Dampak Buruk Overthinking Bagi Psikologis dan Kesehatan

Manusia merupakan mahluk yang paling sempurna dibandingkan dengan ciptaan tuhan lainnya. Manusia diberkahi akal dan pikiran agar dapat membedakan mana hal yang baik dan buruk. Itulah yang membedakan manusia dengan hewan dan tumbuhan.

Manusia diberikan kemampuan berpikir (akal) sebagai anugerah atau modal terbesar yang diberikan kepada manusia. Otak adalah alat yang kita gunakan untuk berpikir. Otak yang kita gunakan untuk berpikir,  merupakan alat terpenting bagi kita untuk belajar dan melakukan sesuatu, lebih jauh lagi untuk dapat bertahan hidup.

Untuk melakukan setiap kegiatan manusia perlu berpikir untuk mengambil sebuah keputusan. Setiap individu memiliki cara berpikir masing-masing. Ada yang berpikir cepat dan ada juga yang penuh dengan pertimbangan (berlebihan). Namun sesuatu yang berlebihan juga tentunya tidak baik seperti halnya dalam berpikir.

Berpikir secara berlebihan biasa disebut overthinking dan sering juga disebut  paralysys analysys. Orang yang overthinking disebut overthinker. Hal tersebut dapat memberikan dampak positif dan juga negatif tergantung dari intensitas dan seberapa besar hal itu terjadi.

Dosen Psikologi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, Eli Marlina, menjelaskan bahwa overthinking adalah seseorang yang berlebihan dalam berpikir. Orang yang mengalami hal tersebut memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya berhati-hati dalam memutuskan sebuah keputusan dan juga seorang problem solver yang baik.

Overthinking juga termasuk kedalam psychological disorder atau gangguan psikologis karena dapat membuat kecemasan (anxiety) pada penderitanya. Seseorang yang memiliki kecemasan berlebih dapat menimbulkan sakit fisik. Overthinking juga sering disebut paralysys analysys, dimana orang tersebut terus menerus memikirkan suatu permasalahan tanpa menemukan solusi (buntu).

“Mereka akan mengalami yang namanya psychosomatic atau rasa sakit di tubuh (fisik) karena kecemasan berlebihan dan pada akhirnya akan menyebabkan stres lalu berlanjut menjadi depresi. Jika sudah mencapai depresi maka bisa dikatakan sebagai psychological disorder atau gangguan psikologi,” ujar Eli Marlina saat diwawancarai di Ruang Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung.

Ia juga menambahkan, mereka yang overthinking akan berpengaruh terhadap produktivitas dan daya kreativitasnya.

Overthinking juga dapat mempengaruhi produktivitas, kreativitas dan juga kesehatan fisik dan mental penderitanya. Jadi, Overthinking lebih banyak ke dampak buruknya dari pada positifnya. Sangat disarankan bagi mereka untuk berlatih perilaku, karena dalam teori behavioral perilaku itu dapat direkayasa sehingga kita dapat merekayasa pikiran kita agar tidak overthinking lagi,” katanya.

Selektif dalam memilih teman dan pergaulan juga menurutnya berpengaruh terhadap munculnya overthinking yang dimiliki seseorang.

“(Lalu) pilihlah teman yang dapat membuat kita terhindar dari overthinking dan perbanyak beraktivitas untuk mencegah menyendiri,” tutupnya.

Dokter Umum Indah Citra Handayani, lebih lanjut menambahkan bahwa dalam kajian kedokteran tidak ada istilah yang disebut overthinking. Namun, dalam dunia medis dikenal dengan deteksi dua menit dan nanti keluhan seperti overthinking akan muncul dan tergantung seberapa parah hal tersebut lalu kita dapat mengklasifikasikannya sebagai gangguan kejiwaan. Orang yang berpikir secara berlebihan akan menimbulkan kecemasan berlebih dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Overthinking dapat mempengaruhi kesehatan jika kadarnya berlebihan. Di mana mental emosional ini mengganggu sehingga menyebabkan gangguan tidur, perilaku, emosi, pikiran dan persepsi akan berdampak buruk bagi kesehatan. Apakah hal itu dirasakan dalam jangka waktu yang singkat atau berkepanjangan berpengaruh ke cara penanganannya. Jika berkepanjangan
maka harus dilakukan terapi perilaku atau dengan obat-obatan,” ujar Indah.

Dalam persepsi penderitanya, mereka selalu memikirkan sesuatu secara berlebihan yang. Terkadang membuat si penderitanya tidak menemukan jalan keluar dari permasalahan. Si penderita biasanya selalu merasa cemas karena pikirannya sendiri, merasa terjebak dalam pemikirannya sendiri karena membuat permasalahan yang sederhana menjadi rumit.

Kecemasan yang berlebihan inilah yang menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan mental dan tubuh si penderitanya. Merasa kelelahan fisik dan mental karena terkuras oleh pemikirannya sendiri. Bahkan jika sudah cukup parah si penderita akan stres hingga depresi.

“Disetiap memiliki masalah saya selalu merasa overthinking dimana hal itu membuat diri saya cemas dan sulit untuk beristirahat, nafsu makan hilang dan bahkan sampai merasa depresi. Hal itu berulang kali saya rasakan ketika menyendiri. Namun, jika kita bisa membuka diri kepada teman dan memperbanyak aktivitas maka akan sedikit mengalihkan pikiran kita dari
overthinking,” ujar Kiki penderita overthinking.

Seharusnya masalah ini tidak dianggap sepele oleh para penderitanya. Jika dibiarkan, maka dapat berakibat buruk bagi kehidupannya. Mereka harus diberikan dorongan berupa dukungan oleh orang-orang disekitarnya.  Karena orang yang mengalami overthinking dapat mengalihkan pikirannya jika dapat membuka diri untuk bersosialisasi dan beraktivitas normal pada umumnya. Bisa juga melakukan terapi perilaku untuk mengalihkan pemikiran akan overthinkingnya tersebut.

Rekomendasi

2 Comments

Leave A Reply

Your email address will not be published.