Wed, 29 April 2026

Memaknai Hari Sumpah Pemuda

Reporter: Syfa Qulbi | Redaktur: Monica Deasy Deria | Dibaca 1175 kali

Ilustrasi oleh Google.
Ilustrasi oleh Google.

JURNALPOSMEDIA.COM – Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia. Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Tiga sumpah yang kala itu di bacakan saat Kongres Pemuda pada 27-28 Oktober 1928, menjadi bukti bahwa saat itu bangsa Indonesia sudah ada dan bersatu. Dari tiga sumpah diatas mengandung makna cita-cita bangsa Indonesia bahwa akan ada tanah air satu, bangsa yang satu dan bahasa persatuan. Sumpah pemuda merupakan awal bersatunya pemuda Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan, dan terbukti pada 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia merdeka. Hasil perjuangan pemuda pemudi Indonesia dapat kita rasakan hingga sekarang, maka setiap tanggal 28 Oktober menjadi agenda wajib untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda.

Salah seorang mahasiswa Jurnalistik UIN Bandung, Asep Aang Hidayat memaknai Sumpah Pemuda sebagai refleksi bagaimana para pendahulu memerjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dijelaskan dalam sejarah kala itu, Moh Yamin dan kawan-kawan memerjuangkan kemerdekaan dengan kemauan dan tekad yang besar untuk bangsa ini.

Pemuda memiliki pengaruh yang sangat besar bagi sebuah bangsa terutama bangsa Indonesia. Pemuda menjadi harapan bangsa untuk melanjutkan cita-cita mulia. Hal tersebut bahkan diungkapkan oleh Soekarno dalam pidatonya.

“Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.” Jelas sudah makna dari perkataan Sang Proklamator, bahwa pemuda memang memiliki peran besar dalam melakukan perbahan suatu bangsa.

Peringatan Hari Sumpah Pemuda dilakukan dengan bermacam-macam, seperti upacara bendera, perlombaan, pesta rakyat, aksi, seminar, hingga diskusi.

Melihat banyaknya pemuda yang larut dalam kebebasan menuju hal-hal negatif, Mahasiswa Jurnalistik semester lima, Mila Mawardianti berpesan kepada pemuda di era globalisasi untuk memperkuat agama, iman dan taqwa, disamping ilmu pengetahuan.

Mila memaknai Sumpah Pemuda sebagai dasar nasionalis. Pemuda saat ini tidak harus berjuang sendiri, melainkan bersama-sama. Bukti tindakannya pemuda di era globalisasi harus mampu mengimplementasikan dari setiap butir sumpah tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama