Sun, 21 April 2024

Taman Baca dari Komunitas Selongsong Kertas

Reporter: Nasfati Sabrina | Redaktur: Nazmi Syahida | Dibaca 108 kali

Sun, 13 October 2019
Komunitas Selongsong Kertas membuka taman bacaan yang bertempat di Alun-Alun Ujung Berung, Sabtu (12/10/2019). (Nasfati Sabrina/Jurnalposmedia)

JURNALPOSMEDIA.COM-Guna menumbuhkan minat baca masyarakat, mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Bandung yang tergabung dalam Komunitas Selongsong Kertas membuka taman baca. Taman baca tersebut diadakan setiap Sabtu malam, bertempat di Alun-Alun Ujung Berung, Sabtu, (12/10/2019)

Salah satu anggota Selongsong Kertas, Asrorudin menyampaikan tujuan diadakannya taman baca ini. Ia menuturkan bahwa didirikannya taman baca ini untuk menumbuhkan minat baca pemuda. Selain itu, agar bisa bermanfaat bagi orang lain.

“Kadang ada orang yang ingin baca, tapi kehalang faktor ekonomi (tidak bisa beli buku, gapunya hp dll). Makanya kita membuka taman baca ini supaya memudahkan orang-orang yang ingin membaca,” tutur Asrorudin.

Ketua komunitas Selongsong Kertas, Ridwan Maulana menjelaskan makna dari Selongsong Kertas sendiri. Selongsong berarti tempat peluru pistol, peluru tersebut diibaratkan ide yang akan ditembakkan ke kertas. Lalu, ide tersebut diubah menjadi puisi.

“Berawal dari kegiatan rutin Ngapui (ngaji puisi) yang biasa kami lakukan. Muncul ide untuk membuka taman bacaan agar kegiatan kita tidak statis dan bisa bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Komunitas Selongsong Kertas ini sudah berdiri selama setahun. Taman baca ini dibuka mulai dari 5 sore hingga jam 10 malam. Mereka membolehkan siapa saja untuk membaca buku-buku yang tersedia di sana. Selain membaca langsung, komunitas ini juga menyediakan buku-buku yang ingin dipinjam pembaca. Catatannya, dengan jangka waktu pinjam selama satu minggu. Jika peminjam buku bisa membaca dan mengembalikan buku dengan tepat waktu, maka peminjam akan mendapatkan 1 buah buku komik.

Selain memiliki arti, Selongsong Kertas ini memiliki moto. Yakni, “Sekumpuluan daging yang sedang meraba menjadi manusia”. Artinya yaitu belajar bagaimana menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

“Kita tidak mau sebagai manusia hanya menjadi sekumpulan daging saja. Kita ingin menjadi manusia yang sesungguhnya dengan cara menjadi manusia yang bisa bermanfaat bagi orang lain walau masih dalam tahap belajar,” tutup Asrorudin.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments