Fri, 23 February 2024

Stop HOAX!

Reporter: Syfa Qulbi Anaslia | Redaktur: Riska Yunisyah Imilda | Dibaca 106 kali

Thu, 9 February 2017


Sumber: www.google.co.id

Maraknya berita palsu (HOAX) di Indonesia menjadi tantangan di era internet, semua orang bebas bersuara dan membagikan informasi tanpa melalui verifikasi. Biasanya berita palsu itu disebarkan melalui media sosial, situs online hingga beberapa aplikasi pesan instan seperti BBM, Line dan Whatsapp yang sering digunakan untuk chatting. Dari data terbaru yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian (hate speech). Tentunya hal tersebut menjadi tantangan juga bagi pemerintah serta Pers di Indonesia.

Melihat masyarakat Indonesia yang mudah percaya dengan berita palsu , hal tersebut sangatlah memprihatinkan. Dimana mereka yang seharusnya mendapatkan informasi berdasarkan fakta, malah di jejali dengan berita-berita palsu yang menyebar melalui media sosial. Tidak begitu sulit menyebarkan berita palsu melalui media sosial, dengan aplikasi-aplikasi yang semakin bermunculan. Indonesia sendiri merupakan negara teraktif yang menggunakan media sosial. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Menurut salah satu dosen Ilmu Komunikasi Jurnalistik, Enjang Muhaemin menuturkan bahwa pers Indonesia sedang menghadapi tantangan besar baik dari segi berita maupun bisnis. Banyaknya penyebaran berita palsu di Indonesia melalui media sosial disebabkan ketidakpuasaan masyarakat, dimana mereka menganggap bahwa media saat ini lebih memihak terhadap kepentingan politik sehingga publik menganggap media tidak peka terhadap kepentingan publik. Hal itu merupakan tantangan dari sisi berita. Sedangakan dari segi bisnis yaitu banyaknya berita produk masyarakat. Terutama bagi media cetak, karena saat ini iklan banyak tersebar di televisi serta online. “ Dari berbagai tantangan yang ada maka harus segera dilakukan intropeksi dan evaluasi terhadap indepedensi media agar pers tidak mati,” ujarnya saat diwawancari Jurnalposmedia, Kamis (09/02/2017).

Sehubungan dengan bertepatannya Hari Pers Nasional pada 9 Februari ini, mari kita mulai cerdas dalam memilih informasi. Dengan cara melihat sumber yang sudah terpercaya, jika sumbernya tidak jelas maka lakukan verifikasi terlebih dahulu. Hindari penyebarluasan berita karena bisa berakibat pada adu domba, fitnah bahkan perpecahan. Selain itu konten berita palsu (HOAX) dominan bersifat provokatif dan bombastik, sehingga harus berhati-hati saat membacanya. Serta kita harus kritis pada informasi yang disebarkan oleh siapapun.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments