JURNALPOSMEDIA.COM – Pegiat Aksi Kamisan Bandung menggelar acara “September Hitam: Negara Pembela Kekerasan” di Red Raws Center, Pasar Antik Cikapundung, Bandung, pada Jumat (26/9/2025). Kegiatan ini menghadirkan diskusi publik dan pemutaran video dokumenter sebagai refleksi atas pelanggaran HAM masa lalu dan kekerasan negara yang masih terjadi.
Aksi damai ini berawal dari keresahan masyarakat Indonesia, khususnya warga Bandung atas kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang tak kunjung tuntas. Pegiat Aksi Kamisan Bandung, Faya mengungkapkan lebih dari 10 tahun pemerintah tak ambil tindakan.
“Selama lebih dari 13 tahun Aksi Kamisan di Bandung dan lebih dari 17 tahun di Jakarta, tidak ada respons berarti dari pemerintah. Itu membuktikan negara tidak serius menyelesaikan pelanggaran HAM,” ungkapnya pada Jumat (26/9/2025).
Faya menjelaskan, tema “September Hitam: Negara Pembela Kekerasan” dipilih sebagai refleksi atas maraknya penangkapan sewenang-wenang yang dilakukan aparat saat aksi demonstrasi. Ia menambahkan, bulan September juga kerap menjadi pengingat peristiwa pelanggaran HAM di masa lalu yang belum diselesaikan.
Menurutnya, forum diskusi dan pameran video menjadi ruang bertukar pikiran sekaligus merawat ingatan kolektif masyarakat. Ia menegaskan bahwa publik tidak bisa hanya diam di tengah praktik penindasan.
“Kita harus terus melawan kesewenang-wenangan negara,” ujarnya saat ditemui Jurnalposmedia.
Selain diskusi, panitia menayangkan pameran video berjudul “Semakin Gelap”. Tayangan tersebut menampilkan dokumentasi berbagai kasus kekerasan negara. Pameran ini diharapkan dapat menjadi alarm agar masyarakat lebih peduli terhadap isu HAM.
Salah seorang pengunjung, Baim mengaku, merinding dengan pameran video tersebut. Ia menilai dokumentasi korban membuat isu HAM terasa dekat dan relevan dengan situasi hari ini.
“Merinding, kayak ditampar, bahwa penderitaan mereka bukan sekadar cerita masa lalu, tapi sesuatu yang masih relevan dan butuh disuarakan,” katanya.
Baim menambahkan, perhatian publik terhadap isu HAM masih minim karena banyak orang lebih memilih fokus pada hiburan di media sosial. Ia menilai generasi muda bisa berperan melalui cara sederhana, seperti belajar sejarah secara kritis, memanfaatkan media sosial, hingga berpartisipasi dalam aksi damai.
Acara ditutup dengan pesan solidaritas bahwa korban pelanggaran HAM tidak sendirian. Panitia maupun pengunjung berharap isu ini terus diperjuangkan agar tidak sekadar menjadi ingatan, melainkan dorongan nyata untuk melawan represi negara.
















