JURNALPOSMEDIA – Di tengah kehidupan yang serba cepat, membeli sesuatu kini tidak selalu harus menunggu sampai uang terkumpul. Kehadiran paylater membuat seseorang dapat membeli barang sekarang dan membayarnya kemudian. Layanan ini menjadi mudah ditemukan dalam berbagai platform digital. Namun, dibalik kemudahannya, muncul pertanyaan: apakah paylater benar-benar membantu atau justru membuat masyarakat semakin terbiasa berutang?
Pertumbuhan penggunaan paylater menunjukkan bahwa layanan ini semakin dekat dengan kehidupan masyarakat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat Baki debet kredit Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan per juni 2026 mencapai Rp30,71 triliun dengan pertumbuhan tahunan sebesar 33,54 persen. Jumlah rekening yang tercatat telah menyentuh angka 32,80 juta dengan rata-rata baki debet sekitar Rp940 ribu per rekening.
Persoalan muncul ketika kemudahan membayar belakangan membuat batas anatara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin tipis. Seseorang mungkin awalnya menggunakan paylater karena membutuhkan barang tertentu. Tetapi seiring berjalannya waktu, penggunaannya dapat berubah untuk membeli barang yang sebenarnya tidak penting. Cicilan yang terlihat kecil, menunjukkan bahwa barang tersebut masih terjangkau.
Masalah utama paylater bukan pada keberadaan layanannya. Melainkan pada cara masyarakat menggunakannya. Kemudahan yang ditawarkan membuat orang mudah berutang tanpa memikirkan kemampuan membayar. Padahal, paylater tetap merupakan utang yang harus dilunasi. Hal ini menjadi semakin relevan bagi anak muda yang hidup di tengah budaya tren yang cepat berubah.
Dilansir dari Detik.com Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan kemudahan, kecepatan, dan efisiensi dalam proses persetujuan membuat paylater semakin diminati sebagai alternatif pembiayaan konsumtif dibandingkan kartu kredit. Meningkatnya penggunaan paylater juga mencerminkan upaya rumah tangga memenuhi kebutuhan komsumsi melalui pembiayaan jangka pendek.
Karena itu, penggunaan paylater seharusnya disertai kemampuan mengendalian diri. Sebelum menggunakannya, masyarakat juga harus membedakan antara keinginan dan kebutuhan, menghitung kemampuan membayar, serta memahami seluruh biaya yang harus ditanggung. Jangan hanya melihat nominal cicilan per bulan, tetapi perhatikan jumlah pembayaran secara keseluruhan.
















