Tsunami Informasi Bagi Demokrasi Pers, Perlukah Dikhawatirkan?

JURNALPOSMEDIA.COM – Tidak ada media yang memaksa pembaca untuk membaca beritanya. Pembaca lah yang mempunyai kendali penuh atas pemilihan berita. Demikian penggalan argumen yang dilontarkan Agung Gumelar sebagai tim kontra pada diskusi bertajuk “Kami Percaya Tsunami Informasi Dapat Berdampak Buruk Bagi Demokrasi Pers”.

Kali ini bidang Intelektual dan Sosial (Insos) Hima Jurnalistik UIN Bandung hadir membawa warna baru dengan mengusung konsep pro – kontra. Dalam diskusi pada Kamis malam (27/5/2021), peserta terbagi menjadi dua kubu untuk memperdebatkan perihal tema yang diusung.

Adu argumen berlangsung sengit dengan kedua kubu yang bersikukuh terhadap keyakinannya. Virliya, dari tim pro melemparkan pernyataan ciamik. Ia menyebut bahwa selain pembaca, jurnalis juga punya tanggung jawab sebagai penyedia informasi bagi masyarakat.

“Memang, pembaca pun punya andil dalam pemilihan berita. Namun, jurnalis berperan sebagai pendidik, dan di sini peran media ialah sebagai pemenuh kebutuhan informasi masyarakat. Jadi jelas, jurnalis punya andil besar dalam setiap hal yang dipublikasikan ke masyarakat luas,” katanya.

Tak berhenti sampai situ, Agung segera menimpali pernyataan Virliya. Ia beranggapan bahwa percepatan informasi bukanlah hal yang harus ditakuti, justru disyukuri, karena merupakan bukti bahwa demokrasi Indonesia mengalami kemajuan.

“Tidak ada media yang memaksa pembaca untuk membaca beritanya. Pembaca punya kontrol penuh dalam pemilihan berita. Dari semua argumen yang dilempar, titik balik permasalahannya memang ada di pembaca, netizen sebagai pembaca media. Lagi-lagi soal filter. Pembaca, perlu diedukasi lagi agar dapat memahami bahan bacaan dengan tuntas, dan akhirnya dapat memberikan demand media berkualitas,” tegas Agung.

Hadir pula Asep Aang Hidayat—alumnus UIN Bandung, yang kini berprofesi sebagai Tim Publikasi & Humas di salah satu perguruan tinggi Kota Bandung— sebagai adjudicator diskusi. Ia turut mengundang beberapa orang dengan latar belakang beragam. Salah satunya pegawai media lokal kota Bandung, hingga peserta dari IAIN Surakarta, Jawa Tengah.

Diskusi pro-kontra berlangsung empat ronde, dengan total waktu berargumen selama 49 menit. Kemudian dilanjutkan penilaian oleh adjudicator.

Aang menutup perdebatan dengan mendefinisikan ulang soal mosi, juga menjelaskan bagaimana tsunami informasi dapat terjadi. Menurutnya tsunami informasi tidak terjadi begitu saja, rakyat sebagai pelaku demokrasi, punya andil tersendiri dalam fenomena ini.

Dalam ulasan Aang perihal jalannya diskusi, ia merasa cukup puas dengan argumen dari kubu pro dan kontra. Kedua kubu, lanjutnya, memiliki argumen yang berimbang dan berisi. Meskipun dari segi angka kehadiran pihak kontra kalah jumlah, tetapi tetap mampu mengimbangi argumentasi dari sisi pro, sehingga diskusi terus memanas hingga akhir.

Lebih jauh, Aang juga mengungkapkan betapa beruntungnya orang yang mempelajari jurnalistik dan mengenyam pendidikan literasi media, karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Setidaknya dengan literasi media, katanya, sudah membuat kita selangkah lebih bijak dalam menyikapi informasi.

“Kita sebagai calon jurnalis, diharapkan harus menjadi benteng terakhir dari tsunami informasi. Enggak harus untuk publik secara luas, tetapi minimal kita bisa memproteksi lingkaran sekitar kita. Secara sederhana, teman-teman harus biasakan saring sebelum sharing,” tandasnya.

Testimoni salah satu peserta dari UIN Bandung, Kamila Astralia menganggap bahasan diskusi mengandung atensi yang tinggi untuk diulik.

“Menarik ya karena pakai metode debat, jadinya enggak membosankan. Estimasinya tepat, mosi yang dibahas juga memiliki urgensi yang cukup tinggi untuk diulik, adjudicator-nya pun informatif dan solutif. Bahkan tadi, dua kubu pun membawa argumentasi yang logis dan sesuai sama realita yang ada,” pungkasnya.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.