Fri, 23 February 2024

Pandangan Aktivis Sosok Wiji Thukul

Reporter: Ricky Fatria | Redaktur: Lisna | Dibaca 125 kali

Sun, 18 March 2018
Diskusi Film IKK, aktivis HAM Usman Hamid (tengah) memberikan pandangan saat diskusi film Istirahatlah Kata-Kata (IKK) di Gedung Indonesia Menggugat Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Sabtu (17/03/2018). Film IKK merupakan refleksi upaya rezim orde baru meredam aktivis oposisi pemerintah. (Jurnalposmedia/Ricky Fatria)

JURNALPOSMEDIA.COM— Diskusi film Istirahatlah Kata-Kata (IKK) menjadi acara puncak Bandung Menolak lupa dengan mendatangkan aktivis HAM dan pengamat film nasional. Film IKK merupakan gambaran nyata upaya meredam gerakan oposisi terhadap pemerintah orde baru saat itu.

Aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Usman Hamid menjelaskan bahwa, upaya meredam gerakan oposisi pemerintah zaman orde baru diantaranya, dengan menculik dan meneror keluarga aktivis radikal tujuannya agar penggerak massa bisa dihentikan upaya oposisi bisa digagalkan. Seperti Wiji Thukul salah seorang aktivis yang vokal mengkritik tentang pemerintah orde baru.

“Wiji Thukul itu penyair kampung, ia turun ke kampung-kampung membacakan syair di depan anak-anak dan masyarakat. Karena ia dipandang sebagai pengkritik pemerintah, ia diteror sampai akhirnya diculik tanpa jejak,” ungkapnya saat diskusi di Gedung Indonesia Menggugat, Sabtu (17/03/2018).

Sementara itu, Aktivis Sosial Herry Sutresna yang akrab disapa Ucok memiliki pengalaman tersendiri saat dirinya menjadi mahasiswa 1996 silam. Herry mengaku heran saat melihat sekelompok buruh melakukan aksi di depan Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Disana saya melihat buruh kok ada aksi di depan kampus, dan ada pamflet yang disebarkan saya tergerak ketika membaca pamflet yang isinya ada puisi Wiji Thukul, itu puisi pertama dia yang saya baca.” pungkas Herry yang sempat tergabung dalam aksi sosial pada 1997-1998 setelah tergerak melihat kondisi sosial pada saat itu.

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments