Thu, 16 July 2026

Penghargaan Adhi Djati Sebagai Buah dari Perjalanan Panjang Siti Nafilah Izzaty

Reporter: Sahara Putri Amiliana | Redaktur: Nida Rasya Kania | Dibaca 31 kali

Sumber foto: Dokumentasi pribadi

JURNALPOSMEDIA.COM — Penghargaan Adhi Djati menjadi penutup manis perjalanan akademik Siti Nafilah Izzaty pada Wisuda ke-108 UIN Bandung, Sabtu (11/7/2026). Namun, penghargaan itu bukan tujuan utamanya selama kuliah. Ia memandang penghargaan tersebut sebagai hasil dari proses panjang. Baginya, setiap langkah memiliki makna yang berharga.

Rasa syukur dan bahagia masih dirasakan Siti setelah menerima penghargaan tersebut. Ia mengaku tidak pernah membayangkan pencapaian itu. Dukungan keluarga menjadi kekuatan dalam setiap perjuangannya. Penghargaan tersebut memotivasinya untuk terus memberi manfaat.

Alhamdulillah, saya merasa sangat bersyukur dan tentunya bahagia bisa dipercaya menjadi salah satu penerima Penghargaan Adhi Djati. Bagi saya, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, tetapi merupakan hasil dari doa, usaha, dan proses panjang selama menempuh pendidikan. Penghargaan ini menjadi amanah untuk terus belajar, berkarya, dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya pada Senin (13/7/2026).

Sejak awal kuliah, Siti bertekad memanfaatkan setiap kesempatan untuk berkembang. Ia aktif mengikuti organisasi, penelitian, kompetisi, dan pengabdian masyarakat. Ia juga menjadi narasumber seminar serta menulis karya ilmiah. Berbagai pengalaman itu membentuk karakter dan tanggung jawabnya.

Ia memanfaatkan masa kuliah sebaik mungkin. Aktif dalam organisasi, penelitian, kompetisi, dan pengabdian masyarakat. Semua pengalaman itu membentuk karakternya untuk terus bertumbuh. Baginya, proses membawa pelajaran yang berharga.

Menjadi mahasiswa tidak hanya mengejar nilai akademik. Pengalaman di luar kelas membentuk kepemimpinan dan kemampuan komunikasi. Penelitian mengasah cara berpikir kritis. Semua pengalaman itu menjadi bekal untuk mengabdi kepada masyarakat.

“Prestasi akademik memang penting, tetapi pengalaman juga sangat berharga. Saya ingin ilmu yang dimiliki bermanfaat bagi masyarakat. Karena itu, saya terus mengembangkan diri. Saya percaya setiap kesempatan adalah ruang untuk belajar,” tuturnya.

Tantangan terbesar yang dihadapi adalah membagi waktu. Ia harus menjalankan banyak tanggung jawab secara bersamaan. Siti mengatasinya dengan membuat skala prioritas. Disiplin dan doa menjadi kunci menjaga konsistensi.

“Saya membuat skala prioritas dan target harian. Saya disiplin menjalankan jadwal yang telah dibuat. Setiap usaha selalu saya iringi dengan doa. Semua itu membantu saya tetap konsisten,” ujarnya.

Siti berpesan agar mahasiswa tidak pernah takut bermimpi besar dan tidak meragukan kemampuan diri sendiri. Ia mengajak mahasiswa menikmati setiap proses tanpa takut menghadapi kegagalan. Menurutnya, setiap kegagalan selalu membawa pelajaran yang berharga. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak hanya mengejar penghargaan, tetapi juga kebermanfaatan bagi masyarakat.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama