Cerita WNI di Mesir Kala Pandemi

JURNALPOSMEDIA.COM – “Pada saat awal terjadi wabah, Mesir menerapkan jam malam. Jadi semua orang yang tinggal di sini harus di rumah sebelum jam 7 dan warung-warung harus sudah tutup sekitar jam 5. Kendaraan umum berhenti beroperasi pada jam setengah 7. Warga pun tidak memprotes segala kebijakan dari pemerintah,” tutur salah satu WNI di Mesir saat diwawancarai Jurnalposmedia via WhatsApp. Kamis (7/5/2020).

Keterangan di atas diungkapkan mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, asal Indonesia, Admiral Arief Prabowo. Dalam menekan laju penyebaran virus Corona, pemerintah Mesir tidak menerapkan sistem lockdown. Melainkan membatasi pergerakan lewat menutup tempat-tempat umum, seperti tempat wisata, restoran, serta tempat perkumpulan lainnya.

Sedikit kilas balik, terhitung sudah 9 minggu semenjak status virus Covid-19 ditetapkan World Health Organization (WHO)  menjadi pandemi global. Tak bisa dipungkiri perubahan status tersebut telah mempengaruhi berbagai sisi kehidupan. Tak hanya di Indonesia, melainkan di berbagai belahan dunia terutama negara-negara terdampak.

Dikutip dari kumparan.com, Mesir merupakan negara yang tidak menerapkan lockdown secara total. Lockdown parsial itu diberlakukan sejak 15 Maret dengan menutup bandara, sekolah, universitas, dan gym. Bahkan menurut keterangan Admiral, kini negeri piramida itu melonggarkan lockdown-nya untuk menyambut Ramadan. Yakni lewat memangkas jam malamnya. Admiral menambahkan, saat ini mall dan pusat perbelanjaan lainnya sudah mulai dibuka kembali.

“Syaratnya, setiap pintu masuk disediakan hand sanitizer hingga disinfektan otomatis. namun jam malam (di pertokoan) tetap diberlakukan,” kata Admiral. Diakuinya, cara yang dilakukan pemerintah Mesir ternyata dapat memperlambat dan menekan angka penyebaran Covid-19. Adapun sistem perkuliahan diganti secara online. Begitupun ujian yang biasanya lisan dan essay, kini diubah menjadi penulisan ilmiah tentang materi yang dipelajari.

Ramadan di Mesir

Salah satu tradisi Ramadan di Mesir yang ditiadakan adalah Maidaturrahman, yang berarti hidangan Yang Maha Pengasih. Yakni, tradisi memberi atau menyuguhkan hidangan makanan untuk berbuka puasa, “Orang-orang dermawan menyediakan meja dan kursi di pinggir jalan. Tapi warga setempat atau pengusaha kaya di Mesir serta KBRI Kairo masih memberikan bantuan makanan untuk berbuka tiap harinya dengan memberinya secara langsung,” jelas Admiral.

Meski salat Tarawih dilakukan di rumah masing-masing, Admiral dan teman-temannya mengaku tetap melakukannya secara berjemaah. Sesuai dengan jadwal imam yang mereka buat sendiri, “Bahkan, pada saat tarawih hari pertama bulan Ramadan, kami berinisiatif melaksanakannya di atap rumah salah satu mahasiswa yang bisa menampung 40 orang,” tutupnya.

1 Comment

Leave A Reply

Your email address will not be published.