Thu, 3 April 2025

Dampak Media Sosial Terhadap Kepercayaan Diri

Reporter: RIFKA SABIRA F/KONTRIBUTOR | Redaktur: ZAHRA DWI AQILAH | Dibaca 855 kali

Wed, 18 December 2024
(Sumber: Pinterest.com)

JURNALPOSMEDIA.COM — Di era digital seperti sekarang, sosial media menjadi hal wajib yang semua orang harus miliki. Platform seperti TikTok, Instagram dan WhatsApp memberikan wadah untuk berbagi cerita, momen, menorehkan kreativitas hingga membangun relasi sosial. Namun, dibalik segudang manfaat tersebut sosial media sering berakhir menjadi alat perbandingan diri dengan orang lain yang tidak ada habisnya.

Melihat foto-foto liburan orang lain di tempat yang sangat indah, memperhatikan bagaimana idealnya tubuh seseorang, sampai karier cemerlang yang diraih seseorang kerap membuat kita sebagai pengguna sosial media mempertanyakan pencapaian dan value diri sendiri.

Fenomena ini akhirnya memberikan dampak terhadap kepercayaan diri, terutama bagi remaja dan anak muda. Algoritma sosial media seolah-olah terus menyodorkan konten “sempurna” membuat standar kecantikan, gaya hidup, dan kesuksesan semakin menjulang tinggi. Karena hal itu, banyak orang merasa tertekan dan seolah-seolah mewajibkan untuk mengikuti tren atau
memenuhi ekspektasi yang semakin tidak realistis.

Tidak sedikit pengguna sosial media yang
mulai meragukan diri mereka hanya karena tidak “cukup baik” dibandingkan apa yang mereka lihat di layar. TikTok dan Instagram merupakan platform yang paling popular dan banyak penggunanya di Indonesia.

Menurut data tercatat, ada 157,6 juta pengguna TikTok dan 90,18 juta pengguna
Instagram di Indonesia pada Juli 2024. Di TikTok ramai dengan tren “A Day in My Life” yaitu video berdurasi pendek yang memperlihatkan gaya hidup serba produktif, seperti rutinitas pagi yang ditampilkan “sempurna” dengan sarapan sehat, lalu melakukan kegiatan keseharian, hingga malam yang dihabiskan tetap dengan kegiatan produktifnya.

Meski terlihat sederhana, narasi semacam ini secara tidak langsung menciptakan ekspektasi bahwa hidup harus selalu terorganisir dan penuh dengan pencapaian. Hal ini dapat membuat orang yang menjalani rutinitas biasa-biasa saja merasa bahwa hidup mereka kurang berarti dibanding para konten kreator tersebut.

Perasaan “tidak cukup produktif” atau “tidak cukup sempurna” inilah yang berpotensi merusak kepercayaan diri seseorang, terutama di kalangan anak muda yang masih dalam proses membangun identitas dan mengembangkan potensi diri.

Sementara di Instagram seakan menjadi lomba pamer keberhasilan, seperti memamerkan barang-barang mewah, mengunggah foto liburan di tempat yang eksklusif, sampai pencapaian karier. Jika terus dicekoki konten semacam itu dapat menimbulkan tekanan sosial untuk ikut sukses.

Walaupun sebagian besar unggahan itu mungkin awalnya bertujuan untuk memberikan inspirasi, tetapi tidak semua orang menerima dan memproses dengan hal yang sama. Akibatnya muncul rasa minder dan keyakinan bahwa keberhasilan hanya diukur dari materi yang dimiliki saja.

Namun yang sering terlupakan adalah realitas di balik konten tersebut. Banyak dari video atau unggahan tersebut sebenarnya melalui proses yang dipilih-pilih, mana yang akan ditampilkan kepada publik mana yang tidak. Jadi hanya sebagian kehidupan saja yang ditampilkan.

Kehidupan sempurna di sosial media yang sering kita lihat dan bandingkan itu hanyalah
potongan kecil dari keseluruhan kisah hidupnya. Sayangnya, pengguna sosial media cenderung memandangnya sebagai cerminan utuh kehidupan orang lain, sehingga merasa diri mereka tidak cukup baik.

Untuk mengatasi dampak negatif sosial media terhadap kepercayaan diri, penting bagi kita
sebagai pengguna untuk lebih bijak dalam menggunakannya. Sadari bahwa apa yang kita lihat di layar hanyalah potongan kecil dari kehidupan seseorang, bukan gambaran utuh realitas mereka.

Berhentilah membandingkan diri sendiri dengan standar yang tidak realistis, dan
fokuslah pada perjalanan serta pencapaian pribadi. Mari gunakan sosial media sebagai alat untuk mencari inspirasi, bukan sumber tekanan. Filter konten yang kita konsumsi dengan mengikuti akun-akun yang memberikan nilai positif dan motivasi.

Selain itu, penting untuk sesekali melakukan “detoks digital” guna memberikan ruang
bagi diri sendiri untuk berkontemplasi dan menghargai kehidupan di dunia nyata. Ingatlah, setiap orang memiliki waktunya sendiri untuk berkembang, dan pencapaian tidak selalu harus terlihat oleh orang lain.

Dengan membangun kepercayaan diri dari dalam, kita akan mampu menjalani hidup dengan lebih bahagia, berarti, dan autentik

Bagikan :
Subscribe
Notify of
guest
0 Komentar
Terlama
Terbaru Suara Banyak
Inline Feedbacks
View all comments