Sat, 5 September 2026

Pajak Bertutur 2026 Edukasi Mahasiswa UIN Bandung soal Pajak dan APBN

Reporter: Ine Sintiabela | Redaktur: Nida Rasya Kania | Dibaca 94 kali

Sumber foto: Dokumentasi pribadi

JURNALPOSMEDIA.COM – Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Bandung Cibeunying menggelar kegiatan Pajak Bertutur (Patur) 2026 di UIN Bandung, Kamis (3/9/2026). Kegiatan tersebut digelar secara serentak nasional dan menyasar generasi muda mulai dari jenjang sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Kepala Seksi Pelayanan KPP Pratama Bandung Cibeunying, Lucky Suwartono, mengatakan Pajak Bertutur merupakan kegiatan edukasi yang dilaksanakan setiap tahun oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP).

“Tujuannya adalah untuk mengenalkan atau mengedukasi kepada generasi penerus, generasi pelajar, baik itu di level SD, SMP, SMA atau SMK, dan perguruan tinggi,” ujar Lucky saat diwawancarai Jurnalposmedia, Kamis (3/9/2026).

Mengusung tema “Pajak Kita, Energi Generasi Juara”, kegiatan tersebut membahas pajak, manfaat, serta keterkaitannya dengan APBN. Lucky menjelaskan, edukasi diberikan sejak mahasiswa karena mereka nantinya akan bersinggungan dengan pajak, baik sebagai pekerja maupun pelaku usaha.

Ia berharap pengenalan tersebut dapat membentuk kesadaran pajak sejak dini sehingga generasi muda tidak hanya melihat pajak sebagai beban, tetapi memahami kontribusinya terhadap pembiayaan negara.

Pemahaman mengenai pajak dan APBN menjadi hal yang ditekankan dalam kegiatan tersebut. Hal itu turut dirasakan oleh peserta yang mengikuti rangkaian Pajak Bertutur 2026. Salah satu peserta, Abdul Aziz Imroni, menilai materi mengenai APBN menjadi bagian yang paling menarik karena membantunya memahami alur penerimaan dan pengeluaran negara.

“Di situ tuh kayak kita dibuka lebih luas. APBN tuh kerjanya seperti apa, alur kerja si APBN seperti apa,” katanya.

Abdul juga menilai edukasi perpajakan perlu dilakukan secara rutin di kampus. Menurutnya, pemahaman mengenai pajak dan APBN penting agar mahasiswa dapat melihat persoalan negara secara lebih kritis dan tidak langsung mengaitkan setiap persoalan dengan pajak.

“Jadi kita harus lihat ini salahnya di mana. Mungkin kita juga bisa menganalisis, sebenarnya yang salah pajaknya, APBN-nya, atau pemerintahannya,” ujarnya.

Kegiatan tersebut diharapkan menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengenal perpajakan sebelum memasuki dunia kerja dan menjalankan perannya sebagai bagian dari masyarakat.

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama