JURNALPOSMEDIA.COM – “Jangan menunggu sempurna untuk memulai.” Kalimat itu keluar tenang dari Intan Samrotul Fuadah, mahasiswi Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), saat menceritakan perjalanan panjangnya meraih berbagai pencapaian selama kuliah. Jawabannya sederhana, namun cukup menggambarkan proses panjang yang selama ini ia jalani sebagai mahasiswa yang terus berusaha berkembang.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi, Intan dikenal sebagai sosok yang tidak ragu mengambil peluang baru. Baginya, setiap kesempatan yang datang merupakan ruang untuk belajar dan bertumbuh. Di balik berbagai pencapaian yang diraihnya, ada proses yang tidak selalu mudah untuk dilalui.
”Aku ingin menghargai kesempatan yang ada dan membuat orang tua bangga,” ujarnya saat diwawancarai Jurnalposmedia (17/6/2026).
Bagi Intan, pendidikan bukan hanya soal hadir di ruang kelas dan memperoleh nilai akademik. Pendidikan juga menjadi jalan yang membawanya mengenal banyak pengalaman baru, bertemu banyak orang, dan membuka berbagai peluang yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Namun, perjalanan sebagai mahasiswa berprestasi tidak selalu berjalan mulus. Pada masa awal kuliah, Intan pernah berada dalam situasi yang membuat ruang geraknya cukup terbatas. Keadaan tersebut membuatnya tidak bisa mengikuti berbagai aktivitas yang sebenarnya ingin ia jalani.
Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti, Intan memilih memaksimalkan hal-hal yang masih bisa ia lakukan. Ia lebih fokus pada akademik, aktif mengikuti perkuliahan, dan berusaha menunjukan kemampuan terbaiknya melalui berbagai tugas yang diberikan.
Perlahan, usaha tersebut mulai membuahkan hasil. Konsistensinya membuat dirinya dikenal oleh sejumlah dosen. Dari sana, berbagai kesempatan mulai berdatangan. Intan dipercaya menjadi staf kerja sama program studi, membantu kegiatan akademik, hingga terlibat dalam sejumlah penelitian dosen.
Kepercayaan itu menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan baginya. Dari seorang mahasiswa biasa , ia tiba-tiba memperoleh kesempatan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan akademik yang sebelumnya hanya ia lihat dari kejauhan.
“Aku nggak pernah nyangka bisa dipercaya sampai sejauh itu. Dari mahasiswa biasa, tiba-tiba dilibatkan dalam berbagai penelitian dan kegiatan akademik,” tuturnya.
Tidak hanya terlibat dalam satu kegiatan, Intan bahkan dipercaya mengikuti tiga penelitian dalam waktu yang hampir bersamaan. Dalam prosesnya, ia membantu menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB) penelitian bernilai ratusan juta rupiah. Pengalaman tersebut memberinya wawasan baru tentang dunia akademik yang selama ini belum pernah ia kenal
Selain itu, Intan juga membantu menyusun buku luaran penelitian yang nantinya diterbitkan dan memiliki International Standard Book Number (ISBN). Dari proses tersebut, ia berkesempatan memperoleh Hak Kekayaan Intelektual (HKI), sesuatu yang menurutnya menjadi pencapaian penting dalam perjalanan akademiknya.
Meski telah memperoleh banyak kesempatan, Intan mengaku tantangan terbesar justru datang dari dirinya sendiri. Sifat perfeksionis, kebiasaan over thinking, serta kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain seringkali menjadi hambatan yang harus dihadapi.
“Aku sadar kalau musuh terbesar itu bukan orang lain, tapi diri sendiri,” tuturnya.
Kesadaran tersebut semakin kuat ketika Intan mulai menghadapi berbagai kegagalan. Salah satu pengalaman yang paling membekas terjadi saat mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Setelah berhasil lolos di tingkat universitas, proposal yang diajukannya belum berhasil melaju ke tingkat nasional.
Kegagalan itu sempat menimbulkan rasa kecewa. Namun, seiring berjalannya waktu, Intan mulai memahami bahwa tidak semua usaha harus berakhir dengan keberhasilan. Ada kalanya seseorang harus belajar menerima hasil yang tidak sesuai harapan.
Biasanya, ia menuliskan berbagai perasaan yang dirasakan melalui journaling. Setelah itu, ia mencoba melakukan refleksi dan mencari hal-hal yang masih bisa diperbaiki untuk kesempatan berikutnya.
Baginya, kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan. Justru dari proses tersebut ia belajar untuk lebih mengenal dirinya sendiri dan memahami bahwa setiap pencapaian membutuhkan waktu yang berbeda.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya pada salah satu pengalaman yang sangat berkesan, yakni mengikuti program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) internasional di Malaysia. Kesempatan tersebut menjadi jawaban atas impian yang selama ini ia simpan untuk mengikuti program internasional.
Di Malaysia, Intan mengajar anak-anak dengan latar belakang sosial yang beragam. Sebagian dari mereka bahkan mengalami keterbatasan akses terhadap pendidikan formal. Pengalaman tersebut membuatnya melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
“Ternyata selama ini aku hidup dengan banyak kemudahan yang mungkin tidak dimiliki orang lain. Dari situ aku jadi lebih bersyukur dan empati,” ujarnya.
Selain memperoleh pengalaman mengajar, Intan juga membangun relasi dengan mahasiswa, dosen, profesor, dan akademisi dari berbagai universitas. Pertemuan-pertemuan tersebut membuka wawasan baru sekaligus memperluas jejaring yang dimilikinya.
Menurut Intan, pendidikan telah membawanya pada berbagai pengalaman yang sebelumnya hanya menjadi impian. Dari ruang kelas, penelitian, hingga program internasional, semuanya menjadi bagian dari proses yang membentuk dirinya saat ini.
“Pendidikan yang membawa aku sampai sejauh ini. Pendidikan juga yang membuat aku yakin suatu hari bisa melihat lebih banyak tempat di dunia,” katanya.
Dari seluruh perjalanan yang telah dilalui, Intan memetik satu pelajaran penting bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berkembang selama berani mencoba. Tidak semua langkah akan berakhir dengan keberhasilan, tetapi setiap usaha selalu memberikan pelajaran yang berharga.
Dan mungkin, dari semua proses yang telah dijalaninya, Intan sedang membuktikan satu hal sederhana, yaitu kesempatan tidak selalu datang kepada mereka yang paling hebat, tetapi sering kali datang kepada mereka yang terus bertahan dan berani mencoba, bahkan ketika hasilnya belum terlihat.















