Tue, 25 August 2026

Pangandaran Blue Movement: KKN Tematik RMB Desa Pangandaran Dorong Kesadaran Nilai Ekoteologi melalui Edukasi dan Aksi Lingkungan

Reporter: Alifia Putri Desya Rani (Kontributor) | Redaktur: Sahara Putri Amiliana | Dibaca 32 kali

Sumber foto: Tim dokumentasi (Kontributor)

JURNALPOSMEDIA.COM — Menjaga lingkungan tidak hanya berkaitan dengan persoalan kebersihan, tetapi juga tentang bagaimana manusia memahami tanggung jawabnya terhadap alam. Gagasan tersebut diwujudkan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Rumah Moderasi Beragama (RMB) UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Desa Pangandaran melalui kegiatan Pangandaran Blue Movement dengan mengusung tema “Merawat Daratan, Menjaga Lautan.”

Kegiatan ini menjadi bagian dari program kerja Ekoteologi yang menghubungkan nilai keagamaan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Melalui dua rangkaian utama, yaitu Blue Education dan Blue Action, mahasiswa berupaya membangun kesadaran masyarakat bahwa menjaga alam merupakan bagian dari tanggung jawab manusia sebagai makhluk yang hidup berdampingan dengan lingkungan. Blue Education menghadirkan edukasi mengenai pengelolaan sampah, lingkungan pesisir, ekoteologi, serta pengenalan fasilitas lingkungan, sementara Blue Action menerjemahkan pengetahuan tersebut ke dalam aksi nyata melalui kegiatan bersih-bersih lingkungan dan pantai bersama masyarakat serta mitra.

Ketua pelaksana Pangandaran Blue Movement, Rahmat Hidayat, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi kawasan pesisir Pangandaran, khususnya Pantai Barat dan Pantai Timur, yang masih menghadapi persoalan sampah serta rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dan wisatawan terhadap pentingnya menjaga lingkungan.

“Lalu dari permasalahan tersebut kami berinisiatif membuat kegiatan Pangandaran Blue Movement yang kami kemas sekreatif mungkin agar bisa menumbuhkan kesadaran dan kebiasaan masyarakat sekitar,” ujar Rahmat.

Menurutnya, persoalan kebersihan daratan dan laut memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar persoalan estetika. Laut Pangandaran merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, baik dari sisi ekonomi, sosial, maupun budaya.

“Laut Pangandaran bukan hanya pemandangan, tetapi tentang ekonomi, sosial, budaya, bahkan masa depan masyarakat Pangandaran,” katanya.

Ekoteologi: Ketika Menjaga Alam Menjadi Bagian dari Nilai Keagamaan

Dalam perspektif keagamaan, manusia memiliki hubungan yang tidak terpisahkan dengan alam. Alam merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang keberadaannya perlu dijaga dan dirawat. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan tidak semata-mata berkaitan dengan kepentingan manusia, tetapi juga menjadi bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan untuk menjaga ciptaan-Nya.

Rahmat menekankan pemahaman tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa KKN Tematik RMB Desa Pangandaran dalam menerjemahkan nilai keagamaan ke dalam tindakan nyata. Menjaga kebersihan pantai, memilah sampah, menyediakan fasilitas pengelolaan sampah, hingga mengedukasi masyarakat menjadi bentuk sederhana dari upaya menjalankan tanggung jawab manusia terhadap lingkungan

“Sebagai manusia kita juga perlu memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita, khususnya alam dan tumbuhan, dan itu selaras dengan nilai-nilai ajaran agama,” ujarnya.

Dari Memungut Sampah hingga Belajar Memilah

Implementasi gagasan tersebut terlihat melalui Blue Action, salah satu rangkaian utama Pangandaran Blue Movement. Dalam kegiatan ini, peserta diajak melakukan aksi bersih-bersih secara langsung di kawasan pesisir.

Tidak berhenti pada aktivitas memungut sampah, kegiatan tersebut juga disertai edukasi kepada peserta, khususnya siswa sekolah dasar, mengenai pemilahan sampah berdasarkan jenisnya.

Rahmat menjelaskan bahwa peserta diperkenalkan pada perbedaan antara sampah organik dan anorganik agar kebiasaan memilah dapat mulai dibangun sejak dini.

Edukasi mengenai sampah kemudian diperkuat melalui sesi Blue Education bersama Rian Hidayat, S.A.B., Direktur Bank Sampah Induk Sahate.

Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai berbagai jenis sampah, mulai dari sampah organik, anorganik, hingga bahan berbahaya dan beracun (B3), beserta cara pengelolaannya.

Edukasi tersebut menjadi bagian penting dari gerakan karena persoalan sampah tidak cukup diselesaikan dengan memungut sampah yang sudah berada di lingkungan. Pengelolaan perlu dimulai dari sumbernya, termasuk dengan mengenali jenis sampah dan menempatkannya sesuai dengan karakteristiknya.

Dengan demikian, aksi membersihkan lingkungan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi diarahkan untuk membangun kebiasaan baru dalam kehidupan sehari-hari.

Fasilitas Tong Sampah sebagai Upaya Membangun Kebiasaan

Selain edukasi dan aksi bersih lingkungan, Pangandaran Blue Movement juga menghadirkan Blue Facility berupa penyediaan tempat sampah yang dapat digunakan untuk mendukung pemilahan sampah di sejumlah titik strategis.

Tempat sampah tersebut tidak diposisikan hanya sebagai hasil akhir program KKN. Fasilitas diserahkan kepada Pemerintah Desa Pangandaran sebagai bagian dari upaya agar pengelolaannya dapat terus dilanjutkan setelah mahasiswa KKN menyelesaikan masa pengabdiannya.

Ketua pelaksana menjelaskan bahwa penyerahan tong sampah merupakan bentuk kepedulian mahasiswa sekaligus implementasi pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan.

“Tujuan dari penyerahan tong sampah kepada pemerintah desa adalah sebagai bentuk kepedulian kami selaku mahasiswa KKN, serta menjadi salah satu pengimplementasian dari apa yang kami pelajari di bangku kuliah,” tutur Rahmat.

Kepala Desa Pangandaran, Adi Fitriadi, S.IP., turut mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN dalam kegiatan lingkungan dan pendampingan masyarakat selama berada di Desa Pangandaran.

Ia menyampaikan bahwa kegiatan menjaga kebersihan lingkungan juga penting untuk mendukung kenyamanan masyarakat dan wisatawan yang menikmati kawasan Pantai Pangandaran.

Menurut Adi, kegiatan tersebut diharapkan dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat serta menjadi pengalaman yang membawa keberkahan bagi mahasiswa KKN.

Gerakan yang Diharapkan Tidak Berhenti Setelah KKN

Persoalan lingkungan membutuhkan keberlanjutan. Karena itu, Pangandaran Blue Movement tidak hanya dirancang sebagai kegiatan satu hari.

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa KKN menjalin kemitraan dengan sejumlah pihak, di antaranya Bank Sampah Induk Sahate dan Pandu Laut Pangandaran, yang memiliki kegiatan rutin berkaitan dengan kebersihan lingkungan dan kawasan pantai.

Rahmat menyebut kerja sama tersebut menjadi salah satu cara agar gerakan yang telah dimulai dapat terus berjalan meskipun masa KKN mahasiswa telah berakhir.

“Harapan panitia agar gerakan ini tetap berlanjut adalah salah satunya kami menjalin mitra dengan berbagai pihak,” ujarnya.

Pada akhirnya, Pangandaran Blue Movement tidak hanya berbicara mengenai berapa banyak sampah yang berhasil dikumpulkan dari pantai. Lebih dari itu, gerakan ini berupaya membangun cara pandang bahwa lingkungan merupakan bagian dari kehidupan yang perlu dijaga bersama.

Melalui perspektif ekoteologi, kepedulian terhadap lingkungan ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia terhadap ciptaan Tuhan. Sementara melalui edukasi, fasilitas, dan aksi nyata, nilai tersebut diterjemahkan menjadi kebiasaan yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Merawat daratan dan menjaga lautan, dengan demikian, bukan sekadar slogan. Ia menjadi bentuk sederhana dari bagaimana nilai, pengetahuan, dan tindakan dapat dipertemukan untuk menjaga lingkungan Pangandaran.

 

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama