangan Diplomatik Berujung Sanksi Ekonomi

Sebagai respons atas bentrokan, Kamboja memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Thailand, termasuk pelarangan film dan acara televisi Thailand, penghentian impor bahan bakar dan produk pertanian, serta pemutusan koneksi listrik dan internet dari Thailand ke Kamboja.

Kedua pihak saling menuduh sebagai pemicu konflik. Thailand menyebut Kamboja menargetkan fasilitas sipil, sementara Kamboja menuduh Thailand menggunakan bom terlarang di wilayahnya.

Pernyataan Resmi Gencatan Senjata

Pada malam 26 Juli 2025, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Thailand mengumumkan bahwa pemerintah siap melakukan gencatan senjata dan membuka ruang dialog bilateral.

“Thailand pada prinsipnya setuju memberlakukan gencatan senjata,” demikian pernyataan yang dirilis melalui akun X (Twitter) resmi Kemenlu.

Meskipun pernyataan ini memberi harapan baru, masa depan perdamaian jangka panjang masih sangat tergantung pada komitmen kedua negara dalam menahan diri dan menyelesaikan sengketa melalui jalur diplomasi.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama