Wed, 10 June 2026

Massa Aksi Menggelar Buka Bersama di Depan Gedung DPRD Jawa Barat

Reporter: Lidya Marliana | Redaktur: Siti Barkah | Dibaca 751 kali

Seluruh massa aksi menggelar buka bersama di Jalan Diponegoro, Bandung, Kamis (14/4/2022) (Lidya Marliana/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM – Aliansi Mahasiswa se-Jawa Barat dan beberapa elemen masyarakat yang melakukan aksi di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat menggelar buka bersama dan memblokade Jalan Diponegoro, Bandung, Kamis (14/4/2022).

Sejumlah relawan membagikan takjil kepada massa aksi menjelang waktu berbuka puasa. Salah satu massa aksi asal Institut Agama Islam Sukabumi, Aris Gunawan mengatakan, dengan menggelar buka bersama di jalanan ini, hal tersebut merupakan sebuah komitmen.

“Artinya ini sebagai komitmen kita bersama terhadap apa yang menjadi problematika hari ini karena hari ini di daerah juga sedang melakukan tuntutan-tuntutan isu yang mana berasal dari masyarakat,” tuturnya.

Senada dengan Muhammad Azmi, massa aksi asal Universitas Muhammadiyah Bandung, menyampaikan alasannya mengikuti aksi ini meski tengah menjalankan ibadah puasa. Menurutnya, terdapat beberapa isu yang dirasa harus diperjuangkan oleh mahasiswa.

“Paling yang saya tangkap, ada beberapa poin yang memang harus diperjuangkan, perlu di highlight oleh mahasiswa seperti kenaikan minyak goreng dan BBM. Kami di kalangan mahasiswa, khususnya anak-anak rantau merasa sangat dirugikan akan naiknya minyak goreng dan BBM,” ujarnya.

Tidak hanya massa aksi, sejumlah aparat negara juga turut serta berbuka puasa di jalanan. Salah satu aparat negara yang tidak ingin diketahui namanya mengatakan, mereka memiliki tanggung jawab untuk mengawal dan menjaga massa aksi hingga aksi selesai.

“Ya karena kami mengawal, menjaga adik-adik mahasiswa yang berdemonstrasi untuk menyampaikan aspirasi. Sampai dengan adik-adik ini pulang atau telah selesai menyampaikan aspirasi tentu kami tetap berada di lokasi, sekarang sampai buka puasa ini pun masih ada di lokasi ya kita buka puasanya bersama di tempat ini,” pungkasnya.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama