Fri, 6 February 2026

Virus Nipah Kembali Disorot Dunia di Tengah Bayang-Bayang Pandemi Covid-19

Reporter: Hana Azizah Fitri | Redaktur: Nida Rasya Kania | Dibaca 83 kali

Sumber foto: Paxel.com

JURNALPOSMEDIA.COM — Virus Nipah (NiV) kembali menjadi perhatian dunia di tengah bayang-bayang trauma pandemi Covid-19 yang melanda sejak 2019. Hal ini  memicu kewaspadaan global terhadap potensi ancaman penyakit menular baru.

Virus Nipah pertama kali ditemukan pada tahun 1998 di Malaysia, pada kasus yang melibatkan ternak babi. Penyakit ini kemudian diketahui sebagai zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia, dan memiliki tingkat fatalitas yang cukup tinggi pada kasus tertentu.

Berdasarkan situs resmi World Health Organization (WHO) who.int, reservoir alami atau tempat berkembangnya virus Nipah berasal dari kelelawar buah genus pteropus atau yang dikenal sebagai flying foxes. Kelelawar ini dapat membawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit, sehingga berperan sebagai inang alami virus Nipah.

Virus Nipah diketahui dapat menyebar melalui beberapa jalur utama. Penularan dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, terutama kelelawar buah dan babi. Kelompok seperti peternak babi dan individu yang sering berinteraksi dengan hewan memiliki risiko lebih tinggi terpapar virus ini

Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi, seperti nira kelapa mentah (cairan manis hasil sadapan bunga kelapa) yang dikumpulkan di sekitar habitat kelelawar, atau buah-buahan yang telah terpapar air liur dan cairan tubuh kelelawar. Virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui kontak erat dengan cairan tubuh, seperti darah, urin, air liur, atau cairan pernapasan, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan.

Kasus virus Nipah kembali ditemukan di wilayah Benggala Barat, India. Pada Desember 2025 hingga Februari 2026 tercatat dua petugas kesehatan dikonfirmasi terjangkit virus tersebut, sementara hampir 200 orang dilaporkan menjalani pemeriksaan sebagai langkah antisipasi penyebaran lebih luas.

Dilansir dari kesehatan.jogjakota.go.id, Ketua Tim Kerja Surveilans Pengelolaan Data (PD) dan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Solikhin Dwi R, MPH., mengungkapkan hingga kini belum ditemukan kasus virus Nipah pada masyarakat di Indonesia, namun kewaspadaan tetap diperlukan.

“Di Indonesia, belum ditemukan kasus Nipah pada manusia, Namun demikian tetap waspada terhadap faktor risiko penularan dengan memperhatikan mobilitas manusia lintas negara terutama dari negara yang mengalami kejadian luar biasa dan hasil penelitian di Indonesia yang menunjukkan adanya bukti serologis dan deteksi virus pada reservoir alami kelelawar buah (Pteropus sp.),” jelas Solikhin pada Kamis (5/2/2026).

Hingga saat ini, belum ditemukan vaksin maupun obat yang mampu menyembuhkan infeksi virus Nipah secara spesifik. Penanganan yang dilakukan masih bersifat suportif untuk meredakan gejala dan mencegah komplikasi. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat mengenai asal virus, cara penularan, serta langkah pencegahan menjadi kunci penting dalam menekan risiko penyebaran sejak dini.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Terlama
Terbaru Suara Banyak
Inline Feedbacks
View all comments