Perang Tomat, Bentuk Perlawanan Terhadap Kebusukan Hati

JURNALPOSMEDIA.COM-“Hajat Buruan Rempug Tarung Adu Tomat” atau nama lain dari Perang Tomat. Acara tersebut merupakan kesenian atau sebuah tradisi di Kampung Cikareumbi RW 3, Desa Cikidang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Tradisi ini merupakan acara tahunan saat awal bulan Muharam, yang sudah berlangsung sejak 2012.

Penggagas Rempug Tarung Adu Tomat, Mas Nanu Munajar Dahlan menceritakan asal mula perang tomat digelar. Ia mengatakan perang tomat dilakukan sejak lima tahun lalu. Ketika harga tomat pernah anjlok hingga Rp. 200/kg. Alasannya, karena sayang jika dibuang, akhirnya warga menggagas mengadakan perang tomat.

Lanjut Mas Nanu menjelaskan, tomat yang digunakan pun adalah tomat busuk. Hal itu sebagai simbol untuk melempar sifat kejelekan yang ada di tubuh manusia.

“Ibaratnya seperti lempar jumroh yang dilakukan oleh jemaah haji di Tanah Suci. Tujuannya sama-sama mensucikan diri dari segala sifat buruk,” tuturnya.

Perang tomat ini merupakan pengembangan dari tradisi Hajat Buruan. Yakni, suatu hiburan wujud syukur atau keberhasilan tanaman sayuran. Adapun kata Mas Nanu, yang diungkapkan melalui sedekah sajian tumpeng dan pembagian air keramat. Harapannya mendapatkan berkah agar tanaman subur dan mendapatkan lindungan keselamatan.

“Ungkapan membuang sial segala macam hal buruk atau sifat tidak baik dalam masyarakat maupun dengan penyakit tanaman,” lanjut Mas Nanu.

Saat acara akan berlangsung tokoh masyarakat setempat memimpin serangkaian upacara adat yang diiringi berbagai tabuhan alat musik dan penari. Setelah mendapatkan aba-aba dari sesepuh kampong perang pun dimulai. Tidak kurang dari 2 ton tomat di gunakan untuk perang.

Seusai acara, warga secara bergotong royong membersihkan tomat yang berserakan di jalanan. Lalu, mereka saling bersalaman, tidak ada rasa dendam, semuanya bersuka cita setelah acara.

Rekomendasi

1 Comment

Reply To arip puji

Cancel Reply

Your email address will not be published.