Wed, 24 June 2026

Jiwa Sastra Pramoedya Ananta Toer dan Bumi Manusianya

Reporter: Kurniawan Sidiq | Redaktur: Putri Restia Ariani | Dibaca 2113 kali

bumi manusia
Sosok sastrawan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer alias Pram. (Sumber: wikipedia.org)

JURNALPOSMEDIA.COM – Pramoedya Ananta Toer. Siapa yang tak mengenali sosok satu ini, ia bisa dibilang merupakan salah satu sastrawan terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Acapkali dipanggil Pram, ia telah mengarang berbagai tulisan yang kental dengan aroma sejarah.

Tercatat sebanyak 50 karya sastra berupa novel terbit dalam 41 bahasa di dunia. Bahkan salah satu karyanya, novel Bumi Manusia berhasil diadopsi menjadi sebuah film yang sukses. Berbincang mengenai perjalanan hidupnya, Pram menempuh pendidikan di Sekolah Kejuruan Radio Surabaya dan bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta.

Pram sempat berpikir bahwa kehadiran Jepang merupakan pembebas dari kolonial Belanda. Namun pandangannya sirna ketika Jepang menerapkan kebijakan kerja paksa. Hingga akhirnya ia memutuskan bergabung dengan pasukan Gerilya.

Ketika pindah ke Jakarta, Pram menyunting jurnal pro-kemerdekaan. Namun siapa sangka, pada 1947-1949, ia dipenjara karena pekerjaannya itu. Dalam masa tahanan, Pram membuktikan bahwa apinya tak pernah padam. Ia mengikis rasa keputusasaan dengan menulis hingga akhirnya menyelesaikan novel pertamanya. Perburuan (1950).

Setelah itu, Pram semakin peduktif menulis beberapa karya sastra yang bertema korupsi, fiksi, politik, revolusi, dan kritik terhadap pemerintahan. Pada 1950-an, ia bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Kelompok tersebut merupakan salah satu penghuni golongan kiri dan memiliki ideologis yang dekat dengan komunis.

Ketika bergabung dengan Lekra, Pram mulai mempelajari penyiksaan yang dialami kaum Tionghoa Indonesia. Ia juga mulai berhubungan erat dengan para penulis Tiongkok. Di Tahun 1960-an  ia ditangkap oleh pemerintahan Soeharto karena pandangan pro-Tiongkok-nya. Ia ditahan tanpa pengadilan di Nusa Kambangan hingga akhirnya diasingkan ke Pulau Buru. Pun, tulisannya dilarang beredar.

Novel Bumi Manusia

Ketika Pram dilarang menulis di masa pengasingannya, bukan berarti ia mati karya. Ia merancang Tetralogi Pulau Buru dengan Bumi Manusia sebagai jilid pertamanya. Pram menyampaikan secara lisan jilid pertamanya kepada rekan-rekan di Unit III Wanayasa, Buru. Sebagian kisah Bumi Manusia berasal dari pengalaman pribadinya saat beranjak dewasa.

Minke merupakan tokoh utama dari novel Bumi Manunia. Sosoknya digambarkan sebagai seorang anak bupati yang bersekolah di Hogere Burger School, Surabaya. Selain itu, ia  juga cerdas dan pandai menulis, bahkan karyanya dipublikasi di koran. Minke juga berani menentang ketidakadilan terhadap bangsanya.

Bumi Manusia menceritakan Indonesia di masa kolonial Belanda. Kala itu benar-benar terjadi penggolongan sosial antara kaum penjajah dan pribumi. Buku ini juga mengingatkan pentingnya belajar dan berpengetahuan luas. Sang penulis, Pram, memanglah terkenal eksistensinya di Lekra. Namun, buku ini memiliki nilai humanisme, nasionalisme, dan jauh dari komunisme.

Meski digarap dalam keadaan sulit, karya Bumi Manusia mendapat banyak pujian. Tercatat di tahun 2005, buku ini diterbitkan dalam 33 bahasa. Terlepas dari itu, buku ini sempat dilarang beredar dari 1981-setelah penerbitannya-hingga 1990-an. Barulah di awal era milenium buku ini mulai tersedia di beberapa toko buku Jakarta.

Bebas Ditahan

Pada 1998 atau setelah Soeharto lengser, Pram secara resmi dibebaskan. Lalu pada 1999 ia menyelesaikan perjalan di Amerika Utara dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan. Ia juga mendapatkan beberapa pengahargaan. Di antaranya hadiah Nobel Asia Fukuoka XI 2000 dan Norwegian Autor’s Union Award atas sumbangsihnya terhadap sastra dunia, serta masih ada penghargaan lainnya.

Meskipun Pram sudah dibebaskan, informasi tentangnya serta karya-karyanya sulit untuk didapatkan. Salah satu alasannya, karena dulu ia begitu aktif di Lekra. Sayang, di akhir hayat Pram, pelarangan atas peredaran buku-buku miliknya belum dicabut secara resmi oleh pemerintah Indonesia.

Sang penulis Bumi Manusia pada akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada 30 April 2006 karena komplikasi diabetes dan penyakit jantung. Ia meninggalkan satu istri dan delapan anak. Jenazahnya dikebumikan di TPU Karet Bivak dengan diiringi lagu Internationale dan Darah Juang yang dinyanyikan para pelayat.

Kini, tinggalah karya-karyanya yang menjadi saksi bisu atas perjuangannya.

Bagikan :

Rekomendasi

Menilik Indikator Penilaian Skor Ujian serta Masa Aktif Sertifikat Kursus TOEFA dan TOEFL JURNALPOSMEDIA.COM – Sejalan dengan kegiatan persiapan ujian Test of English for Academics (TOEFA) dan Test of English Foreign Language (TOEFL) yang di adakan oleh Language Center (LC) UIN Bandung, terdapat beberapa indikator penilaian skor ujian serta masa aktif sertifikat kursus bagi mahasiswa. Ketua LC UIN Bandung Abdul Kodir turut menjelaskan, berkenaan dengan skor nilai, setiap tahunnya akan ada beberapa perubahan kebijakan. Hal ini dipicu karena adanya cetakan baru buku Pedoman Akademik di setiap tahunnya. “Jadi kita hanya memberikan keterangan bahwa anda skornya sekian. Nanti umpan-umpannya skornya berlaku atau tidak atau misalkan kurang, maka ya, harus ujian lagi dan kalau mau ujian lagi anda gausah dari ulang harus kursus lagi,” ungkapnya kepada Jurnalposmedia, Rabu (27/7/2022). Skor dan Keuntungan yang Didapat Abdul Kodir kembali menjelaskan, mengenai minimal skor yang diraih oleh setiap mahasiswa itu berbeda-beda, hal ini bergantung pada kebijakan Fakultas dan Program Studi Prodi nya masing-masing. Sementara indikator dan standar penilaiannya dinilai dari listening, reading, dan vocabulary. “Untuk vocabulary nya kita itu ingin mahasiswa UIN itu paham dan mengenal vocab-vocab dengan istilah yang dekat dengan keislaman jadi nanti ada kaya English for islamic student jadi nanti ada vocab yang nanti dekat dengan kajian-kajian keislaman,” ungkapnya. Beralih dari tes tersebut, Abdul kembali menuturkan, para mahasiswa yang mengikuti tes dan kursus keterampilan berbahasa nantinya akan mendapatkan keuntungan berupa sertifikat kursus. “Masa aktif sertifikat tes TOEFL dan TOEFA ini hanya dua tahun, jika sudah lebih dari dua tahun maka harus tes lagi agar mendapatkan skor TOEFL yang terbaru dan sertifikatnya aktif. Sedangkan sertifikat kursus keterampilan berbahasa bisa aktif seumur hidup,” jelasnya. Tanggapan Mahasiswa Terkait Tes TOEFL dan TOEFA Kursus bahasa yang berujung dengan ujian TOAFL dan TOEFA, sebagai syarat kelulusan ini banyak mendapatkan apresiasi dari mahasiswa yang semangat untuk mengikuti kursus tersebut. Mahasiswi jurusan Ilmu Al-Qur’an Tafsir (IAT), Destiana Rosyidah sangat mengapresiasi kegiatan ini. Desti juga tidak sungkan mengeluarkan kritik dan sarannya untuk program ini. “Hanya saja sertifikat yang nantinya keluar setelah ujian itu hanya bisa di pakai di kampus saja, tidak bisa di pakai untuk kepentingan di luar kampus, semisal untuk melamar beasiswa atau pekerjaan yang membutuhkan sertifikat serupa,” ungkapnya. Ia juga berharap agar dosen pembimbing kursus mulai memperhatikan kegiatan belajar mengajar (KBM) mahasiswa nya agar mendapatkan hasil maksimal dalam ujiannya. Karena masih banyak dosen pembimbing yang kurang memperhatikan KBM kursusnya. “Tidak semua dosen pembimbing kursus peduli pada mahasiswa kursusnya. Yah

Tinggalkan komentar pertama