Sun, 21 July 2024

Fakta di Balik Fenomena Cuaca Panas di Indonesia

Reporter: Lia Reliya | Redaktur: Annisa Azahra N | Dibaca 688 kali

Thu, 12 October 2023
(Ilustrasi: freepik.com)

JURNALPOSMEDIA.COM – Apakah Anda merasakan suhu panas yang cukup terik di beberapa pekan terakhir ini? Padahal seharusnya pekan ini sudah masuk musim hujan, bukan? Kira-kira apakah penyebabnya? Mari kupas penyebab cuaca panas Indonesia bersama Jurnalposmedia.

Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena ini membuat warga gelisah. Angka suhu pun diketahui melampaui batas maksimal normal. Berdasarkan hasil data BMKG, angka suhu di beberapa wilayah Indonesia menembus angka 35-38 derajat Celsius pada siang hari.

Sementara itu, suhu maksimum terukur di wilayah Jabodetabek berada pada kisaran 35 sampai 37,5 derajat Celsius dengan suhu maksimum terukur di wilayah Tangerang Selatan di akhir September. Cuaca panas ini diprediksi masih akan berlanjut hingga bulan Oktober bahkan November.

Lantas, mengapa fenomena ini terjadi? Berikut beberapa fakta dibalik fenomena cuaca panas di Indonesia.

1. Kondisi Cuaca yang Cerah dan Minimnya Pertumbuhan Awan

Laman resmi BMKG menyebutkan kondisi tersebut terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di Jawa hingga Nusa Tenggara (termasuk Jabodetabek). Kondisi ini menyebabkan penyinaran matahari pada siang hari ke permukaan bumi tidak mengalami hambatan signifikan oleh awan di atmosfer. Fenomena tersebut mengakibatkan suhu pada siang hari di luar ruangan terasa sangat terik.

2. Pengaruh Posisi Matahari

Akhir-akhir ini, posisi semu matahari menunjukkan pergerakan ke arah selatan ekuator. Hal tersebut menunjukkan sebagian wilayah Jawa hingga Nusa Tenggara mendapatkan pengaruh dampak penyinaran matahari yang relatif lebih intens dibandingkan lainnya.

3. Kelembapan Tinggi

BMKG mengungkapkan kelembapan udara merupakan salah satu alasan dibalik terjadinya cuaca panas ini. Hal tersebut terjadi karena saat suhu udara panas dan kelembapan udara tinggi, udara sekitar mengandung banyak uap air yang memicu keringat tidak dapat menguap dengan cepat sehingga membuat suhu terasa panas. Sebaliknya, ketika suhu udara panas dan kelembapan udara rendah, udara sekitar tidak mengandung banyak uap air sehingga keringat menguap dengan cepat dan suhu udara pun terasa lebih dingin.

Unggahan di akun Instagram BMKG menginformasikan indeks paparan ultraviolet (UV) yang akan terjadi pada 12 Oktober 2023 hampir di seluruh Indonesia. Indeks UV ini termasuk kategori sangat tinggi dan ekstrem karena dapat merusak kulit dan mata apabila terpapar sinar matahari secara langsung.

BMKG menghimbau kepada masyarakat untuk senantiasa menjaga kondisi stamina tubuh dan mencukupi cairan tubuh terutama untuk warga yang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Hal tersebut untuk menghindari terjadinya segala hal buruk seperti dehidrasi, kelelahan, dan dampak lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments