Editor Video Harus Pahami Komposisi dan Perasaan Penonton

JURNALPOSMEDIA.COM- Setelah sebelumnya sering mengadakan Kelas Menulis, kini Bidang Pers Himpunan Mahasiswa (HIMA) Jurnalistik UIN Bandung mengadakan kelas editing video. Pemateri diisi oleh Videografer Revenge The Fate dan Bandung Offroad Andre Destian, yang juga merupakan alumni Jurnalistik UIN Bandung angkatan 2014. Kelas editing video digelar di Sekretariat Jurnalistik, Student Center (SC) lantai 2, Selasa, (12/11/2019).

Secara garis besar, dunia videografi terbagi menjadi tiga tahap. Praproduksi, produksi dan pasca produksi. Adapun editing itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu editing offline dan editing online. Editing Offline adalah salah satu tahap dalam proses editing yaitu memotong gambar dalam bentuk kasar kemudian menambah backsound dan bila diperlukan menambah VO (voice over).

Sedangkan editing online adalah tahapan finishing yang merupakan tahap yang paling lama. Itu karena editing online merupakan tahap lanjutan yaitu memperbaiki potongan gambar dengan cara memberikan efek pada gambar tersebut sesuai dengan kebutuhan dan menyempurnakan audio yang masih kasar.

Menurut Andre, tahap editing ini merupakan sesuatu yang harus dilakukan secara praktik atau Learning by Doing. Hal tersebut tidak bisa membicarakan teori saja. Karena bagi seorang editor, pengalaman dan referensi menjadi suatu kunci keberhasilan.

“Untuk menciptakan video yang baik, kita harus menguasai terlebih dahulu tentang transisi yang akan digunakan untuk menyatupadukan video satu dengan video yang lainnya. Selain itu, editor yang baik adalah editor yang memahami komposisi dan perasaan penonton,” ucap Andre.

Andre melanjutkan, dalam tahap editing bisa memakai aplikasi apa saja sesuai kebutuhan dan tujuannya.

“Adobe Premiere Pro CC 2017 adalah salah satu software editing favorit saya setelah Movie Maker. Terlepas dari itu, yang penting semua video dijadikan satu folder untuk memudahkan dan mengefektifkan waktu dalam proses editing,” lanjutnya

Ia pun menuturkan pentingnya membuat komunitas video. Hal tersebut karena orang-orang yang memiliki passion dalam dunia videografi bisa berkumpul dan mengerjakan suatu video seperti video dokumenter atau video sederhana  berdurasi 1 menit saja. Tujuannya agar ilmunya bisa dipraktikkan secara kontinyu dan menghasilkan karya yang memuaskan.

“Komunitas video sebenarnya cukup penting. Soalnya mereka yang punya passion ataupun minat bidang videografi bisa berkumpul di situ. Mereka bisa saling bertukar pikiran atau sharing dan pastinya agar ilmu yang dipraktikkan bisa terus berlanjut juga bisa menghasilkan karya yang memuaskan,” kata Andre

Salah satu mahasiswa Aqidah Filsafat Islam, Nizar Aunul Hakim sepakat dengan Andre. Ia setuju dengan harus dibentuknya komunitas video.

“Seperti kata pemateri, kita harus bikin semacam komunitas video. Buka laptop bareng-bareng terus ngedit biar kita sama-sama bisa mengembangkan ilmu videografi,” tutup Nizar.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.