25.693 Kasus DBD, Mengapa Hanya Covid-19 yang Menjadi Sorotan?

JURNALPOSMEDIA.COM – Corona virus (Covid-19) tengah menyita perhatian, pasalnya sejak kemunculanya pada penghujung 2019 di kota Wuhan, virus ini menyebar dengan begitu cepat ke berbagai kota di dunia. Virus ini merupakan “versi” baru dari virus corona yang bermutasi. Layaknya manusia, virus bermutasi dengan tujuan agar dapat bertahan hidup. Corona virus sejak dulu kerap ditemui pada hewan seperti kelalawar, kucing dan burung.

Selain Covid-19 yang tengah mewabah, Demam Berdarah (DBD) juga kembali mewabah di tanah air. Dilansir dari laman Katadata.co.id, terdapat 25.693 orang penderita dengan 164 orang diantaranya meninggal dunia, per 15 Maret 2020. Demam berdarah merupakan penyakit yang disebabkan oleh penularan virus dengue pada seseorang. Menyebar melalui nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus dengan menggigit dan menghisap darah seseorang yang terinfeksi virus dengue.

Kasus Covid-19 pertama di Indonesia ditemukan pada awal Maret lalu, dilansir dari laman cnnindonesia.com, per 22 Maret 2020 terdapat 514 kasus, 29 diantaranya dinyatakan sembuh dan 48 meninggal dunia. Bila disandingkan dengan kasus DBD, Covid-19 lebih sedikit kasus yang ditemukan, lantas mengapa hanya kasus Covid-19 yang muncul di permukaan dan menyita perhatian?

Dikategorikan sebagai virus yang baru, Covid-19 menjadi perhatian utama untuk diatasi dan ditanggulangi penyebaranya. Covid-19 dapat menular melalui tetesan kecil orang terinveksi yang keluar melalui mulut dan hidung, kemudian tersentuh oleh orang sehat dan mengenai mulut, hidung atau matanya. Mudahnya penyebaran virus tersebut menjadi tantangan besar untuk dapat diatasi dengan baik.

Langkah pemerintah dengan ‘meliburkan’ sekolah dan perkuliahan juga menerapkan Work From Home bagi para pekerja, dinilai dapat menekan penyebaran Covid-19. Dengan mengajak masyarakat untuk melakukan Social Distancing atau tindakan mengurangi aktivitas di luar rumah atau berada di kerumunan orang banyak.

Imbauan pemerintah dan sosialisasi kepada masyarakat yang juga dilakukan oleh berbagai instansi menunjukan bahwa Covid-19 bukan lagi hal remeh-temeh yang dapat disepelekan. Senada dengan pernyataan WHO (World Health Organization) yang resmi mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi global. Itu artinya Covid-19 telah menyebar di seluruh dunia dengan melampaui batas, bukan lagi hal yang menjadi bahan candaan.

Setidaknya, terdapat tiga hal yang menyebabkan Covid-19 sedang diprioritaskan dalam penanganannya dari perkara lain, termasuk DBD. Skala prioritas bukan berarti membedakan mana yang penting atau tidak, tapi mana yang memiliki resiko yang lebih besar dan mesti disegerakan. Namun tidak dengan melupakan perkara lain yang juga mesti diatasi.

Pertama, Covid-19 merupakan virus corona yang baru bermutasi dan mewabah secara cepat. Sehingga pemerintah membutuhkan persiapan matang yang mesti dilakukan untuk mengatasinya. Pemerintah dan tim medis mesti ‘berkenalan’ dengan virus tersebut agar dapat mengenal karakter yang dimilikinya supaya pihak medis dapat menangani tanpa tertular. Terdapat pula beberapa kasus ditemukan jika ada tim medis yang terinfeksi Covid-19, maka dari itu hendaknya menjadi pengingat agar tim medis agar lebih berhati-hati.

Kedua, sebagai virus yang baru bermutasi, Covid-19 belum ditemukan vaksin untuk  menanganinya. Sehingga siapapun berpotensi terinveksi Covid-19. Ketiga, adanya tindakan yang dapat menghambat penyebaran Covid-19 seperti social distancing, lockdown atau Isolasi. Sedangkan Indonesia sendiri menggunakan sistem social distancing untuk menekan penyebaran virus yang menular dari jarak dekat. Beberapa hal tersebut merupakan alasan pemerintah yang mesti mengatasi Covid-19 terlebih dahulu.

Berbeda dengan demam berdarah, virus tersebut telah ada sejak lama, sehingga tidak menjadi hal tabu bila terdengar kasus DBD, tentunya dikategorikan penyakit berbahaya. Meskipun jumlah kasus demam berdarah banyak ditemukan di tanah air, penyebarannya terjadi melalui nyamuk sebagai perantara. Berbeda halnya dengan Covid-19 yang ditularkan dari manusia ke manusia secara langsung. Dewasa ini, seperti yang dikutip dari situs detik.com, pemerintah berencana melakukan pemeriksaan Covid-19 secara massal ke masyarakat yang beresiko terkena Corona.

Perbedaan tersebut membuat penanganan antara kedua virus itu pun menjadi berbeda. DBD yang ditularkan melalui nyamuk, sehingga langkah untuk membasmi penularan virus tersebut dengan membasmi nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albocpictus yang dapat berkembang biak disekitar kita. Diantaranya dengan tidak membiarkan genangan air, yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Kedati demikian, demam berdarah terkadang menjadi wabah tahunan yang banyak ditemukan pada musim hujan. Hal tersebut membuat demam berdarah penting untuk diatasi. Fogging yang kerap dilakukan termasuk sebagai upaya penanganan wabah demam berdarah.

Adapun, penanganan yang mesti dilakukan guna terhindar dari Covid-19 yaitu dengan mencuci tangan setelah berkegiatan, menjaga kebersihan diri dan lingkungan, hindari kontak fisik dengan orang dan binatang, meningkatkan daya tahan tubuh dengan makan makanan bergizi dan berolahraga, juga tetap berpikir positif.

Covid-19 memang berbahaya, namun memiliki peluang kesembuhan yang besar. Meskipun Indonesia menjadi negara tertinggi resiko kematian akibat Covid-19 dengan angka 8 persen, tidak menjadikan alasan kita putus harapan. Masih ada 92 persen peluang kesembuhan. Kendati demikian, tingginya angka kematian tersebut menjadi tugas bersama. Terutama pemerintah yang harus memperbaiki penanganan yang dinilai kurang maksimal, dan sudah seharusnya mengatasi wabah Covid-19 dengan serius dengan langkah yang tepat.

Jangan panik, artinya mengontrol diri agar tidak berpikir negatif sehingga pikiran tetap jernih. Terkadang penyakit yang kita miliki berasal dari kepanikan diri yang menjadi-jadi. Tidak panik bukan berarti bersikap acuh dan menganggap Covid-19 sebuah lelucon dan tidak berbahaya. Tetap waspada artinya menjaga diri agar terhindar dari Covid-19 dan melakukan kegiatan sesuai yang disebutkan di atas. Berhati-hati bukan berarti melakukan tindakan berlebihan hingga merugikan sesama manusia. Jangan panik, tetap waspada dan #dirumahaja.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.