Mudharabah Sebagai Alternatif Metode Perniagaan Masa Kini

JURNALPOSMEDIA.COM – Perekonomian yang semakin maju karena ditopang oleh perkembangan globalisasi membuat metode kegiatan perniagaan di masyarakat semakin berkembang. Seperti, adanya kredit usaha rakyat yang mendanai masyarakat agar menjalankan dan memulai suatu usaha.

Tetapi, hal itu bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat, karena di dalamnya terdapat bunga. Islam sejak zaman Nabi Muhammad Saw. telah memperkenalkan konsep dalam perniagaan yaitu menggunakan mudharabah.

Prinsip Mudharabah dalam Syariat Islam

Mudarabah adalah bentuk kerja sama antara dua pihak atau lebih, yaitu shohibul mal (pemilik modal) dan mudharib (pengelola usaha). Melalui akad mudarabah, dalam pembagian keuntungannya pihak pemberi modal dan pengelola harus menyetujui pembagian keuntungannya sesuai kesepakatan di awal.

Mengenai kerugian yang bisa terjadi, maka pihak pemilik modal yang akan menanggung kerugiannya sebesar seratus persen. Pertanyaannya, mengapa pemilik modal yang menanggung semua kerugian itu? Mengapa bukan pengelola usaha yang menanggungnya?

Hal itu disebabkan pengelola usaha bukan mengalami kerugian secara materi, tetapi kerugian dalam bentuk tenaga, waktu dan pikiran. Mudharabah memiliki kendala dalam menjalankan akad murabahah (perjanjian), yakni:

  • Adanya resiko yang cukup tinggi pada penerapan produk yang akan digunakan;
  • Banyaknya saingan terhadap produknya;
  • Nasabah belum siap dengan adanya akad mudharabah dalam prinsip bagi hasil dan resiko secara bersama-sama.

Meskipun demikian, mudharabah juga mempunyai motivasi untuk pihak pengelola agar mendapatkan hasil yang terbaik. Nilai yang digunakan dalam akad mudharabah adalah adil di antara pemilik modal dan pihak pengelola. Lalu, adanya rasa bertanggung jawab yang tinggi untuk mengambil resiko.

1. Jenis-Jenis Mudharabah

  • Mudharabah Mutlaqah. Di dalam akad ini, pemilik modal (shohibul mal) tidak menentukan jenis, tempat, waktu dan usaha. Pemilik modal memberi kebebasan bagi mudharib (pengelola dana) untuk mengelola kegiatan usahanya.
  • Mudharabah Muqayyadah. Di dalam akad ini, pemilik modal menentukan jenis, tempat dan waktu usaha. Pihak mudharib hanya sebagai pihak yang menjalankan usahanya.

2. Rukun Mudharabah

  • Pelaku, yang terdiri atas pemilik modal dan pengelola modal;
  • Objek tranksaksi kerja sama, yakni modal, jenis usaha, dan keuntungan;
  • Pelafalan perjainjian, shigah (syarat) yang di dalamnya terdapat ijab qabul antara pihak sohibul mal dan pihak mudarib.

3. Ketentuan Hukum Mudharabah

  • Mudharabah dapat dibatasi oleh periode tertentu;
  • Kontrak tidak boleh dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa depan yang belum tentu terjadi;
  • Tidak ada ganti rugi dalam mudharabah, karena akad ini pada dasarnya bersifat amanah. Kecuali, akibat dari kesalahan yang disengaja atau pelanggaran kesepakatan.
  • Jika salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya atau terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak. Maka, penyelesaiannya dilakukan melalui Badan Arbitrasi Syariah (Basyarnas) jika tidak terselesaikan melalui musyawarah.

Kerja sama akad mudharabah ini sebenarnya memprioritaskan unsur kepercayaan, saling jujur, dan kerelaan antara pemilik modal dan pengelola modal. Kesepakatannya juga tidak atas dasar keterpaksaan, di sini lebih mengedepankan unsur kekeluargaan, tetapi ada aturan-aturan bersama.

Keadilan dalam akad mudharabah ketika masing-masing kolaborator berbagi keuntungan dan risiko sesuai dengan bagian partisipasi mereka. Jika kerja sama itu menguntungkan, kedua belah pihak akan menikmati keuntungan secara proporsional.

Sebaliknya, jika upaya bersama tidak membuahkan hasil, masing-masing pihak akan dirugikan secara proporsional. Dari sudut pandang investor, risiko adalah hilangnya dana yang diinvestasikan. Dari mudharib, menerima risiko kehilangan tenaga dan pikiran saat mengelola modal.

Untuk saat ini, akad mudharabah banyak digunakan dalam bidang ekonomi karena tuntutan di masa pandemi. Dalam hal ini metode mudharabah mungkin tepat.

Dari segi pendanaan jelas kondusif bagi profit and loss sharing. Secara internal penyedia pendanaan lebih nyaman posisinya. Namun, harus siap dengan segala resiko. Dapat disimpulkan bahwa kewajaran akad mudharabah pemberi modal sangat jelas.

Pada saat ini implementasi pembiayaan mudharabah di tingkat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Para pelaku UMKM mengajukan kerja sama dengan lembaga keuangan syariah, yakni adanya bagi hasil antara shaibul mal dan mudharib.

Mengajukannnya pun harus memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan, agar dapat diterima oleh lembaga keuangan syariah.

Dalam praktik mudharabah perbankan syariah diawali dengan terjadinya penyertaan langsung antara pemilik modal dengan pengelola modal. Seiring perkembangan zaman, pendekatan ini berubah yang awalnya investasi langsung, sekarang dilakukan dengan cara tidak langsung. Pihak bank yang mempertemukan para pemilik modal dan pihak yang akan mengelola investasi.

Sistem mudharabah bank Islam memberikan keamanan dan kemakmuran bagi sistem perbankan. Sistem ini cocok untuk menghindari timbulnya bunga atau riba yang sangat tidak menguntungkan.

Bagaimana Menerapkan Mudarabah di Perbankan Syariah?

Mudharabah perbankan syariah biasanya muncul pada produk pendanaan dan pembiayaan. Di dalam produk penghimpunan dana, mudharabah diberlakukan pada tabungan berjangka dan deposito spesial. Maksud tabungan berjangka, yaitu tabungan yang digunakan untuk keperluan khusus, seperti tabungan haji.

Sedangkan deposito spesial adalah dana yang disimpan nasabah khusus untuk usaha tertentu, seperti murabahah atau ijarah (imbalan). Selain itu, produk pembiayaan mudharabah digunakan untuk pembiayaan modal kerja dan investasi khusus.

Produk pembiayaan modal kerja, seperti perdagangan dan jasa. Lalu, untuk investasi khusus disebut dengan muqqayadah. Di mana sumber dana khusus yang dialokasikan oleh shihabul mal atau syarat permohonan pemilik modal.

Dalam praktiknya, mudharabah dibagi menjadi dua jenis yakni, mudharabah mutlaqah dan mudharabah muqayyadah.

Mudharabah mutlaqah, bank tidak memiliki batasan penggunaan dana yang dihimpun. Nasabah tidak memberikan syarat apa pun kepada bank, untuk usaha dana yang disimpan akan dialokasikan kepada nasabah.

Sedangkan mudharabah muqayyadah adalah simpanan khusus (investasi terbatas). Di mana pemilik dana dapat menetapkan syarat-syarat yang harus dipatuhi oleh bank. Misalnya, wajib digunakan untuk bisnis bersama dengan kontrak tertentu.

Dalam rencana ini, dana simpanan khusus harus diberikan langsung kepada semua pihak yang diberi wewenang oleh pemilik dana. Bank membebankan komisi untuk layanan yang menghubungkan kedua pihak bersama-sama. Pada saat yang sama berlaku bagi hasil antara pemilik dana dan pelaku usaha.

Prinsip Wadi’ah dalam Perbankan Syariah

Sementara itu, ada pula prinsip yang dipakai dalam perbankan syariah yaitu wadi’ah (titipan). Prinsip yang diterapkan adalah wadi’ah yad dhamanah, berlaku untuk produk giro.

Wali amanat (bank) bertanggung jawab atas keutuhan simpanan agar bank dapat menggunakan simpanannya. Keuntungan dan kerugian dana yang dialihkan menjadi milik atau menjadi tanggungan bank. Pemilik dana tidak menjanjikan ganti rugi atau menanggung kerugian.

Bank dapat memberikan bonus kepada pemilik dana sebagai insentif untuk menarik dana publik. Tetapi, hal ini tidak dapat disepakati sebelumnya. Bank wajib menandatangani akad pembukaan rekening yang memuat izin untuk mengalokasikan dan menyimpan dana serta syarat yang disepakati.

Khusus untuk pemegang giro, bank dapat menyediakan buku cek, bilyet giro dan kartu debit.

Dalam produk pembiayaan mudharabah, pembiayaan investasi atau modal diberikan oleh bank sebagai shihabul mal. Sedangkan, nasabah menyediakan usaha sebagai mudharib dan mengatur jalannya usaha. Lalu, sesuai kesepakatan antara kedua belah pihak, keuntungan akan dibagikan dalam bentuk bagi hasil.

Kesimpulannya bahwa penerapan produk mudharabah di perbankan syariah diharapkan dapat membantu mereka yang mengalami kesulitan dalam berbisnis.

Meskipun pada kenyataannya, permintaan masyarakat terhadap produk mudharabah di perbankan syariah tidak banyak. Jadi saat ini perlu mensosialisasikan produk mudharabah agar menggugah minat masyarakat luas.

 

Penulis merupakan mahasiswa Prodi Akuntansi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang semeseter II 

Leave A Reply

Your email address will not be published.