Mon, 17 August 2026

Dari Asumsi ke Dialog: KKN Tematik RMB Desa Pangandaran Perkuat Moderasi Beragama melalui Metode Honest Conversation

Reporter: Alifia Putri Desya Rani (Kontributor) | Redaktur: Sahara Putri Amiliana | Dibaca 95 kali

Sumber foto: Alifia Putri Desya Rani

JURNALPOSMEDIA.COM— Mahasiswa KKN Tematik Rumah Moderasi Beragama (RMB) Desa Pangandaran menggelar seminar bertajuk “Honest Conversation: Merawat Moderasi Beragama, Dimulai dari Perubahan Cara Pandang Pribadi” di Desa Pangandaran, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog lintas iman bagi masyarakat Muslim dan Kristen Protestan untuk membangun pemahaman serta mengurai prasangka di tengah agama dan budaya yang beragam di Desa Pangandaran.

Gagasan tersebut berangkat dari kesadaran bahwa keberagaman tidak selalu menjadi sumber konflik. Namun, tanpa ruang perjumpaan dan komunikasi yang terbuka, perbedaan dapat melahirkan asumsi, prasangka, dan jarak antarkelompok.

Kegiatan tersebut mempertemukan masyarakat Muslim dan Kristen Protestan dalam ruang dialog yang dirancang terbuka, setara, dan tidak berorientasi pada perdebatan teologis. Dialog tersebut menghadirkan pendeta dari Kristen Protestan dan Ketua MUI Pangandaran sebagai pemateri, serta melibatkan mahasiswa, jemaat gereja, jamaah Muslim, tokoh masyarakat, dan unsur pemerintahan desa.

Ketua pelaksana kegiatan, Zaky Diory Arvindo, mengatakan kegiatan tersebut lahir dari hasil pemetaan yang dilakukan mahasiswa KKN selama tiga pekan bermasyarakat di Desa Pangandaran.

Menurut Zaky, masyarakat Pangandaran telah memiliki dasar kehidupan yang cukup baik dalam keberagamaan. Salah satunya terlihat dari keberadaan tiga gereja di wilayah tersebut, dengan salah satu gereja tersebut telah berdiri sejak dekade 1970-an.

Namun, mahasiswa menemukan bahwa penguatan moderasi beragama masih diperlukan. Salah satu temuan tersebut adalah adanya kecenderungan sebagian masyarakat untuk menolak kemungkinan penambahan gereja di lingkungan mereka.

“Dialog ini bertujuan untuk menghadirkan pemahaman antar komunitas beragama, untuk menguatkan pondasi moderasi beragama masyarakatnya,” ujar Zaky.

Ia menjelaskan, kegiatan tersebut juga menjadi bentuk penerapan tema KKN yang sejak awal menempatkan mahasiswa sebagai agen moderasi beragama.

“Kami hadir untuk membumikan apa-apa yang telah kami pelajari di ruang perkuliahan,” katanya.

Perubahan Dimulai dari Cara Pandang Pribadi

Tema “Moderasi Beragama Dimulai dari Perubahan Cara Pandang Pribadi” dipilih karena panitia meyakini bahwa perubahan sosial membutuhkan perubahan yang terlebih dahulu terjadi dalam diri individu.

Zaky mengatakan, seseorang tidak akan bersedia melakukan perubahan apabila sejak awal tidak memiliki keinginan untuk berubah.

Gagasan tersebut, menurut Zaky, terinspirasi dari berbagai gerakan perubahan sosial, termasuk perjuangan Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, serta para founding fathers Indonesia yang menunjukkan bahwa perubahan dapat dimulai dari perubahan sikap dan keberanian individu.

Dalam konteks moderasi beragama, perubahan tersebut diwujudkan melalui keberanian untuk mengenali asumsi, mendengarkan pengalaman kelompok lain, dan membangun pemahaman secara langsung. Karena itu, masyarakat Muslim dan Kristen Protestan dipertemukan bukan untuk mencari pihak yang benar atau salah, melainkan untuk menghadirkan ruang perjumpaan.

Menurutnya, berbagai konflik antarumat beragama di sejumlah wilayah dunia menunjukkan pentingnya membangun pemahaman antar komunitas sebelum prasangka berkembang menjadi konflik.“Tak akan hadir pemahaman dari sikap acuh,” kata Zaky.

Ketika Kekhawatiran Diungkapkan Secara Terbuka

Semangat Honest Conversation terlihat ketika seorang peserta menyampaikan kekhawatirannya mengenai keberadaan dan penyebaran agama Kristen di lingkungan masyarakat. Peserta tersebut mempertanyakan tujuan kehadiran gereja serta pendeta Protestan yang telah membersamai masyarakat setempat sejak 2022.

Bagi Zaky, pertanyaan tersebut menjadi salah satu hal paling menarik dalam dialog karena memperlihatkan adanya kekhawatiran yang selama ini mungkin tersimpan tetapi belum dibicarakan secara terbuka.

“Hal ini menjadi menarik karena menunjukkan betapa masyarakat masih menyimpan kekhawatiran tertentu di dalam hati mereka,” ujarnya.

Ia berharap ruang dialog tersebut dapat menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh jawaban secara langsung, bukan melalui asumsi ataupun informasi yang belum tentu sesuai dengan pengalaman nyata.

Tidak Ada yang Menakutkan Ketika Membuka Diri

Perspektif lain muncul dari pengalaman pendeta yang menjadi pemateri dalam dialog. Ia menceritakan pengalaman hidupnya yang lahir dan tumbuh di Ciamis dalam lingkungan masyarakat yang mayoritas Muslim.

Menurutnya, pengalaman hidup bersama masyarakat Muslim sejak kecil justru menunjukkan bahwa hubungan antaragama tidak selalu seperti gambaran konflik yang sering muncul dalam pemberitaan atau asumsi sebagian orang. Ia bahkan menyinggung pengalaman kerusuhan 1998, ketika menurut penuturannya terdapat massa Muslim yang justru bergerak melindungi gereja.

Baginya, tantangan terbesar dalam hubungan lintas iman bukan semata-mata keberadaan perbedaan agama, tetapi asumsi yang dibangun oleh pihak-pihak yang tidak memahami makna cinta damai dan moderasi beragama.

Dalam kehidupan sehari-hari, ia mengatakan keluarganya dapat hidup berdampingan dan berbaur dengan masyarakat Muslim.

“Tidak ada hal yang menakutkan ketika membuka diri,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam dialog tersebut.

Ia mengajak masyarakat untuk tidak terus mencari perbedaan, tetapi menemukan nilai-nilai yang dapat mempertemukan berbagai kelompok. “Agamamu agamamu, agamaku agamaku. Jangan cari perbedaannya, tapi cari persamaannya,” pesannya.

Berbuat Baik Tanpa Memandang Perbedaan

Dari perspektif Islam, pemateri dari kalangan ulama menekankan bahwa kebaikan tidak seharusnya dibatasi oleh identitas agama. Ia menjelaskan bahwa Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat baik kepada sesama, termasuk menjaga hubungan dengan tetangga. Nilai tersebut bahkan diwujudkan dalam hal-hal sederhana seperti berbagi makanan dan membangun hubungan sosial yang baik.

Menurutnya, prinsip senyum, salam, sapa, dan santun tidak hanya ditujukan kepada sesama Muslim, tetapi juga kepada masyarakat secara luas. Ia juga mengingatkan bahwa seluruh manusia merupakan makhluk Allah.

Pesan tersebut kemudian bermuara pada satu gagasan sederhana: nilai kebaikan dalam ajaran agama tidak cukup hanya dipahami, tetapi harus dipraktikkan dalam kehidupan bersama.

Moderasi Beragama dan Budaya Lokal

Seorang Tokoh Adat setempat, Edi membuka dialog guna memperluas pembahasan moderasi beragama ke ranah budaya melalui pandangan. Menurut Edi, Desa Pangandaran sebagai kawasan wisata memiliki masyarakat dengan latar belakang agama dan kepercayaan yang beragam. Sebagai bagian dari masyarakat Sunda, Pangandaran juga memiliki berbagai tradisi lokal, salah satunya hajat laut.

Edi menjelaskan bahwa dari perspektif budaya, hajat laut dipahami sebagai tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya dan dimaknai sebagai bentuk rasa syukur. Berbagai simbol yang digunakan dalam tradisi tersebut, menurutnya, merupakan bagian dari ekspresi budaya masyarakat terdahulu.

Namun, tradisi tersebut juga pernah mendapatkan stigma sebagai praktik musyrik dari sebagian masyarakat. Kondisi tersebut kemudian mendorong para penggiat budaya untuk berdiskusi dan berdialog. Menurut Edi, upaya tersebut menunjukkan bahwa perbedaan pandangan terhadap sebuah tradisi tidak harus berakhir pada pertentangan.

Para penggiat budaya juga terus melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap bentuk pelaksanaan tradisi agar dapat tetap ditempatkan dalam konteks kebudayaan.

Mencari Persamaan, Bukan Mempertajam Perbedaan

Dari berbagai perspektif yang muncul, dialog tersebut memperlihatkan satu benang merah: perbedaan tidak selalu harus diselesaikan dengan menyeragamkan pandangan.

Konflik dapat muncul ketika dua gagasan atau kepentingan memperebutkan ruang yang sama tanpa adanya upaya untuk saling memahami.

Jalan terbaik untuk kedua ide tersebut yakni mencoba untuk memahami satu sama lain dan berbagi wilayah yang sama. Gagasan ini mengaitkan dengan keteladanan Rasulullah dalam tidak memaksakan agama kepada orang lain.

Karena itu, moderasi beragama dalam konteks kegiatan tersebut tidak ditempatkan sebagai upaya untuk menghilangkan perbedaan keyakinan. Sebaliknya, moderasi dipahami sebagai kemampuan untuk tetap memiliki keyakinan sekaligus memberikan ruang bagi orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Menjadi Awal, Bukan Akhir

Keberlanjutan hubungan lintas iman setelah program KKN selesai belum dapat dipastikan. Namun, diharapkan bahwa dialog yang telah dimulai dapat menjadi awal bagi keterbukaan yang lebih luas di masyarakat Pangandaran.

Sedikitnya hal tersebut dapat menjadi roda gigi kecil untuk memberikan gerakan lebih pada mesin moderasi beragama di lingkungan Desa Pangandaran.

Program kali ini diharapkan agar ruang dialog lintas iman dapat dilaksanakan secara rutin sehingga penguatan moderasi beragama tidak berhenti pada satu kegiatan.

Pada akhirnya, Honest Conversation menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Hal ini dapat dimulai dari keberanian seseorang untuk bertanya tanpa prasangka, mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi, dan membuka diri terhadap pengalaman orang lain.

Sebab, sebelum perbedaan menjadi konflik, selalu ada kesempatan untuk mengubahnya menjadi percakapan.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama