Inovasi Boruto, Boba Sehat dari Ekstrak Putri Malu

JURNALPOSMEDIA.COM – Kreativitas mahasiswa dalam menghadirkan pembaharuan memang tiada habisnya. Seperti halnya sebuah tim dari UIN Bandung yang berhasil menyabet Juara II Lomba Inovasi Teknologi dan Media Pembelajaran Tingkat Nasional. Lomba tersebut diadakan oleh Fakultas Sains dan Teknologi UIN Wali Songo, Semarang pada 24 Oktober lalu.

Kolaborasi apik dalam tim tersebut digalakkan oleh dua mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Bandung, serta satu mahasiswi dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Bandung. Di antaranya, mahasiswa semester 7 Jurusan Agroteknologi (Roy Hanuddin), mahasiswa semester 5 Jurusan Agroteknologi (Arvan Muhammad Taufiq), serta mahasiswi semester 3 Program Studi Pendidikan Fisika (Roprop Latiefatul Millah).

Ketiganya mengusung judul ikonik “Boruto (Boba Baru Antioksidan): Eskalasi Antioksidan dengan Ekstrak Putri Malu (Mimosa Pudica Linn) sebagai Inovasi Pangan Sehat di Masa Pandemi Covid-19″ dalam perlombaan tersebut. Berbagi cerita di balik judul itu, Ketua Tim, Roy Hanuddin menjelaskan bahwa Boruto adalah jenis boba yang terbuat dari ekstrak tanaman putri malu. Tanaman tersebut dipilih mengingat keberadaannya yang mudah ditemukan di berbagai tempat.

Berbicara mengenai kaitannya dengan inovasi pangan sehat, Roy bercerita jika kaum milenial kini banyak mengonsumsi boba yang dinilai minim manfaat bagi kesehatan. Contohnya, dalam berbagai jenis minuman yang hits di masa sekarang. Oleh karena itu, pemanfaatan ekstrak putri malu dirasa lebih memberikan manfaat bagi kesehatan di samping sekadar memuaskan selera semata.

“Inovasi pangan sehat (di sini) dengan memanfaatkan tanaman putri malu yang cukup melimpah di kawasan Kampus II UIN Bandung. Tanaman ini mengandung banyak antioksidan. Sementara itu, orang yang memakan boba seringkali mengalami sembelit, cepat (merasa) kenyang. Jadi, dengan adanya inovasi boba ini, orang yang makan boba enggak hanya mendapat kenikmatan tapi mendapat manfaat dari boba ini,” ujar Roy, Selasa (10/11/2020).

Butuh waktu cukup panjang dalam meneliti dan mengembangkan inovasi satu ini. Roprop mengungkap, timnya memulai penelitian sejak Maret sebelum adanya pandemi Covid-19. Yakni, dengan melakukan survey, studi literatur, serta riset yang mendalam untuk keperluan penelitiannya. Sempat terkendala masa pandemi, Roprop tak menampik garapan timnya sempat sedikit terhambat, “Tapi itu sama sekali tidak memutuskan semangat untuk melanjutkan penelitian,” katanya pada Jumat (6/11/2020).

Selain terkendala masa pandemi, rintangan juga menghampiri proses pengolahan boba satu ini. Tak lain proses pengambilan tanaman putri malu yang cukup banyak sehingga memerlukan tenaga ekstra dalam memetiknya. Setelah dipetik, tanaman itu pun tak langsung diproses. Melainkan harus melalui proses pengeringan dalam suhu ruangan untuk mempertahankan kandungannya. Proses selanjutnya yakni dihaluskan dalam blender sebelum diambil ekstraknya.

“Laboratorium kampus tutup, lalu (mencoba) mengambil alternatif yang sederhana seperti teh celup. Jadi ekstraknya itu dilakukan sistem ekstraksi. (Juga), karena pandemi, yang awalnya ingin menguji toksifitas (jadi) menggunakan pendekatan MPD. Pendekatan melalui penelitian-penelitian yang sudah ada terkait putri malu sebagai tanaman obat,” terang Roy.

Setelah didera halangan dan rintangan dalam proses penelitiannya, pada akhirnya Roy, Arvan, dan Roprop berhasil mempersembahkan karyanya dalam lomba yang digelar secara daring selama 3 jam itu. Karya mereka ditampilkan dengan konsep ala Desa Konoha dengan ornamen pemakaian ikat dalam karyanya. Tak lupa, dengan menyematkan nama ikonik karya mereka, Boruto.

1 Comment

  1. Roy Hanuddin says

    Wah, masyaAllah… Semoga penelitian ini bisa bermanfaat dan bisa dikembangkan lagi

Leave A Reply

Your email address will not be published.