Sat, 24 February 2024

Tradisi Beli Baju Baru saat Lebaran, Begini Sejarahnya

Reporter: Farsya Sabila | Redaktur: Zahra Pajriyanti A | Dibaca 239 kali

Sat, 22 April 2023
Ilustrasi by Pixabay

JURNALPOSMEDIA.COM – Setiap negara di belahan dunia dengan mayoritas masyarakat muslim memiliki ciri khas dan tradisi sendiri ketika merayakan hari raya Idulfitri. Di Indonesia sendiri, momen lebaran identik dengan salah satu tradisi yakni membeli baju baru.

Secara umum, tradisi memakai baju baru saat lebaran merupakan bentuk perayaan kemenangan setelah sebulan melewati perjalanan puasa di bulan Ramadan. Baju yang baru ini dianggap menjadi simbol kesucian dan kebersihan diri atas keberhasilan menahan hawa nafsu.

Namun, tahukah kamu bagaimana asal mula tradisi ini? Yuk, simak selengkapnya berikut ini.

Sejarah Tradisi Membeli Baju Lebaran

Jika menilik sejarahnya, tradisi membeli baju baru ini sudah ada sejak abad ke-20, lebih tepatnya semasa Indonesia masih di bawah kekuasaan Hindia Belanda. Hal ini tercatat pada surat yang ditulis penasihat urusan pribumi untuk pemerintah kolonial Belanda, Snouck Hurgronje kepada Direktur Pemerintahan Dalam Negeri 20 April 1904.

Surat-surat tersebut kemudian dibukukan dalam ‘Nasihat-Nasihat Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya di Pemerintah Hindia Belanda 1889–1939 Jilid IV’. Dalam suratnya, Snouck menjelaskan bagaimana cara masyarakat memperingati hari raya Idulfitri seperti memakan hidangan khusus, melakukan silaturahmi antar sanak saudara, membeli baju baru, dan lainnya.

Selain itu, Snouck dalam buku berjudul ‘Islam di Hindia Belanda’ menyebutkan bahwa tradisi mengenakan baju baru saat hari raya mirip dengan kebiasaan di Eropa saat merayakan tahun baru.

“Kebiasaan saling bertamu pada hari pertama bulan kesepuluh dengan mengenakan pakaian serba baru mengingatkan kita pada perayaan tahun baru Eropa,” terang Snouck.

Seiring berjalannya waktu, kebiasaan ini pun dikritik oleh dua pejabat kolonial di masa itu, yakni Steinmetz dari Residen Semarang dan De Wol pejabat Hindia Belanda. Mereka beranggapan bahwa tradisi membeli baju baru merupakan sumber bencana ekonomi, karena ada beberapa pihak yang diduga ‘memakan’ dana pemerintah untuk merayakannya.

Tak berhenti di situ, tradisi ini juga mengakibatkan kesenjangan sosial dengan rakyat. Pihak yang memanfaatkan momentum tersebut mengenakan pernak-pernik berlebihan seperti pantolan berbahan benang emas hingga sejumlah atribut khas Eropa. Hal ini berbeda dengan rakyat jelata yang justru hanya memiliki sedikit pilihan dalam membeli pakaian baru.

Melansir dari berbagai sumber lainnya, tradisi membeli baju lebaran sudah dimulai sejak tahun 1596 atau tepatnya pada masa Kesultanan Banten. Hal ini tercatat dalam buku ‘Sejarah Nasional Indonesia’ karya Marwati Djoened Pusponegoro dan Nugroho Notosusanto.

Namun sayangnya, di masa itu membeli baju bagus untuk dipakai saat Idulfitri hanya berlaku bagi kalangan kerajaan saja. Sementara rakyat biasa akan menjahit pakaian mereka sendiri.

Memasuki tahun 1900, rakyat biasa mulai memiliki hak untuk membeli baju baru saat lebaran. Dalam Harian De Locomotief, 30 Desember 1899, misalnya menggambarkan keadaan orang-orang yang mulai berpakaian Barat, mengikuti selera baju para polisi, kecuali kain penutup kepala.

Tradisi baju lebaran pun tak lagi hanya identik dengan peci dan sarung baru, tetapi ditambah dengan sepatu, celana panjang, dan topi khas Eropa. Kebebasan memilih mode pakaian ini berimbas pada pertumbuhan industri tekstil di Hindia Belanda.

Pada masa pendudukan Jepang, tradisi baju baru lebaran sedikit tertahan. Produksi besar-besaran untuk memenuhi keperluan militer Jepang dan hilangnya bahan pangan di pasar membuat rakyat digerakkan untuk kerja paksa bahkan sampai-sampai pakaian disita.

Hal tersebut diterangkan Thomas J. Lindblad dalam buku ‘Krisis Ekonomi dalam Sejarah Indonesia Abad ke-20’, termuat dalam ‘Dari Krisis ke Krisis: Masyarakat Indonesia Menghadapi Krisis Ekonomi Selama Abad 20’.

Selama masa ini, rakyat justru membeli barang dengan pakaian bekas sebagai pengganti uang dalam metode jual-beli. Ketika menjelang lebaran tiba, tidak orang yang mencari pakaian baru. Di hari raya Idulfitri mereka terpaksa mengenakan pakaian lama.

Keadaan perlahan normal kembali setelah Indonesia menyatakan kemerdekaan. Mulai saat itulah, tradisi membeli dan mengenakan baju baru saat lebaran terus berlanjut hingga saat ini.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments