Mon, 7 September 2026

Dampak Kabut Asap Tebal Karhutla Membuat 647 Sekolah di Sarawak Malaysia Ditutup Sementara

Reporter: Chaifa Aulia | Redaktur: Nida Rasya Kania | Dibaca 55 kali

Sumber foto: AP Photo/Xpin Voon

JURNALPOSMEDIA.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak di dalam negeri, tetapi juga menyebar ke beberapa negara tetangga, salah satunya Malaysia. Polusi udara yang memasuki wilayah Serian, Sarawak, telah mencapai status darurat pada Jumat (4/9/2026) pagi. Hal ini menyebabkan 647 sekolah dasar dan menengah di Sarawak ditutup sementara karena kualitas udara yang tidak sehat.

Dilansir dari Kompas.com, Indeks polusi udara di Serian, sebuah kota kecil di dekat perbatasan dengan Pulau Kalimantan, melonjak menjadi 521. Kota Serian yang berjarak 60 kilometer dari ibu kota Sarawak, Kuching, juga menunjukkan angka berbahaya, yakni sebesar 311.

Malaysia menetapkan nilai indeks polusi udara dari 0 sampai 50 sebagai baik, 101 sampai 200 sebagai tidak sehat, 201 sampai 300 sebagai sangat tidak sehat, dan di atas 300 sebagai berbahaya.

Dampak dari karhutla Kalimantan membuat kabut asap menyelimuti Kuala Lumpur, Malaysia. Salah satu gedung ikonik, Petronas Towe, hampir tidak terlihat akibat kabut asap yang menutupi.

Selain itu, dikutip dari kantor berita Malaysia Bernama, akibat dari kabut asap ini, sebanyak 647 sekolah dasar dan menengah di Sarawak ditutup sementara selama lima hari, mulai 7 hingga 11 September 2026. Keputusan tersebut diambil berdasarkan pemantauan berkelanjutan terhadap Indeks Pencemar Udara (IPU) selama masa libur sekolah serta laporan dari Departemen Meteorologi Malaysia atau METMalaysia.

Dari 647 sekolah yang ditutup, sebanyak 563 sekolah dasar dengan total 108.477 siswa, sementara 84 sekolah lainnya merupakan sekolah menengah dengan total 90.082 siswa. Dengan demikian, kebijakan tersebut berdampak pada hampir 200.000 siswa di Sarawak.

Sekolah-sekolah yang ditutup berada di bawah pengawasan 12 kantor pendidikan distrik, yakni Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, Kanowit, Julau, dan Meradong.

Namun, kegiatan belajar mengajar tidak sepenuhnya dihentikan. Para siswa mengikuti pengajaran dan pembelajaran di rumah selama sekolah ditutup sementara.

Departemen Pendidikan Sarawak meminta sekolah mengikuti prosedur operasional standar serta memprioritaskan kesehatan dan keselamatan siswa maupun guru. Sekolah juga diminta terus memantau kualitas udara di wilayah masing-masing melalui sistem Air Pollutant Index Management System (APIMS). Seiring perkembangan kondisi kabut asap, kebijakan yang diterapkan dapat berubah dari waktu ke waktu.

Di samping itu, Pemerintah Indonesia terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara terkait berbagai langkah pengendalian dalam negeri. Indonesia memanfaatkan kerangka kerja sama ASEAN dengan mekanisme ASEAN berdasarkan ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP) untuk menangani isu kabut asap sudah berjalan.

Pertemuan berkala untuk membahas isu kabut asap dan mengoordinasikan tindak lanjut terus dilakukan. Asean Secretariat (ASEC) selaku pusat koordinasi ASEAN untuk asap lintas batas, menerapkan status siaga kawasan Alert Level 3 sejak 26 Agustus 2026.

ASEC juga meminta seluruh negara ASEAN mengirimkan laporan situasi (Situation Report/SITREP) harian, termasuk peta pergerakan asap, lalu mendistribusikannya kembali ke seluruh National Focal Point AMS.

Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, menurutnya Indonesia selalu memenuhi kewajiban pelaporan harian dan tindakan yang diwajibkan dalam Alert Level 3 sesuai prosedur ASEAN. Indonesia secara proaktif melaporkan data titik panas, kondisi lingkungan, indikasi pergerakan asap, serta upaya penanggulangan karhutla, termasuk respons darurat nasional dan operasi pemadaman dalam skala luas.

Bagikan :

Tinggalkan komentar pertama