Fri, 6 February 2026

Membongkar Fakta Menarik di Balik Film Pengepungan di Bukit Duri

Reporter: Malika Shafa Nur Fadiya | Redaktur: KHOIRUNNISA FEBRIAN SOFWAN | Dibaca 2257 kali

(Sumber foto: Instagram)

JURNALPOSMEDIA.COM – Film terbaru garapan sutradara kenamaan Joko Anwar, Pengepungan di Bukit Duri, telah mencuri perhatian publik sejak resmi tayang di bioskop pada 17 April 2025 lalu. Film ini tidak hanya menawarkan aksi menegangkan, tetapi juga mengangkat isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Dilansir dari Instagram Joko Anwar, setelah 12 hari penayangannya di bioskop tanah air film ini berhasil mencapai hingga 1 juta lebih penonton. Pencapaian ini menunjukkan antusiasme tinggi dari penonton Indonesia serta keberhasilan film tersebut dalam menarik minat masyarakat. Berikut lima fakta penting yang membongkar sisi unik dari proses produksi hingga latar belakang ceritanya.

  1. Berlatar Tahun 2027

Dilansir dari Katadata, meski mengangkat tragedi sejarah, Pengepungan di Bukit Tinggi justru berlatar di masa depan, tepatnya tahun 2027. Pilihan ini bukan tanpa alasan. Sang sutradara ingin menciptakan jembatan naratif antara masa lalu yang kelam dan masa depan yang penuh harapan, serta memberikan perspektif baru tentang bagaimana peristiwa sejarah masih berdampak pada generasi mendatang.

  1. Naskah Digarap Selama 17 Tahun

Joko Anwar mulai menulis skenario film ini sejak tahun 2007 silam. Setelah melalui proses panjang dalam mematangkan ide tersebut, ia baru merasa siap merealisasikannya pada tahun 2024. Keputusan untuk memulai produksi setelah 17 tahun merupakan hasil dari pemikiran yang matang dan keyakinan bahwa kini adalah waktu yang paling tepat untuk menyampaikan kisah itu kepada publik.

  1. Mengangkat Tragedi Mei 1998

Meski berlatar masa depan, film ini mengambil inspirasi kuat dari tragedi Mei 1998 yang mengguncang Indonesia. Peristiwa kerusuhan dan ketegangan sosial pada masa itu dijadikan fondasi utama dalam membangun konflik di dalam cerita. Pendekatan ini bertujuan untuk mengingatkan penonton bahwa sejarah tidak boleh dilupakan dan luka kolektif harus diolah menjadi pelajaran.

  1. Menyoroti Permasalahan di Kalangan Remaja

Di balik narasi besar tentang konflik dan sejarah, film ini juga menaruh fokus pada permasalahan sosial remaja, seperti identitas, tekanan sosial, kekerasan berbasis gender, dan krisis keluarga. Para karakter muda dalam film menjadi cerminan dari generasi yang tumbuh di tengah trauma sosial dan perubahan zaman, menjadikan film ini relevan dan menyentuh berbagai lapisan penonton.

  1. Kolaborasi Bersejarah dengan Amazon MGM Studios

Dilansir dari Narasi, terdapat kerja sama antara Joko Anwar dan Amazon MGM Studios, sang legenda studio terkenal di Hollywood. Melalui kerja sama ini, Joko Anwar mendapat kesempatan untuk menampilkan kualitas produksi berstandar global. Ini menunjukkan bahwa industri film Indonesia mampu menarik minat pasar internasional.

Pengepungan di Bukit Duri bukan hanya film laga biasa. Ia hadir sebagai karya sinematik dengan visi kuat dan pesan mendalam tentang kemanusiaan, keberanian, dan kesadaran sosial. Joko Anwar kembali membuktikan dirinya sebagai salah satu sutradara terpenting dalam perfilman Indonesia.

 

Bagikan :
guest
0 Komentar
Terlama
Terbaru Suara Banyak
Inline Feedbacks
View all comments