Riak Pandemi Dalam Dedikasi Seorang Guru

JURNALPOSMEDIA.COM – Menjadi seorang guru adalah pilihan mulia, tidak semua orang mau untuk menghabiskan waktunya mengurus dan mendidik anak orang lain. Bagai tetes air yang melubangi batu, kesabarannya begitu tulus menuntun anak didik memahami baca, tulis, dan hitung.

Tuntutan pendidik bertambah lagi seiring dengan memuncaknya kasus Covid-19. Keharusan mereka menggunakan teknologi, menjadi tantangan baru yang mau tak  mau mesti diladeni. Cinta kasih guru begitu tampak pada kesungguhan mereka menjejaki ruang kelas di layar gawai.

Begitulah yang dilakukan Hunaenah (50) sejak Maret lalu. Sudah seperempat abad lamanya ia berdedikasi menjadi seorang guru, baru kali ini dirinya menghadapi situasi berbeda dalam mengajar. Diusianya yang tidak muda lagi, teknologi bukan hal yang mudah untuk dimengerti, sehingga tentu berdampak pada proses kegiatan mengajarnya.

Guru di MI Al-Adhar 01 Brebes, Jawa Tengah ini memaparkan bahwa ia memanfaatkan aplikasi pesan Whatsapp untuk memantau aktifitas anak muridnya. Meski begitu, hal ini menjadi kendala dalam pendekatan psikologis terhadap anak didiknya.

“Banyak keluarga mengaku kesulitan dalam mendidik anaknya sendiri, dan menginginkan segera dilakukan sekolah tatap muka saja,” cerita Hunaenah saat dihubungi via panggilan Whatsapp.

Tidak hanya Hunaenah, hal serupa juga dirasakan oleh guru muda, Andini Mutiara Galih. Ia mengaku kesulitan dalam memantau perkembangan muridnya, dikarenakan tidak bertatap muka secara langsung. Namun, guru honorer di Al-Biruni Cerdas Mulia ini berucap syukur saat ditanya mengenai dampak pandemi terhadap dirinya, “Alhamdulillah,” syukurnya.

Ia mengaku mendapat tambahan dari hasil kerja lembur yang dilakukannya. Beda hal dengan Hunaenah, teknologi bukan lagi menjadi masalah utama bagi Andini. Raga mudanya masih mampu mencerna kompleksnya cara kerja perangkat lunak, penunjang pembelajaran saat ini.

Masih guru di sekolah yang sama, Farhan Alfiansyah (27) juga mempersiapkan betul kebutuhan mengajar saat pandemi ini. Dimulai dari membuat power point, melakukan recording video pembelajaran, kemudian ke tahap editing sebelum nantinya dipublikasikan.

Rasa syukur juga diungkapkan Farhan, ia bertutur bahwa hadirnya pandemi menjadikan semua pihak di ranah pendidikan dituntut agar melek teknologi. Dari mulai mengoperasikan grup Whatsapp, hingga menjadi admin di aplikasi Zoom Meeting.

Sedangkan Fiqiyah Nurhasanah (24), seorang guru di Pesantren Al-Furqon, Garut, Jawa Barat, sudah melepas rindu pada anak didiknya. Sekolah tempatnya mengajar, telah dibuka kembali untuk pembelajaran secara normal di kelas. Kekhawatiran sempat menghampirinya, mengingat banyak santri yang berdatangan dari luar daerah.

Namun, sesuai protokol kesehatan, sebelum proses belajar mengajar dilangsungkan, santri dikarantina terlebih dahulu satu minggu lamanya. Lalu, berolahraga secara rutin dan berjemur. Semua dijalankan agar rasa aman dan nyaman meliputi seluruh pihak di sekolah.

Pada Hari Guru Sedunia ini, doa keempat guru masih sama, agar pandemi segera berlalu, dan mereka dapat kembali bercengkrama langsung dengan para murid kesayangannya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.