Thu, 28 May 2026

“Jangan Takut Ombak di Depan”, Kisah Perjuangan Anisa Meraih Penghargaan Best Writing

Reporter: Ririn Yuliani | Redaktur: Nida Rasya Kania | Dibaca 58 kali

JURNALPOSMEDIA.COMDibalik kesibukannya sebagai mahasiswi program studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Bandung, tersimpan perjuangan panjang yang mengantarkan Anisa Ayuda Nengsih meraih berbagai pencapaian di bidang jurnalistik dan multimedia. Mahasiswi yang aktif dalam berbagai organisasi sejak di bangku sekolah ini berhasil menunjukkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk seseorang berhenti bermimpi.

Sejak dahulu, ia tertarik dengan berbagai organisasi, seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Palang Merah Remaja (PMR), Karya Ilmiah Remaja (KIR), serta kegiatan Pramuka tingkat daerah hingga provinsi. Ia aktif mengikuti berbagai kegiatan karena ingin mempelajari berbagai hal sekaligus melatih kepemimpinan dan manajemen waktu. Dalam organisasi tersebut, Anisa dipercaya menjadi Ketua Divisi Pendidikan di OSIS, pemangku adat di Pramuka, serta menjadi sekretaris di PMR dan KIR. 

“Aku ingin tahu banyak hal, karena disitu mulai kebentuk kepemimpinan dan manajemen waktu,” ucap Anisa saat di wawancarai Jurnalposmedia pada Selasa (26/5/2026).

Saat menjadi mahasiswa, Anisa memiliki ketertarikan terhadap dunia jurnalistik lalu bergabung dengan Journalist Academy. Pendidikan tersebut sejalan dengan jurusan yang sedang ditempuhnya sekaligus menjadi wadah untuk memperdalam kemampuan multimedia.

Namun, perjalanannya tidak mudah. Pada masa awal masuk pendidikan Journalist Academy, ia mengalami sebuah tantangan terbesar, yaitu keterbatasan finansial dan  perangkat. Di tengah pendidikan, ia harus bekerja freelance dan Part time untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu biaya pendidikannya sendiri. Di saat peserta lain fokus belajar, justru ia harus membagi tenaga, pikiran, serta waktunya untuk bertahan. 

“Ada momen dimana aku capek secara fisik dan pikiran, karena harus membagi fokus antara tugas perkuliahan dan Journalist Academy,”  ungkapnya.

Selain menghadapi keterbatasan finansial, ia juga harus membagi waktu antara perkuliahan dan pendidikan di  Journalist Academy. Dirinya membuat daftar tugas dan menentukan skala prioritas agar jadwal kuliah tidak bentrok dengan kegiatan Journalist Academy. Cara tersebut membantu menyelesaikan tugas-tugas nya walaupun deadline yang berdekatan. Selain itu, ia pernah mengalami rasa takut dan kurang percaya diri pada awal mengikuti pendidikan.

Ada momen yang paling membekas dalam ingatannya. Saat perjalanan study visit ke Jakarta, Anisa justru harus menyelesaikan tugas edit video untuk seleksi beasiswa. Di dalam perjalanan, ia harus menatap layar laptop untuk menyelesaikan tugas tepat waktu. Namun, hasil yang didapat belum sesuai harapan. Ia gagal lolos seleksi beasiswa tersebut.

“Pas perjalanan ke Jakarta aku sambil edit video buat seleksi beasiswa, tapi aku belum lolos, dan itu sedih banget,” ucapnya.

Dibalik tantangan yang Anisa hadapi, Anisa mendapatkan penghargaan “Best Writing” dengan karya sastra novel yang berjudul “A Journey to Achieve Dreams” yang terinspirasi dari kehidupan orang-orang sekitar. Menurutnya, novel tersebut menggambarkan perjuangan seseorang dalam meraih mimpi meskipun harus menghadapi berbagai rintangan. Selain membuat novel, Anisa menjadi salah satu penulis film “Waktu yang Sama”. Menurutnya, tantangan terbesar dari penulis yaitu menggabungkan ide dari empat penulis.

“Jadi, momen pas dapet penghargaan Best Writing saat wisuda itu rasanya luar biasa banget. Buat aku, itu bukan sekedar penghargaan, tetapi mungkin hasil atas rasa lelah dan waktu yang dikorbankan,” ucapnya.

Anisa mengungkapkan bahwa dukungan keluarga menjadi salah satu alasan dirinya mampu bertahan hingga saat ini. Sang Ibu menjadi sosok yang selalu memberikan semangat ketika dirinya merasa lelah. 

“Mamah selalu bilang “jangan takut ombak yang ada di depan, kadang yang kita lihat besar sebenernya bisa dilewati,” kenangnya.

Keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkembang, melainkan pendorong untuk lebih kreatif. Dinamika organisasi itu akan menjadikan pembelajaran, pengalaman, bahkan pendewasaan. Untuk teman-teman yang sedang berjuang, teruslah melangkah meskipun perlahan, karena setiap proses yang kita jalani hari ini adalah investasi untuk masa depan yang lebih baik.

Setiap perjuangan yang dijalani bukan hanya tentang meraih penghargaan, tetapi tentang keberanian menghadapi rasa takut dan terus berjalan meskipun banyak rintangan.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama