Badut: Pelawak dan Pikiran yang Merdeka

JURNALPOSMEDIA.COM – Terlintas sebuah pertanyaan dari pengamatan singkat mengenai sebuah deck kartu yang sering dimainkan di khalayak umum, yaitu kartu remi. Sekilas tidak ada yang spesial dari benda tersebut, mereka hanyalah tumpukan kartu dengan angka dan simbol kerajaan. Kartu ini dibuat pertama kali pada tahun 1860 di Ohio, Amerika Serikat. Pertanyaannya, bagaimana si pembuat desain menerapkan hirarki atau tingkatannya?

Namun, ada sebuah hirarki yang sedikit janggal dan bergejolak dalam pikiran. Kenapa badut bisa menjadi sebuah ‘kartu mati’ bagi seluruh kartu yang ada dalam deck? Bahkan, Raja dan Ace pun bisa kalah dari seorang yang hanya pelawak tersebut.

Lalu, lahirlah sebuah rasa ingin tahu mengenai badut dan sejarahnya, baik dalam dunia kerajaan maupun dalam dunia hiburan. Juga tentang bagaimana peran badut yang kita kira hanya menjadi penghibur semata. Sampai menjadi sosok penting yang digambarkan oleh pembuat desain dalam permainan kartu remi. Perlu diketahui, sebelumya sosok Joker atau pelawak kerajaan sudah ada dalam kartu tarrot yang dibuat jauh sebelum permainan kartu remi diciptakan.

Dalam sejarah kerajaan-kerajaan di dunia, seorang pelawak selalu ada dan mengambil peranan, tentu ada alasan mereka disana. Contohnya pada masa Yunani kuno, masyarakat mebanggakan keberadaan badut atau pelawak. Mereka digambarkan sebagai orang-orang botak yang memiliki peran utama yaitu melawak dan membuat orang lain tertawa ditengah arus filsafat yang didera oleh kaum Yunani saat itu.

Tokoh Badut Sebagai Penggiring Opini

Setelah pencarian panjang dan sedikit penelaahan, ternyata ada ketertarikan lebih dari penulis pada tiga tokoh badut dunia. Mereka adalah pelawak kerajaan China Yu Szu, karakter badut India Vidushaka, dan seorang aktor pantomim legendaris yaitu Joseph Grimaldi. Mungkin kisah mereka bisa mewakilkan jawaban atas pertanyaan seorang badut yang ditembatkan lebih hebat daripada seorang raja dalam permainan itu

Pertama, mari berkenalan dengan seorang pelawak kerajaan di China yaitu Yu Sze yang sampai sekarang dianggap sebagai pahlawan sepanjang masa di negerinya. Dia adalah satu-satunya orang pada masa kekaisaran yang berani mengemukakan pendapat dan membuat kaisar Shih Huang-Ti menghentikan pengecatan di seluruh tembok besar China.

Ketika itu Kaisar Shih Huang Ti memerintahkan para pekerja mengecat seluruh tembok setelah pembangunan usai. Namun, Yu Sze mengkritik keputusan tersebut melalui lawakannya yang berhasil membujuk sang kaisar untuk meninggalkan keinginannya itu. Pasalnya, dalam pembangunan tembok besar, tak terhitung banyaknya pekerja yang meninggal.

Maka dari itu, atas lawakannya ratusan nyawa terselamatkan. Ketika orang lain terbungkam dan tidak bisa berpendapat, sosok Yu Sze adalah simbol kebebasan berpendapat dan keberanian yang tinggi dalam menyampaikan gagasan pada penguasa yang otoriter.

Selanjutnya, tentang sebuah sosok karakter pembantu protaginist dalam pementasan teater Sanskrit di India. Ialah Vidushaka, sebuah karakter yang digambarkan sebagai orang polos yang membuat gelak tawa melalui gestur, kostum dan pendekatan umum lainnya.

Vidushaka tidak hanya membimbing dan menasihati sang pahlawan tetapi juga bebas untuk membuat komentar yang menyindir tentang berbagai masalah atau institusi politik dan sosial. Karakter itu masih menjadi bagian dari seni rakyat tradisional dan teater yang dilakukan sampai hari ini.

Sosok yang terakhir adalah legenda pantomim dunia, sekaligus raja badut modern. Ialah Joseph Grimaldi, seorang sosok dibalik cat putih dan merah dimuka yang merupakan sosok fiktif “Joey” ciptaannya dan menjadi patokan badut sampai saat ini. Dia berkarir dengan sangat cemerlang dari umur dua tahun dan sudah terbiasa untuk tampil di panggung pada saat itu.

Pertunjukannya sangat ditunggu sampai pernah bermain di produksi teater terbaik pada masa itu, seperti ‘Kembles and Dibdins’ yang dinahkodai flamboyan dari Sheridan. Tetapi dengan semua gemerlap selebritas itu, Joseph tidakah terlalu bahagia dengan kehidupan aslinya sebagai seorang Joseph bukan “Joey”. Pasalnya, istrinya meninggal pada usia perkawinan mereka yang satu tahun, disusul anaknya karena overdosis di usia 21 tahun.

Sampai akhir karirnya, Joseph mempunyai banyak penggemar setia. Ada sekitar 2 ribu orang pada suatu hari di tahun 1829 yang datang dan berkumpul sebelum Grimaldi mengumumkan bahwa dia berhenti sebagai aktor. Tentu saja, teriakan deras membanjiri udara pada saat itu. Bisa terbayangkan, 2 ribu orang penggemar lebih yang datang langsung itu, bagaikan mengumpulkan seluruh rakyat dalam sebuah kerajaan kecil.

Dari tiga sosok tadi, bisa dilihat bagaimana dunia komedi bukan hanya sekedar dunia untuk membuat orang tertawa tanpa makna. Lebih dari itu, komedi bisa digunakan sebagai alat menyuarakan pendapat dan menggiring opini. Opini para pemimpin pun bisa tergiring dengan halus oleh komedi.

Sekarang, sedikit tidak mengherankan apabila kartu JOKER adalah “kartu mati” dalam sebuah permainan kartu jikalau melihat sosok-sosok pelawak yang tertulis dalam sejarah. Kemungkinan, si pembuat desain permainan kartu asal Amerika itu juga terinspirasi dari kisah-kisah badut pintar yang bisa mengendalikan raja-raja.

 

Penulis merupakan Mahasiswa Semester VIII Pendidikan Bahasa Inggris UIN Bandung

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.