Fri, 21 June 2024

Soekarno Dan Pemikiran Marxis

Reporter: Dini Fitrianti | Redaktur: Zaira Farah Diba | Dibaca 402 kali

Sat, 21 May 2016
Bonnie Setiawan (kiri), Dede Mulyanto (tengah), Kemal A. Hadi (Kanan), dan Firman/moderator (samping kanan) saat memaparkan diskusi yang bertemakan "Soekarno dan Perjuangan Kelas", di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Sabtu (21/05/2016). (Jurnalpos/Dini Fitrianti)
Bonnie Setiawan (kiri), Dede Mulyanto (tengah), Kemal A. Hadi (Kanan), dan Firman/moderator (samping kanan) saat memaparkan diskusi yang bertemakan "Soekarno dan Perjuangan Kelas", di Gedung Indonesia Menggugat Bandung, Sabtu (21/05/2016). (Jurnalpos/Dini Fitrianti)

JURNALPOS– Festival Indonesia Menggugat (FIM) menggelar diskusi terbuka dengan mengusung tema “Soekarno dan Perjuangan Kelas” di Gedung Indonesia Menggugat (GIM). Diskusi ini dihadiri oleh tiga pemateri, yakni Bonnie Setiawan, Dadan Mulyanto, dan Kemal A. Hadi,Sabtu (21/05/2016).

Bonnie memaparkan tentang Soekarno dan Pemikiran Marxismenis, menurutnya sejak tahun 1930 banyak risalah yang dibuat Soekarno dalam pidatonya, salah satunya mengenai kelas. Terjadi dua pembelahan kelas yang bertentangan dalam kapitalisme. 

 

“Kelas tersebut terbagi menjadi dua, kelas pemilik modal dan kelas yang tidak memiliki modal. Kelas yang memiliki modal adalah kelas dimana kaum kapitalis sebagai kaum yang menguasai produksi, dan kelas yang tidak memiliki modal merupakan kaum buruh yang bekerja untuk kaum kapitalis,”kata Bonnie.

 

Bonnie menuturkan, Soekarno, Marxisme, dan Komunisme mempunyai hubungan yang erat sekali. Hal ini menyebabkan Soekarno menjadi seseorang yang tersingkir, karena pahamnya yang menganut paham kiri. Dengan menyingkirkan Soekarno otomatis akan menyingkarkan pandangan marxisme. 

 

“Bangsa Indonesia jika kita rasakan dan kita perhatikan, mereka cenderung menganut paham kiri, termasuk dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang mana di dalamnya terdapat paham kiri,”tambahnya.

 

Bonnie menambahkan, Marxisme dan Indonesia mempunyai hubugan yang dekat bahkan Bung Karno tidak sekedar nasionalis saja, namun Bung Karno condong ke marxismme. Keotentikan marxisme dimana Soekarno mengamalkan ajaran marxisme ke dalam konteks di Indonesia, yang mana disesuaikan dengan konteks yang di ada di masyarakat itu sendiri. 

 

“Tidak seharusnya marxisme ditakuti, karena titik terendah peradaban itu ketika diskusi marxisme dilarang dan buku-buku yang di bredel”, kata Bonnie 

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments