Sun, 19 May 2024

Menyulap Karung Goni Menjadi Produk Ramah Lingkungan

Reporter: Ulfah Dalilah | Redaktur: Muhammad Fauzan P | Dibaca 306 kali

Sun, 28 April 2019
Produk olahan Rumah Karung Goni di Jalan Gagak No 8, Sukaluyu,

JURNALPOSMEDIA.COM—Kota Bandung memang telah dikenal dengan pemudanya yang kreatif. Seperti halnya Muhammad Fariz pemuda asal Bandung yang kini berhasil membuka toko usaha dengan berbahan dasar karung goni. Toko kerajinan ini terletak di Jalan Gagak No 8, Sukaluyu, Cibeunying Kaler, Kota Bandung. Toko tersebut biasa dikenal dengan Rumah Karung Goni.

Fariz mengungkapkan, usaha yang digelutinya ini dirintis sejak 2015. Mulanya ia hanya ikut menjual bahan dari pemasok atau supplier.

“Usaha ini berdiri sejak tahun 2015, awalnya mempunyai kenalan supplier bahan karung goni dan hanya ikut menjual bahannya saja. Perlahan ada yang minta dibuatin semacam pouch atau tas tetapi saat itu kami banyak menolak tidak bisa membuatkan.,” ujar Fariz.

Ia  menuturkan, kerajinan yang dibuatnya dari yang termudah terlebih dahulu dan bisa berkembang hingga saat ini.

“Setelah dipikir-pikir sayang sekali kita menolak rejeki, akhirnya kita coba lah membuat dari yang mudah terlebih dahulu hingga berkembang sampai sekarang,” katanya.

Terfokus pada bahan yang digunakan adalah karung goni, Fariz mengatakan bahwa alasannya memilih karung goni yaitu karena sangat ramah lingkungan. Hingga kini, Fariz masih tetap mencari produk apa lagi yang dapat  dibuat dan dikembangkan. Bahan baku yang digunakan bukan dari Indonesia, melainkan diimpor langsung dari India melalui importir.

Produk yang dihasilkan rumah karung goni dijual secara online. Di antaranya melalui Instagram, Tokopedia, Shopee  maupun website. Para pembeli juga dapat langsung datang ke toko kerajinanannya. Hasil barang yang diproduksi pertama kali dibuat yaitu totebag. Kemudian mulai mencoba membuat  sandal, sepatu, ransel dan merambah pembuatan lampu.

Faiz juga menjelaskan bahwa dalam pembuatan karung goni membutuhkan teknik dan penanganan secara khusus.

“Dalam teknis pembuatan kain atau karung goni memiliki treatment khusus. (Di antaranya) seperti menggunting kain lebih rapih. mengikuti pola garis karena bahannya sendiri yang kasar dan memiliki serat yang tidak lurus dan lubang-lubang terlalu besar,” ungkap Faiz.

Produk yang sudah jadi pun harus dibakar terlebih dahulu untuk menghilangkan serat-serat halus.

Setelah produk jadi juga harus dibakar produknya untuk menghilangkan serat-serat halusnya. Mungkin itu yang menjadi kendala karena bahan tidak bisa rapih dan tidak bisa mulus seperti bahan-bahan yang lainnya,” jelas Fariz.

Lebih lanjut, fariz menjelaskan masing-masing produk memiliki waktu pembuatan yang berbeda-beda. Seperti misalnya pouch dalam sehari bisa menghasilkan sampai 200 dan untuk ransel pengerjaan seminggu hanya mendapatkan 5 lusin. Sedangkan sepatu membutuhkan waktu dan jumlah yang sama dengan pembuatan ransel .

Pengrajin tetap Rumah Karung Goni terdapat 7 orang. Tetapi, akan ada pengrajin tambahan 4 hingga 5 orang jika pesanan sedang ramai. Proses pembuatan produk seperti menjahit bahan, sablon dilakukan di Jatihandap. Sementara proses jahit ransel dan sepatu di Cibaduyut serta pengrajin lampu di Dago Asri.

Rumah karung goni dapat memproduksi sesuai dengan permintaan konsumen dan kebutuhannya. Selain tas, pemesanan sepatu dari bahan kain goni juga dapat sesuai ukuran dan model pemesan. Penghasilan dari usaha karung goni ini bisa mencapai sekitar Rp.40 juta setiap bulannya.

Fariz menambahkan bahwa produknya juga berkolaborasi dengan pengrajin kayu.

“Seperti pembuatan lampu-lampu ini kita nebeng bahan dan sama-sama memasukan barang hingga menjadi satu produk lampu,” tambah Fariz.

Hingga saat ini Rumah Karung masih fokus dibahan bakunya. Sedangkan untuk pemasaran produk masih di dalam negeri. Hal tersebut dikarenakan masih ada beberapa kendala pada sistem. Tetapi lambat laun pastinya produk karung goni milik Fariz ini akan menembus pasar internasional untuk diekspor.

Harga produk Rumah Karung Goni berada di kisaran harga Rp 5.000 untuk pouch kecil, Rp 6.000 untuk harga pita, totebag sekitar Rp 30.000 – Rp 60.000, tas bagpack Rp 275.000 dan lampu tidur  Rp 250.000.

Menurut Fariz, karung goni memiliki tingkat ketahanan yang cukup baik dan masih mampu bersaing dengan barang-barang lainnya. Untuk sebuah totebag ketahanannya kuat hingga tahunan, namun untuk warnanya akan lebih tua seiring berjalannya waktu.

Tidak ada perawatan khusus untuk produk dari bahan karung goni ini.

“Perawatannya sama aja seperti bahan yang lain. Paling yang harus diperhatikan dari karung goni kalo kena air itu tidak langsung ngering,  khawatirnya bahan cepet lapuk. Kalau bisa ketika bahan kena air langsung cepet dikeringin,” katanya.

Ia berharap ingin lebih mengedukasi masyarakat bahwa penggunaan barang ramah lingkungan harus dipraktikan dengan menggunakan bahan yang dapat didaur ulang. Masyarakat juga harus mulai meninggalkan kantong plastik dan menggunakan tas saat berbelanja.

 

Bagikan :
guest
0 Komentar
Inline Feedbacks
View all comments