Tue, 9 June 2026

Dari UIN Bandung ke Mesir, Perjalanan Fahmi Fahrezi Mengejar Mimpi ke Al-Azhar

Reporter: Siti Nur Azizzah | Redaktur: Nida Rasya Kania | Dibaca 212 kali

Sumber foto: Dokumentasi pribadi

JURNALPOSMEDIA.COM – Ada momen kecil yang mampu mengubah arah hidup seseorang. Bagi Fahmi Fahrezi, momen itu hadir dari obrolan sederhana bersama teman lamanya. Dari percakapan tersebut, nama Universitas  Al-Azhar mulai memenuhi pikirannya.

Pemuda asal Bukittinggi, Sumatera Barat tersebut kini resmi lolos sebagai calon mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Ia dijadwalkan berangkat pada Oktober 2026 setelah menyelesaikan beberapa tahapan pembelajaran bahasa Arab.

Fahmi  tumbuh di lingkungan yang dekat dengan pendidikan agama. Setelah lulus sekolah dasar, ia memilih melanjutkan pendidikan ke Pesantren Sumatera Thawalib Parabek di Sumatera Barat. Keputusan tersebut berbeda dari kebanyakan anggota keluarganya.

“Di keluarga, cuma gua satu-satunya yang milih jalur pesantren,” ujar Fahmi saat diwawancarai Jurnalposmedia pada Selasa (12/5/2026).

Di pesantren, Fahmi mempelajari ilmu agama dan pelajaran umum secara seimbang. Pengalaman itu membuatnya merasa tidak tertinggal dari pelajar sekolah umum. Ia juga menganggap pesantren menjadi pondasi penting dalam hidupnya.

“Sistemnya pesantren modern. Di sana gua nggak cuma belajar ilmu agama, tapi juga ilmu umum lainnya. Bisa dibilang itu jadi fondasi awal gua,” katanya.

Setelah lulus, Fahmi melanjutkan pendidikan di SMA Islam, Alam dan Sains (IAS) Al-Jannah Depok melalui jalur beasiswa tahfidz. Selama tiga tahun, ia mempertahankan beasiswa tersebut melalui prestasi hafalan Al-Qur’an.

Pengalaman pendidikan itu membentuk Fahmi menjadi sosok yang disiplin dan terbiasa hidup mandiri. Ketertarikannya untuk kuliah di luar negeri juga mulai tumbuh sejak masa sekolah.

Saat diterima di UIN Bandung, Fahmi ternyata masih menyimpan mimpi lain. Ia mengaku menjadikan masa kuliah sebagai pengisi waktu sambil mempersiapkan tujuan besarnya untuk belajar di luar negeri.

“Alasan gua milih ke Al-Azhar padahal sudah kuliah di Bandung, karena sejak awal gua millih UIN Bandung memang sebagai pengisi waktu luang. Daripada gapyear, mending gua coba kuliah dulu,” ucapnya.

Sebelum memilih Al-Azhar, Fahmi sempat tertarik melanjutkan pendidikan ke Jepang. Namun, teman-temannya dari Pesantren yang lebih dulu berangkat ke Mesir membuat pandangannya berubah.

“Kalau Al-Azhar sebenernya gua dibujuk buat ke sana karena awalnya gua mau ke Jepang, karena Al-Azhar lebih realistis jadinya gua coba daftar,” ujar Fahmi.

Fahmi kemudian kembali ke Padang untuk mempersiapkan ujian Tahdid Mustawa. Ia belajar di Markaz Tatwir Syeikh Ibrahim Musa dengan fokus pada pelajaran nahwu, sharaf, dan balaghah.

Selama proses persiapan menuju Al-Azhar, Fahmi memilih merahasiakan perjuangannya dari keluarga. Ia menanggung biaya pendaftaran, karantina, hingga perjalanan pulang pergi menuju Padang.

“Gua rahasia-in dari keluarga gua. Paling mereka sekadar tahu saja, dan ngiranya gua nggak serius sampai akhirnya pas gua lulus baru deh gua kasih tahu,” kenangnya.

Fahmi berhasil mencapai level lima dari tujuh tingkatan ujian Tahdid Mustawa. Hasil tersebut membuatnya wajib mengikuti dua periode daurah lughah sebelum melanjutkan ujian penyamaan ijazah.

Kini Fahmi menjalani kelas bahasa Arab bersama pengajar asal Mesir selama tiga sampai empat jam setiap hari. Ia merasa proses tersebut tidak terlalu berat karena sudah terbiasa dengan lingkungan pesantren.

“Jujur saja kalau ngerasa berat si kagak, karena gua memang bidangnya di situ,” katanya.

Di Universitas Al-Azhar, Fahmi berencana masuk Fakultas Ushuluddin. Pada tahun ketiga, ia ingin mengambil jurusan Hadits karena sesuai dengan cita-citanya menjadi muthawwif atau pemandu umrah.

Sebelum berangkat Mesir, Fahmi masih harus menjalani masa pengabdian selama satu tahun di Depok. Meski begitu, semangatnya untuk menempuh pendidikan di Al-Azhar tetap kuat.

Ketika ditanya tentang ketakutan terbesar menjelang keberangkatan, Fahmi menjawab dengan santai bahwa ia takut meninggal dunia sebelum bulan Oktober mendatang.

Bagi Fahmi, Al-Azhar bukan hanya kampus impian. Perjalanan itu menjadi bukti bahwa mimpi yang dijaga dengan tekad mampu membawa seseorang melangkah lebih jauh.

“Daripada mikir yang jauh-jauh, mending jalanin saja dulu, entah itu terkait kampus, keluarga, biaya, dan sebagainya. Selagi tekad kuat, insyaallah banyak jalan,” pungkasnya.

Perjalanan Fahmi menuju Al-Azhar menunjukkan bahwa mimpi besar tidak selalu lahir dari jalan yang mudah. Keberaniannya mengambil keputusan berbeda, mempersiapkan diri secara mandiri, hingga berani melangkah tanpa diketahui banyak orang menjadi gambaran bahwa tekad yang kuat dan konsistensi mampu membuka peluang yang awalnya terasa mustahil. Kisah Fahmi juga dapat menjadi inspirasi bagi banyak anak muda untuk tetap memperjuangkan mimpi mereka, meski harus melewati proses panjang dan penuh ketidakpastian.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama