Sat, 24 February 2024

Muhammad Nur Fajar : Mawas Diri Menghadapi Budaya Internet Saat Ini

Reporter: Nazmi Syahida/Teten Handani | Redaktur: Reta Amaliyah Shafitri | Dibaca 129 kali

Fri, 25 May 2018
Pemaparan materi oleh Muhammad Nur Fajar dengan pembahasan “Budaya Internet Saat Ini” dalam seminar "Smartfren Goes to School & Campus : Internet Sehat Buat Apa Sih?" bertempat di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, Kamis (24/05/2018). (Nazmi Syahida/Magang)

JURNALPOSMEDIA.COM—Seminar “Smartfren Goes to School & Campus : Internet Sehat Buat Apa Sih?” di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Bandung, Kamis (24/5/2018) turut menghadirkan pemateri yang kompeten di bidangnya. Salah satunya Ketua Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK) Kota Bandung Muhammad Nur Fajar Muharam.

Pada pemaparannya, Ia menjelaskan tentang budaya internet yang tengah berkembang saat ini dan menekankan literasi cegah hoax. Menurutnya, terdapat empat poin yang timbul dalam budaya internet saat ini. Pertama, sarana untuk mencari informasi dan hiburan. Kedua, berkomunikasi lewat aplikasi chatting dengan bahasa yang bebas. Ketiga, menjadikan sosial media sebagai tolak ukur, dan keempat mengekspresikan sesuatu yang dianggap tidak mungkin dilakukan di dunia nyata.

“Zaman dulu informasi itu dicari, entah dari koran, tayangan televisi atau informasi dari radio. Kalau sekarang, informasi yang menghampiri kita. Bahkan informasi yang tidak kita inginkan pun ada. Lewat aplikasi messenger dengan menggunakan emoticon atau bahasa yang hanya dipahami kalangan mereka,” paparnya.

Lebih lanjut, Muhammad Nur Fajar menjelaskan resiko dan bahaya internet yang harus diketahui. Diantaranya ialah spam, informasi palsu yang menyesatkan (hoax), pencurian identitas (phishing), kekerasan atau pelecehan (cyberbullying), konten ilegal seperti perjudian dan pornografi, serta pelanggaran hak cipta.

“Adapun dampak pelanggaran privasi seperti cyber porn, dimana data privasi kita seperti foto vulgar jika terus di share di internet tidak bisa dihapus. Lalu ada pedofilia, ini kasus kriminal yang berbahaya seperti kejahatan sosial pada anak atau pelecehan yang nantinya bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan pada orang dewasa maupun remaja. Maka, untuk mencegah konten negatif tidak cukup hanya diblokir, tapi bisa diisi dengan konten yang lebih positif,” terangnya.

Untuk mengatasi efek buruk budaya internet, pertama kita harus mawas diri dalam menjaga akun yang berisi data pribadi. Kedua jangan terlalu memposting kegiatan yang dilakukan tiap harinya, gunakan dan optimalkan pilihan keamanan di media sosial misalnya diproteksi agar orang tidak bisa melihat atau mencuri data kita. Terakhir, apabila menemukan konten negatif bisa langsung melaporkan ke www.aduankonten.id milik Kementrian Komunikasi dan Informasi.

Ketua Prodi Jurnalistik Encep Dulwahab turut menanggapi persoalan budaya internet saat ini yang banyak tersebar hoax. “Awalnya orang kaget tentang kebebasan informasi, ditambah dengan adanya fasilitas media sosial. Padahal sudah ada undang-undangnya, karena orang-orang tidak melek informasi dan tidak tahu, sehingga mereka bebas menyebarkan apapun tanpa memikirkan efeknya.” Pungkasnya saat ditemui Jurnalposmedia.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments