Nalla di Tengah Malam

Gadis kecil itu melangkah pelan disunyinya malam, derit lantai kayu melengking tiap kakinya menginjak dalam kehati-hatian. Usianya baru 5 tahun, harusnya kini ia berada di atas ranjang dan terlelap seperti anak baik sebagaimana yang ibunya selalu pesankan, tapi sayang, kantuk enggan menyapa.

Namanya Nalla, gadis kecil itu kini berdiri di ujung tangga menatap ke lantai bawah di mana ayah dan ibunya sempat bertengkar beberapa jam yang lalu. Rambut panjang berponi Nalla tertiup angin dari jendela yang terbuka, kaki mungil tanpa alas kaki melangkah menuruni tangga dengan tangan yang memeluk boneka kelinci kesayangannya.

“Ayah sama ibu lagi bobo yah?” tanya Nalla saat melihat kedua orang tuanya itu terlelap sambil berpelukan di atas sofa.

Nalla merenggut kesal, ia merasa kesepian.

Gadis kecil itu tersenyum usil lalu berlari kecil ke arah kamar ibunnya, pipi tembam Nalla bergetar tiap ia melompat-lompat riang. Tujuannya adalah meja rias yang penuh dengan aneka riasan yang Nalla sukai.

“Nalla mau pinjem lipstik ibu yah!” ucapnya seraya menggapai-gapai ke atas meja rias yang lebih tinggi sejengkal darinya. “Ah susah ambilnya,” runtuk Nalla.

“Mau aku bantu?”

Nalla menoleh kearah sumber suara itu, seorang anak laki-laki yang terlihat lebih tua satu tahun darinya menatap Nalla dengan dalam dan berdiri di ambang pintu kamar lalu tersenyum lemah.

“Kakak siapa? Nalla enggak kenal,”

“Aku mau jemput Nalla pulang,” ucap anak laki-laki itu.

Kening Nalla mengerut tak paham, “Inikan rumah Nalla, nanti kalau Nalla pergi, ayah sama ibu marahin Nalla,”

“Mereka enggak akan marahin Nalla lagi. Aku janji,” Anak laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Nalla nampak menimbang-nimbang, kedua tangannya memeluk erat boneka kelincinya.

“Nalla takut. Ayah sama ibu suka berantem terus, Nalla juga suka dimarahin kalau nangis, tuh liat kaki Nalla jadi biru dipukul ibu, katanya Nalla nakal,”

“Makanya ikut kakak saja, Nalla akan bahagia kalau ikut kakak,” perintahnya.

Nalla mengangguk dengan polos, ia meraih uluran tangan itu lalu berjalan berdampingan keluar dari kamar ibunya. Kedua anak itu melewati sofa tempat kedua orang tua Nalla terbaring berpelukan.

“Ibu … Nalla pergi dulu yah!”

Tangan Nalla melambai-lambai lalu kembali berjalan bersama anak laki-laki itu menuju pintu keluar.

Keesokan harinya, sebuah rumah mewah nampak dikelilingi mobil polisi dan ambulans yang membunyikan sirinenya dengan nyaring. Para wartawan berdatangan dengan kamera yang menyorot segala keramaian di lokasi. Nampak seorang reporter wanita berjalan kearah petugas ambulans yang tengah memasukan jasad yang telah di masukan ke kantung mayat ke dalam mobil.

“Maaf Pak, boleh saya tahu ini jasad siapa? Apa bapak tahu juga mengenai kejadian di rumah mewah ini?” tanya reporter wanita itu sambil bersiap dengan alat perekamnya.

“Aduh saya cuma kerja mindahin jenazah saja, tapi kalau enggak salah tadi kata polisi semalem sepertinya ada pertengkaran hebat antara suami istri penghuni rumah ini, katanya juga mereka berdua ditemukan sudah tewas di atas sofa dengan keadaan saling menusuk dada dengan pisau,” jelas petugas itu.

“Lalu kenapa kantung jenazahnya ada tiga, Pak?”

Petugas ambulans itu menghembuskan napas panjang lalu mengelus dadanya.

“Tadi saat polisi periksa salah satu kamar, ternyata ditemukan anak kecil umur 5 tahun di dalem lemari baju. Anaknya mati kehabisan napas,” jawabnya.

Reporter wanita itu nampak lemas lalu mengalihkan pandangannya pada ketiga kantung jenazah di dalam mobil ambulans itu.

Rekomendasi

Leave A Reply

Your email address will not be published.