Tue, 7 April 2026

Singgung Tradisi Kematian Toraja, Pandji Pragiwaksono Minta Maaf dan Penuhi Sanksi Adat

Reporter: CANTIKA PUTRI SONJAYA | Redaktur: RIANITARI LATIFA | Dibaca 848 kali

Sumber Foto: www.istockphoto.com

JURNALPOSMEDIA.COM – Kehadiran Panji Pragiwaksono dalam sidang adat yang digelar di Tongkonan Layuk Kaero, Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan, pada Selasa (10/2/2026) siang, menjadi perhatian masyarakat. Kehadiran tersebut menegaskan bahwa mekanisme peradilan adat masih dijalankan dan dihormati sebagai bagian dari sistem masyarakat Toraja.

Pernyataan dalam materi stand up comedy yang menyinggung tradisi kematian masyarakat Toraja memicu reaksi dari tokoh adat dan warga setempat, karena dianggap menyentuh ranah yang sakral. Dalam budaya Toraja, kematian bukan sekedar peristiwa duka, melainkan bagian penting dari adat dan penghormatan pada leluhur.

Materi tersebut dibawakan Panji Pragiwaksono dalam tur Mesakke Bangsaku pada 2013 sebagai bagian dari kritik sosial. Namun ketika cuplikannya kembali beredar, isi materi itu dinilai menyinggung nilai sakral dalam tradisi Toraja dan memicu keberatan dari masyarakat, yang kemudian mendorong penyelesaian melalui mekanisme adat.

Mengutip dari Kompas.com, salah satu hakim adat Toraja, Sam Barumbun, menyampaikan bahwa hasil musyawarah para pemangku adat memutuskan Panji Pragiwaksono dikenai sanksi adat berupa penyediaan dan pengorbanan lima ekor ayam serta seekor babi.

“Sebenarnya jumlah dan jenis hewan ini pada intinya bertujuan untuk pemulihan atas kesalahan yang telah terjadi,” ujar Sam Barumbun kepada wartawan, pada Selasa (10/2/2026).

Dalam prosesi tersebut, Pandji menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada 32 perwakilan wilayah adat Toraja yang hadir sebagai pemangku kepentingan adat. Ia menyebut materi yang menyinggung tersebut muncul karena keterbatasan pengetahuan serta pemahaman yang tidak mendalam mengenai budaya Toraja.

Dilansir dari Detik.com, hakim adat Toraja Sam Barumbun menjelaskan bahwa pernyataan Panji Pragiwaksono dinilai menyinggung.

“Saudara Pandji, mati di Toraja menjadi bagian terpenting dari kehidupan kami. Sehingga mati di Toraja menjadi sangat mahal. Karena di situlah kami mengembalikan sesuatu yang telah diberikan oleh Tuhan sang pencipta kami kepada Tuhan kembali,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa besarnya biaya dalam prosesi kematian merupakan wujud penghormatan masyarakat dalam mengembalikan pemberian Tuhan dengan sebaik-baiknya.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama