Covid-19 Serang Pelbagai Aspek Kehidupan

JURNALPOSMEDIA.COM – Covid-19 telah mewabah dipelbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Kasus pertama diperkirakan berasal dari Wuhan, China pada Desember tahun lalu. Melihat begitu cepatnya virus ini menginfeksi, tidak hanya menyerang kesehatan manusia, tetapi pelbagai aspek kehidupan.

Seperti aspek pendidikan, ekonomi, dan lingkungan. Demi menekan lajur penyebaran virus, pelbagai upaya digalakkan oleh pemerintah. Salah satunya diwajibkan menerapkan protokol kesehatan seperti rajin mencuci tangan, memakai masker ketika aktivitas di luar, dan menjaga jarak.

Dengan diterapkannya protokol kesehatan menimbulkan kelaziman baru dalam kehidupan sehari-hari. Banyak kegiatan yang sebelum pandemi dilakukan secara langsung, kini dilakukan di rumah secara daring. Seperti kegiatan belajar mengajar, bekerja, dan belanja kebutuhan guna menerapkan protokol kesehatan menghindari kerumunan.

Akibat dari aktivitas yang dilakukan secara daring menimbulkan masalah baru. 

Pertama di bidang pendidikan, tidak meratanya akses pendidikan karena kesenjangan ekonomi di Indonesia masih tinggi, tidak semua siswa memiliki gawai yang mendukung untuk dipakai pembelajaran daring. Lalu, akses internet masih belum merata terutama di daerah-daerah pelosok.

Pada akhirnya pendidikan hanya bisa diakses oleh siswa yang memiliki privilese, ini bisa mengancam generasi Indonesia selanjutnya dan sangat disayangkan. Pada saat ini Indonesia mengalami bonus demografi yang seharusnya bisa digunakan dengan baik untuk kemajuan bangsa dan negara.

Kedua di bidang ekonomi, banyak perusahaan yang mengalami kerugian sehingga harus PHK sebagian karyawannya. Pasar tradisional ditutup dan bahkan tidak sedikit juga UMKM yang gulung tikar.

Disadur dari liputan6.com, Indonesia masuk resesi usai dua kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan ekonomi negatif. Di mana pada kuartal II 2020 sudah tercatat minus 5,32 persen dan kembali negatif pada kuartal III sebesar 3,49 persen.

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonomi harus mengalami kenaikan pada kuartal IV dan kuartal I 2021 untuk menutupi minus pada kuartal sebelumnya.

Ketiga di bidang lingkungan, kebiasaan masyarakat berbelanja berubah seiring perkembangan zaman. Sebelum maraknya e-commerce, untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, masyarakat biasa berbelanja dengan mendatangi toko swalayan maupun pasar tradisional ssecara langsung.

Akan tetapi seiring kemajuan teknologi, kebiasaan ini mulai berubah dengan berbelanja online melalui e-commerce. Memang, selain praktis di tengah pandemi saat ini bisa mengurangi risiko tertular Covid-19. Karena pembeli dan penjual cukup bertransaksi secara online di rumah, kemudian paket diantar kurir sampai ke depan pintu rumah.

Permasalahannya adalah sampah yang dihasilkan dari membungkus paket tersebut. Bayangkan dari satu barang dibungkus berapa lapis plastik. Tak jarang juga ditambah bubble wrap serta kardus untuk menjaga barang tetap aman selama diperjalanan.

Hal ini berbeda sekali ketika kita belanja secara langsung, ketika satu plastik bisa dipakai untuk banyak barang, bahkan bisa digunakan berulang-ulang. Dikutip dari Indonesia.go.id, data Asosiasi Industri plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuat ke laut.

Dengan begini Indonesia menjadi penyumbang plastik ke laut kedua di dunia. Tidak sampai disitu, bahaya dari sampah plastik dikutip dari cnnindonesia.com, menimbulkan mikroplastik, merupakan komponen plastik yang berukuran kurang dari lima milimeter. Dengan ukuran yang kecil sangat kecil, mikroplastik bisa dengan mudah diserap oleh tubuh dan dapat mengganggu kesehatan manusia.

Efek dari belanja online juga menimbulkan perilaku konsumtif di masyarakat. Banyak sekali potongan-potongan harga yang diberikan melalu pelbagai event sebagai contoh flash sale, 11.11, dan 12.12. Dengan harga yang menggiurkan, sebagian masyarakat membeli barang tanpa berpikir terlebih dahulu butuh tidaknya barang tersebut.

Permasalahan ini merupakan tanggung jawab bersama, bisa dimulai dari diri sendiri untuk lebih peduli terhadap sesama, terutama di lingkungan sekitar. Bantu orang terdekat kita apabila mengalami kesusahan, gotong royong adalah kunci utama. Berpikir sebelum membeli produk yang dirasa tidak terlalu penting demi menjaga kelestarian bumi kita.

Penulis merupakan mahasiswa aktif di UIN Bandung

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.