Sat, 24 February 2024

Resilience, Kemampuan Bertahan di Tengah Guncangan Mental

Reporter: Salsabila Fitriyani/Kontributor | Redaktur: Annisa Azahra N | Dibaca 237 kali

Mon, 17 July 2023
Sumber Ilustrasi: unplash.com

JURNALPOSMEDIA.COM – Dalam beberapa tahun terakhir, pandangan masyarakat terhadap isu kesehatan mental telah mengalami banyak perubahan. Dengan berkembangnya teknologi dan semakin banyak informasi mengenai isu kesehatan mental, masyarakat menjadi lebih terbuka dan peka terhadap pentingnya untuk menjaga kesehatan mental yang dahulu dipandang sebagai kelemahan.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kesehatan mental merupakan hak asasi manusia di mana setiap individu memiliki hak untuk mendapatkan, merasakan serta menikmati kesehatan fisik dan mental yang optimal. Kesehatan mental merupakan sebuah komponen yang sangat penting dari kesehatan dan kesejahteraan, sebab dapat berpengaruh terhadap kemampuan individu ketika mengambil keputusan, membangun relasi/hubungan dan juga pembentukan karakter, serta pengembangan diri seseorang.

Akan tetapi, saat manusia dihadapkan pada kondisi yang tidak terduga, seperti contohnya patah hati, perceraian, terkena musibah, ditinggal orang terkasih untuk selama-lamanya, dan peristiwa lain sebagainya yang dapat berdampak pada kehidupan individu. Hal itu dapat menyebabkan seseorang menjadi cemas, gelisah dan ketakutan. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan untuk bertahan atau yang biasa disebut dengan resilience, agar kita dapat membangun kesehatan mental yang optimal.

Resilience merupakan kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, mengatasi, menghadapi dan pulih dari kesulitan, tantangan serta trauma yang dialaminya. Seorang individu yang memiliki tingkat resilience yang tinggi mampu untuk mengelola stres, tekanan dan juga kegagalan dengan baik.

Dalam teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow (1954) terdapat teori mengenai kebutuhan akan rasa aman yang meliputi keamanan secara fisik, mendapatkan perlindungan, stabilitas dan terbebas dari segala hal yang bersifat mengancam seperti terorisme, bahaya, kerusuhan, bencana alam, rasa takut dan kecemasan.

Kebutuhan tersebut kerap dianggap sebagai kebutuhan yang tidak penting. Padahal apabila kebutuhan akan rasa aman ini tidak terpenuhi, maka hal itu dapat memicu seseorang untuk mengalami kecemasan dasar (basic anxiety) Maslow (1970).

Saat seseorang mengalami kecemasan, ia harus bisa mengontrol dirinya agar tidak tenggelam dan hancur oleh pikirannya sendiri. Orang yang resilience cenderung mampu untuk menjaga sikap positif, memiliki kemampuan pemecahan masalah yang baik dan mampu mengatasi rasa putus asa yang dirasakannya. Mereka rata-rata mampu belajar dari pengalaman yang sulit, juga memiliki ketahanan mental dan emosional yang kuat.

Namun, perlu diingat bahwa kemampuan untuk bertahan ini bukan berarti menekan atau bahkan cenderung mengabaikan emosi negatif. Resilience sejatinya melibatkan pengakuan dan pengolahan emosi yang sulit, serta keberanian untuk mencari dukungan dari orang lain ketika dibutuhkan. Pentingnya melatih diri serta pengembangan dan dukungan untuk menjadi seorang resilience.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami masalah kesehatan mental, penting untuk mencari bantuan dari tenaga medis profesional seperti psikolog atau psikiater jika Anda tidak mampu untuk menghadapi kondisi yang sulit itu sendirian.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments