Mahasiswa Tanggapi Tren Investasi di Kalangan Minilenial

JURNALPOSMEDIA.COM – Tren investasi di kalangan generasi milenial, termasuk mahasiswa terus meningkat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat jumlah investor pasar modal mencapai 3,88 juta investor dan sebesar 54,8% merupakan investor dari kalangan milenial.

Salah satunya adalah mahasiswa Jurusan Manajemen Konsentrasi Keuangan UIN Bandung, Muhammad Afifudin. Ia terjun ke dunia investasi sejak 2020 lalu. Menurut Afif, risiko dalam berinvestasi dapat dikatakan sangat tinggi. Kendati begitu, jika mampu menghadapi risiko yang ada, justru keuntungan besar akan menjadi imbalannya. 

“Awalnya saya takut uang yang saya investasikan akan berkurang bahkan hilang. Namun setelah saya tahu cara kerja bursa saham, saya paham kalau uang tersebut tidak akan tiba-tiba hilang,” ungkap Afif saat dihubungi Jurnalposmedia, Senin (7/6/2021).

Kekhawatiran juga datang saat ia membuka rekening dan membeli saham di awal masa pandemi. Pasalnya, bursa saham saat itu sempat jatuh akibat ketakutan masyarakat terhadap virus baru, bahkan nilai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh ke level terendah selama delapan tahun terakhir.

Atas keyakinan yang kuat, Afif melanjutkan berinvestasi dan konsisten hingga sekarang. Hal yang perlu dilakukan sebelum menggeluti dunia investasi, imbuhnya, adalah mempelajari terlebih dahulu ragam instrumen dalam investasi.

“Sebelumnya kita harus tahu apa itu saham, belinya di mana, cara kerjanya bagaimana. Belajar tentang analisa, money management, membaca candle stick, chat pattern, dan tentu kita harus update berita-berita tentang perusahaan yang kita beli sahamnya,” tuturnya.

Senada dengan Afif, mahasiswa Jurusan Manajemen di salah satu universitas swasta, Steven Casidy menyebut tiga landasan ilmu yang harus dimiliki sebelum berinvestasi. Di antaranya fundamental, teknikal, dan bandarmology.

Ia juga berpendapat kesabaran menjadi salah satu hal penting yang perlu dimiliki investor. Bagaimana tidak, berdasarkan pengalamannya Steven pernah mengalami kerugian hingga Rp10 juta.

“Tantangan yang akan kita hadapi di dunia investasi sangat banyak. Sesuai dengan prinsipnya, semakin tinggi return yang diperoleh maka semakin besar risikonya, tapi kerugian lah yang menjadi penopang ilmu paling kuat, karena kita akan belajar dari kesalahan. Istilahnya, ilmu yang dibayar dengan pengalaman.”

Tips Berinvestasi Bagi Pemula

Afif melanjutkan mengenai apa saja yang perlu diperhatikan investor pemula.

1. Investasi dengan uang dingin

Uang dingin berarti uang yang tidak akan digunakan dalam jangka panjang. Hal ini bisa memperkuat mental dan menghindari dari stres dan depresi, jika sewaktu-waktu mengalami kerugian.

2. Selektif memilih perusahaan

Pilihlah saham dari perusahaan yang berkualitas, caranya dengan melihat laporan keuangan dan data historis harga saham perusahaan. Lebih mudah lagi jika kita memilih perusahaan yang produknya dapat dijumpai sehari-hari, seperti Indomie dari perusahaan Indofood, Bank BCA, dan Telkomsel dari perusahaan Telkom.

3. Menebar uang ke beberapa perusahaan

Jangan taruh telur dalam satu keranjang, karena jika jatuh maka akan pecah semua” ungkapan dari investor kelas kakap, Warren Buffet tersebut dapat ditafsirkan bahwa akan lebih baik membagi uang kita ke beberapa saham dari dua sampai empat perusahaan.

4. Memahami dan meminimalisir risiko dari keputusan yang diambil

“Terakhir kita juga harus paham risiko dan bisa membatasi risiko itu. Jangan serakah dan jangan sombong jika untung, kuatkan mental jika sedang mengalami kerugian, karena harga tidak hanya bergerak naik, tapi juga bisa turun, setelah turun juga bisa naik lagi. Jadi ya jangan dibawa stress, nikmati saja,” tutup Afif.

Leave A Reply

Your email address will not be published.