Mon, 8 June 2026

Mahasiswa dan Kecenderungan Jiplak AI: Kecerdasan atau Kemunduran Cara Berpikir

Reporter: Rio Lutfan Yudi Putra/Kontributor | Redaktur: KHOIRUNNISA FEBRIANI SOFWAN | Dibaca 754 kali

(Sumber foto: Pinterest)

JURNALPOSMEDIA.COM – Kecenderungan copy-paste (jiplak) AI di kalangan mahasiswa sudah tidak bisa lagi terhindarkan. Di era digital yang serba cepat ini, kecerdasan buatan telah menjadi alat bantu bagi mahasiswa dalam menyelesaikan tugas. Chat GPT, Blackbox AI dan sejenisnya telah menawarkan kemudahan luar biasa dalam hal perangkuman materi, pembuatan makalah, esai bahkan skripsi yang sudah sepatutnya dikerjakan dengan keseriusan dan pengalaman pribadi mahasiswa.

Dalam beberapa tahun terakhir penggunaan AI di dunia akademik melonjak sangat drastis. Dikutip dari laman GoodStats, sebanyak 95 persen mahasiswa di Indonesia gunakan AI dalam proses pembelajaran. Secara global angka ini menunjukkan betapa masifnya penggunaan teknologi dikalangan generasi muda.

Mahasiswa bisa mendapatkan ide, tulisan, dan analisis data dalam hitungan detik hanya dengan mengetikkan perintah, yang seharusnya bisa merangsang kreativitas mereka jika digunakan dengan benar. Namun, kenyataannya sering kali berbeda, di mana AI dijadikan jalan pintas tanpa proses pemahaman mendalam.

Masalah utama muncul ketika kecenderungan copy-paste ini dinormalisasikan. Praktik ini tidak hanya melanggar etika akademik, tapi juga menghambat kemampuan analisis, pemahaman dan cara berpikir dalam dunia pendidikan. Mahasiswa berisiko kehilangan keterampilan berpikir yang menjadi pilar utama di dunia profesional.

Dalam kasus ini mahasiswa perlu mengingat bahwa AI tidak memiliki sesuatu yang dimiliki oleh manusia, yaitu: intuisi, dan pengalaman pribadi. Intuisi muncul dari pemahaman yang terbentuk melalui interaksi di dunia nyata, yang sama sekali tidak bisa direplikasi oleh AI yang hanya bergantung pada data yang bisa ditemukan di internet. Pengalaman pribadi pun memberi inspirasi autentik yang sulit untuk diduplikasi oleh kecerdasan buatan.

Perguruan tinggi perlu banyak mengubah metode pembelajaran, dari mulai evaluasi, memperbanyak presentasi, diskusi kelas, ujian lisan, dan praktik lapangan. AI boleh digunakan sebagai alat bantu untuk menemukan ide atau hal lainnya, tetapi mahasiswa juga wajib menunjukkan proses berpikir mereka.

AI adalah alat yang sangat kuat, namun pendidikan dalam perguruan tinggi bukan tentang menghasilkan pengguna AI yang efisien, melainkan seorang pemikir kritis yang mampu menggunakan teknologi untuk memperdalam proses intelektual. Pilihan kita hari ini yang akan menentukan masa depan akademik. Membiarkan AI menjadi alat yang membuat kemunduran cara kita berpikir atau menjadikannya sebagai tangga yang mengantar kecerdasan berpikir yang lebih tinggi.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama